Obsesi Majikan Psychopath

Obsesi Majikan Psychopath
Adik-Adiknya


🌺🌺🌺


"Mau begadang?" tanya Guntur dengan suaranya yang terdengar lemah. tubuh polos yang telah dipenuhi oleh keringat itu baru saja terbaring disamping sang istri. nafas keduanya pun menggebu-gebu, olahraga malam rupanya cukup menguras tenaga dengan sensasi nikmat yang diberikan


"Apa masih kuat, hm?" tanya Bulan menyeringai, pasalnya sudah hampir tiga jam mereka melakukannya dan kini waktu sudah hampir menunjukkan pukul dua belas malam


"Kamu menyepelekanku, hah? sampai pagi pun aku kuat, Sayang."


Tanpa aba-aba Guntur langsung mengungkung tubuh gembul Rembulan, aksi agresifnya tentu saja masih berhati-hati agar tidak menghimpit perut buncit itu.


Bulan melenguh merasakan miliknya kembali dihantam, goyangan suaminya berhasil membuatnya kembali melayang ke angkasa. rupanya lelaki ini tidak ada lelahnya walau nafas telah terengah-engah, namun kenikmatan ini terus menuntun syahwat untuk melanjutkannya.


Sembari tugas negara tengah bekerja dibawah sana, bibir nakal Guntur tak henti-hentinya menggerayangi setiap kulit mulus sang istri yang tampak mengkilap oleh bersatunya air tubuh mereka. menelusuri jenjang leher, lalu turun kebawah menikmati dua gundukan yang menggoda, tak lupa meninggalkan jejak kepemilikan dipermukaan sana. hingga Bulan bergelinjang merasakan sensasi geli di pucuk bukitnya yang berwarna merah muda itu, dipelintir lembut sengaja agar sang pemilik dapat menikmatinya dengan penuh penghayatan.


"Oh, Gun ..." desahnya


"Eeemmh!"


"Geli, Sayang."


"Itu yang ku inginkan, teruslah mendesah, Sayang. jangan ditahan." lirih Guntur, sesuatu dibawah sana tidak bisa diajak kompromi lagi, ritme sedang telah berubah menjadi lebih cepat dan sangat cepat untuk mencapai titik ******* yang sama-sama ingin mereka kejar dan mencapainya. hingga--beberapa detik kemudian, benih-benih milik Guntur mengumpal menjadi satu dan siap menyembur kantung rahim.


Akhirnya, rasa itu kian meledak. lava semeru yang terasa hangat telah berhasil menyembur deras menciptakan gelenyar indah oleh keduanya.


Sepasang suami istri yang saling merindukan ini saling melenguh panjang, Guntur menahan miliknya untuk tetap menyatu dengan milik Bulan, sedang bibir keduanya saling berpagutan dalam diam.


"Aku rindu banyak gaya, tapi tidak mungkin melakukannya sekarang." ucap Guntur


"Karena aku lagi hamil?"


"Ya, tentu saja. kasihan dedek kalau kita terlalu agresif mengguncangnya." Guntur cekikikan


"Dedek pasti kesal didalam sini, sudah banyak kali dia disembur oleh adik-adiknya." Bulan terkekeh bila membayangkannya


"Adik-adiknya?" Guntur mengernyitkan dahinya, heran


"Ya, kecebongmu itu adik-adiknya, kan? dedek juga berasal dari sana, tapi dia duluan yang berhasil masuk dan tumbuh menjadi manusia. berarti kecebong yang lainnya, adalah adik-adiknya."


"Eh, iya pula ya!" Guntur tertawa mendengarnya, kemudian ia bangkit dari atas tubuh Bulan, melepaskan miliknya dari sangkar hangat itu. ia turun, mengecup perut telanjang Bulan yang terlihat lebih besar dari biasanya.


"Adek udah gede aja, ya? pasti senang dijenguk Daddy, ya, kan?" ucapnya kepada perut itu


Bulan mengulum senyum sembari mengusap rambut basah suaminya


"Maafin Daddy ya, kalau jarang banget bersama kalian. Daddy sedang dalam perawatan supaya nanti kita bisa sama-sama dalam keadaan normal kayak Daddy yang lainnya." lirihnya lagi, terdengar haru oleh Bulan


"Cepat sehat, Daddy ... supaya kalau aku lahir, Daddylah laki-laki yang pertama kali aku pandang." sahut Bulan menirukan suara bayi


"Iya, Daddy janji akan menjadi lelaki yang pertama dipandanganmu, cup!" Guntur kembali mengecup perut buncit itu, mengelus-elus permukaannya dengan lembut seolah sedang menyentuh anak yang berkembang didalam sana


"Daddy-Daddy, aku pengen dijenguk lagi!" rengek Bulan khas suara anak balita


Guntur menggeleng-gelengkan kepala mendengarnya. "Dedek yang pengen atau kamu sih, Yang?" Guntur kembali bangkit mengurung tubuh Bulan


"Dua-duanya!" sontak saja Bulan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. ia merasa malu dan pasti kedua pipinya tengah merah merona


"Dasar!"


Dan pergumulan panas kembali terjadi untuk kesekian kalinya.


***


"Mereka belum pada bangun?" tanya Papa Perkasa kepada Clara


"Nggak tau, Pa. senyap keadaan didalam sana, mungkin masih tidur."


"Oalah, pasti perperangannya sampai begadang tuh." Papa menggeleng-gelengkan kepala


"Mungkin." seolah tahu apa maksud ayah tirinya, Clara menyahut sembari mengendikkan kedua bahunya. ia mulai meraih sandwich dan melahapnya dengan nikmat.


"Hus!!" Mama Anna melerai kegiatan putrinya


"Napa, Ma?"


"Nanti makannya, kakak-kakakmu belum turun."


"Sudah, biarin saja. nanti kalau lapar bakal makan. biarkan saja mereka tidur." sela Papa Perkasa


Dan mereka bertiga pun mulai menyantap sarapan pagi dengan penuh semangat


🌿


Bulan mengerjap-ngerjapkan kedua matanya kala para cacingnya sudah mulai nakal didalam sana. memberontak ingin diberi asupan makanan bergizi oleh sang empu, begitu pula dengan janinnya mungkin. Bulan bangkit dari tidurnya, ia mendudukkan tubuh sembari merenggangkan otot-ototnya yang dirasa kaku.


"Hoaaam! ah, sakit-sakit badanku, mana masih ngantuk lagi." gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur.


Bulan menoleh ke jendela, tampak hari yang sudah cerah dan terik. kemudian ia beralih menatap jam di dinding, seketika saja kedua matanya terbelalak memandang jarum jam itu.


"Ya ampun!"


🌺🌺🌺