Obsesi Majikan Psychopath

Obsesi Majikan Psychopath
Pagi Yang Murung


🌺🌺


"Hei, ini aku, Mas Guntur mu, Sayang. aku pulang," Pria itu menyadarkan istrinya yang selalu meronta-ronta mendorong dada suaminya, menepuk-nepuk pipi tembem wanita itu


"Hentikan! anak kita bakal celaka kalau kamu gini terus." Ia menahan tangan sang istri, hingga Bulan terkesiap mendengarnya dan menatap lekat-lekat wajah yang terlihat remang-remang itu


"Guntur ..." Bulan tertegun mendengarnya, buru-buru ia mengambil ponsel dan menyoroti sinar cahaya layarnya kehadapan pria tersebut. seketika saja perasaannya lega, ini benar-benar suaminya yang tidak pernah ia duga datang kemari


"Jangan kaget lagi, aku suamimu." lirih Guntur, kembali membenamkan wajahnya diceruk leher itu, kemudian naik hingga menyentuh pipi dan bibir manis yang ia rindukan.


"Kenapa--kamu--eeeemmh ... bisa ada disini?"


Guntur menghentikan sejenak kegiatannya, kembali menatap wajah cantik rupawan yang hanya diterangi oleh lampu tidur tersebut


"Aku menyogok mereka, Sayang, agar bisa bertemu dengan kamu dan menjenguk anak kita."


"Ya ampun ... segitunya kamu!" Bulan tergelak, Guntur sangat menikmati wajah ceria dibawah kungkungannya


"Let's make love tonight?"


Bulan mengangguk mengiyakan, tanpa banyak kata lagi keduanya segera melucuti pakaian yang melekat ditubuh, hingga benar-benar polos tanpa balutan benang sedikit pun.


Guntur menjatuhkan tubuh Bulan diatas ranjang, membungkam mulut itu dengan bibir sensualnya yang malang. memagutnya dalam-dalam hingga menguasai rongga mulut yang terasa manis oleh lidahnya, penyatuan liar didalam sana saling melilit dan mengulum dengan rakusnya. lama tidak bersua, gairah hasrat kian menanjak dan kegiatan ini harus terselesaikan dengan penuh kepuasan diantara satu sama lain.


Guntur melepaskan pagutannya sejenak, kedua tangannya asyik membelai setiap lekuk tubuh Bulan yang tak pernah ia sentuh, sedang wajahnya terus menyapu setiap jengkal kulit yang terasa lembab. hingga bibirnya jatuh kepada dua gundukan yang terlihat lebih besar dari biasanya. Guntur memainkan pucuk bukit itu dengan gemas, memelintirnya bahkan menyesap sampai lenguhan panjang keluar dari mulut sang pemilik.


Sesuatu telah mengeras dari tadi, tidak boleh dianggurin terlalu lama, buru-buru ia masukkan ke dalam sarang sempit yang teramat ia rindukan


"Aaaakkh!!" erang Bulan, tubuhnya bergelinjang merasakan bagian bawah tubuhnya telah dipenuhi oleh sesuatu yang keras


"Aku mulai, semangati aku dengan suara erotismu, Sayang." bisik Guntur, kemudian mulai menggoyangkan pinggulnya dengan pelan, berangsur sedang hingga harus menuntunnya untuk semakin mempercepat ritmenya


***


"Kenapa cepat sekali baliknya? ini baru jam empat lho." rengek Bulan cemberut, gemercik suara air shower yang membentur lantai berhasil membangunkannya didalam keheningan malam, ternyata sang suami yang sudah membawanya ke surga dunia tengah membersihkan tubuh didalam sana.


Kini Guntur sedang berpakaian, pakaian tadi malam kembali ia kenakan.


"Bahaya kalau aku nggak balik, keadaan akan semakin riweh kalau aku udah nggak ada di kamar, Yang."


Bulan menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia masih sangat rindu kepada lelaki itu.


"Apa?" dengan suara lemah tak berdaya milik Bulan


"Bisa mintakan uang sepuluh juta kepada Papa? setelahnya antar ke Rehab."


"Untuk?" Bulan memicingkan mata


"Is, aku kan menyogok petugas, Yang. sekarang ponselku jadi jaminannya."


"Hmmm ... iya nanti ku sampaikan sama Papa. terus, sekarang mau pergi sama siapa?" tanya Bulan


"Anak buahku sudah menunggu diluar, kemarin aku suruh dia datang menjemputku pagi-pagi sekali."


"Hmmm, oh lah."


"Oh doang? jutek amat si bumil!" Guntur memencet bibir monyong milik sang istri, gemas sekali melihat raut wajahnya


"Gimana nggak jutek, kamu cepat banget perginya."


"Kapan-kapan aku pulang lagi, oke? aku pergi." Guntur langsung menyambar bibir manis itu, memagutnya dalam-dalam untuk beberapa detik yang teramat singkat. kemudian beralih mengecup perut buncit yang menggemaskan


Bulan mengekori langkah suaminya yang berjalan menuju pintu utama, dengan langkah malas dan hati yang berat untuk melepaskan, ia tetap mengantarkan kepergiannya sampai ke depan gerbang sekali pun.


Anak buah Guntur yang tidak terlibat oleh Polisi, telah menanti tepat didepan teras rumahnya. pria yang sedang duduk dianak tangga sembari mengisap putung rokok tersebut langsung bangkit berdiri setelah mendengar decitan pintu yang terbuka dari belakang tubuhnya. buru-buru ia jatuhkan putung rokok, kemudian ia pijak untuk memadamkan apinya.


"Eeemhh! kau merokok, ya!" tegur Guntur, melihat kepulan asap memenuhi udara dipagi buta yang masih gelap ini


"Hehehehe, maaf, Tuan. habisnya saya suntuk nunggu lama disini."


"Ck! kau bisa tidur sambil menunggu ku, kan? nggak mesti merokok juga dihalaman rumahku. jadi tercemar nih udara!" geram Guntur sembari mengibas tangannya ke udara


Pria itu jadi salah tingkah, hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Sudah, jangan dimarahin! kamu sudah mengganggu jam istirahat orang, sekarang malah memarahinya." lerai Bulan


"Masalahnya udara pagi sudah tercemar, Yang, tutup hidungmu! nggak baik kalau dedek sampai menghirup asap rokok ini."


Bulan memutar bola matanya sembari menuruti perintah sang suami, niat hati ingin melerai keributan, eh malah dirinya juga ikutan terkena getah atas omelan pria posesif ini.


🌺🌺🌺