Obsesi Majikan Psychopath

Obsesi Majikan Psychopath
Percintaan Diatas Hujan Deras


🌺🌺🌺


Bulan dan Guntur telah kembali ke kediamannya setelah dinyatakan Dokter boleh pulang. Bulan melangkah ke dapur ingin berbuat sesuatu, sedangkan Guntur menjatuhkan tubuhnya diatas sofa lalu menyalakan televisi. layar utama menampikkan berita hilangnya tiga model Indonesia secara mendadak tanpa diketahui jejaknya. Guntur terkesiap, bola matanya bergerak ke arah dapur seiring dengan tubuhnya menegang. guratan takut terbesit dibenaknya, sang Rapunzel yang ia tahan di sangkarnya bisa-bisa akan merintih ingin pulang untuk mencari salah satu korban yang hilang, yaitu kakaknya.


"Gawat! Bulan tidak boleh tahu tentang hal ini!" cepat-cepat Guntur mematikan layar televisi, niatnya yang ingin menonton kini ia urungkan demi kesejahteraan rakyat. dan saat itu pula lah Bulan kembali menghampirinya dengan membawa nampan yang berisi dua gelas teh jahe hangat untuk mereka berdua. untuk menghilangkan kegugupan, Guntur berpura-pura memijat pangkal hidungnya seolah tengah merasa pusing.


"Minum dulu biar anget," Bulan mengulurkan secangkir teh kepada Guntur. Guntur terenyuh, wanita ini sangat baik sekali walaupun terkadang ia bersikap kasar padanya. namun--entah bagaimana suatu saat nanti jika Bulan mengetahui aksi penyekapan kakaknya yang ia lakukan, mungkin tiada lagi perbuatan baik seperti ini ia dapatkan. Guntur harus lebih berhati-hati, ponsel gadis ini telah ia lenyapkan dan layar televisi tidak boleh lagi menyala. berita perihal selebriti tersebut pasti akan bertajuk panjang tanpa henti, nama dan wajah Mentari akan tersorot hingga menimbulkan kecurigaan atas dirinya.


"Hei! kenapa diam saja! pegal, tau!" dengus Bulan, lelaki ini malah terpaku menatapnya yang super cantik ini


"Kau manis sekali, aku jadi pangling." goda Guntur tersenyum-senyum


"Apaan sih." Bulan memutar bola matanya, tidak terpengaruh akan gombalan pria ini


Guntur menyesap tehnya pelan-pelan, kepulan asap tipis menguar ke udara. suasana yang tengah hujan deras diluar sana terasa nikmat disuguhkan dengan minuman hangat-hangat seperti ini. apalagi--jika di ruangan ini hanya ada kedua insan yang sedang butuh kehangatan, bisikan setan pun mulai beraksi untuk mempengaruhinya. benar saja, Guntur merapatkan bokongnya didekat Bulan, membisikkan sesuatu kepadanya.


"Making love, yuk?"


Pffffftttt!!


Sontak Bulan menyemburkan minuman yang yang sempat ia sesap ke udara, ia begitu terkejut mendengar ajakan pria gila ini. ia meliriknya, tatapan sensual mengarah padanya.


"Bulan datang bulan? macam mana pula itu." pikirnya


Bulan menatap aneh pada lelaki ini. "Pikir saja sendiri." ia mengendikkan bahunya


"Aku tidak terima penolakan! kau harus melakukan tugas sekarang ini juga." peringatnya, merebut secangkir teh yang dipegang Bulan lalu menaruhnya diatas meja


"A-aku nggak mau, kita belum nikah." Bulan menggeleng, ia bangkit berdiri ingin berlari. namun langkahnya terhenti tatkala Guntur langsung merengkuh tubuh itu dari belakang. kini Guntur tidak mempedulikan rasa perih ditangannya, ia sudah terbiasa dan rasa perih ini bukanlah yang pertama kalinya.


Bulan meronta ingin dilepaskan, tubuhnya bergeliat seperti cacing kepanasan. Guntur tidak membiarkan tawanannya lepas kali ini, rasanya sudah lama sekali ia tidak memanjakan juniornya. dengan sigap lelaki yang haus akan kegairahan ini mencumbui tengkuk leher mulus itu dengan sapuan bibirnya, mengulum kulit tipis yang mudah kemerahan sebagai tanda kepemilikan. kedua tangannya juga tak tinggal diam, menggenggam sepasang bukit kembar yang menggoda lalu meremasnya. Bulan melenguh, sesekali ia berdesah merasakan sensasi yang langsung menjalar ke dalam aliran darahnya. tubuhnya seketika memanas, naluri hasratnya menginginkan lebih. tak terkecuali Guntur, tubuhnya mengerang untuk melakukan hal yang lebih intim.


Guntur membalikkan badan Bulan untuk menghadapnya, menangkup kedua pipi sang gadis lalu membenamkan bibirnya di ranum seksi itu. Bulan membuka kelopak matanya, terpaku menatap kedua mata milik Guntur yang juga tengah menatapnya. ia kembali memejam, membalas ciuman memabukkan yang mendambakan ini.


Kini keduanya tiba di kamar milik Guntur, permainan inti segera dimulai setelah melakukan pemanasan. rintik hujan yang terlihat dari luar jendela menjadi saksi bisu atas percintaan mereka diatas ranjang. semakin memanas ditengah dinginnya udara, keduanya sudah sama-sama polos dan bersiap untuk memupuk benih berkualitas.


Bulan mengerang, inti tubuhnya terasa penuh dan sesak tatkala peluru raksasa itu telah terbenam didalam tubuhnya. jari jemari milik Bulan serempak meremat seprai ranjang dengan sekuat tenaga, tubuhnya naik turun seiring hujaman keras yang menghantamnya. ini terasa sakit tapi seketika berubah haluan menjadi kenikmatan terhakiki yang didambakan semua orang. Bulan terus mengeluarkan suara merdu erotis yang begitu syahdu, mendengarnya saja membuat si pujangga cinta semakin semangat untuk menguasainya. Guntur terus menghujam keras, kedua tangannya meremat bukit kembar yang menggoda, lalu membenamkan wajahnya diantara belahan.


Bulan tersenyum tipis, rasa geli diarea dadanya berhasil membuatnya melayang. anak bukit yang mungil berwarna merah muda itu dipelintir lembut dan meninggalkan sensasi yang begitu wah. ia tidak bisa berkata-kata, Guntur memberikannya banyak kenikmatan yang berkali lipat. hingga ******* yang dinanti menyembur deras didalam sana, keduanya melenguh merasakan pelepasan atas percintaan mereka.


🌺🌺🌺