
πΊπΊπΊ
"Ada apa sih, Yang? berisik pagi-pagi." Guntur menggeliat dengan suara serak khas bangun tidurnya, keningnya berkerut mendengar teriakan sang istri yang terdengar heboh pagi-pagi begini
"Itu!" Bulan menunjuk jam digital yang melekat pada dinding. Guntur menoleh ke arah yang ditunjukkan istrinya, "Sudah jam sebelas siang, Yang." sambungnya
"Oh, astaga ... hanya karna itu?"
Bulan mengangguk. "Pantasan aja perutku lapar," keluhnya
"Ya ampun! kasihan si dedek." Guntur menepuk jidatnya. "Aku ambilkan sarapan kita, ya? kamu mandilah," titahnya, Bulan mengangguk mengiyakan
Sebelum ke Dapur, Guntur terlebih dulu membasuh wajahnya, lalu kemudian ia melangkah keluar dari kamar menuju dapur untuk menyiapkan sarapan yang sudah telat untuk sang istri. bahkan bukan sarapan lagi namanya, tapi makan siang yang waktunya dimajukan.
"Bi, masih ada makanan, nggak?"
"Baru bangun, Tuan? maaf, Bibi nggak bangunin. kata Tuan besar, biarin saja." ucap Bibi yang sedang masak menu siang
"Sudahlah, nggak apa-apa. masih ada sisa sarapan tadi kan?"
"Masih, Tuan." Bibi membuka lemari kecil dibagian atas, menampikkan beberapa sandwich dan sebungkus roti tawar beserta selai coklat.
"Sudah, saya saja. Bibi buatkan susu dan kopi, nanti antar ke kamar saya, ya?"
"Baik, Tuan." turutnya
Guntur mengambil nampan lalu menaruh makanan sisa itu ke atasnya. tak lupa dua gelas air putih ia siapkan pula untuk membasahi tenggorokan yang dirasa sudah mengering. setelah selesai Guntur bergegas meninggalkan dapur dengan langkahnya yang cepat.
Jangan sampai anak dan istrinya kelaparan lebih lama lagi karna ulahnya
"Sayang, ayo buruan!"
"Iya, udah kok." Bulan baru keluar dari kamar mandi dengan wajahnya yang tampak segar dan cerah, tubuh polosnya yang tadi kini ia tutupi dengan handuk kimono
"Ayo kita sarapan." Guntur menata hidangan diatas meja balkon
"Makasih, Yang, aku nggak jadi mandi, mau makan dulu aja." ucap Bulan yang baru saja datang mendekati suaminya
Seketika otak mesum Guntur mulai bereaksi mendengar kalimat sang istri yang tidak jadi membersihkan tubuhnya.
Ia menyeringai.
"Sengaja ya, nggak mandi?" Guntur tersenyum sensual dengan sebelah alis terangkat ke atas
Bulan mengernyitkan dahinya. "Nggak juga. kan aku lapar, kalau mandi jadi kelamaan." ujarnya
"Hmm, bilang saja mau mandi bersama."
Bulan mendelik mendengarnya, "Apaan! mandi sendiri-sendiri!" gerutunya, langsung menyambar sandwich lalu memasukkannya ke dalam mulut
"Sok jaim kamu, Yang. bilang aja iya, pengen kan? tadi malam aja minta lagi." ungkitnya, membuat kedua pipi sang istri kembali memerah menahan malu
Sungguh konyol permintaan nalurinya yang menginginkan lebih, bahkan dirinya masih belum puas setelah digerayangi beberapa jam lamanya
"Itu kan tadi malam, sekarang kagak!" tukasnya
"Iya, tusuk sate pakai dagingnya, nggak akan nolak aku."
"Ditusuk rudal sampai kau kenikmatan, terus saja mendesah menahan enaknya."
"Anjir lah! omonganmu nggak ada filter, jadi malu aku sama readers." gerutu Bulan menutupi wajahnya, ia sungguh malu pada yang baca atas kekonyolan suaminya
"Hahahaha ... readers aja sampai basah membayangi malam kita."
Bulan mendengus kesal. "Baliklah sana! pulang-pulang langsung mojokkin aku." usir Bulan sembari mencebikkan bibirnya. ia kunyah cepat-cepat makanan yang sudah masuk ke dalam mulut
"Yeee ... ngambek." Guntur cekikikan, hingga mereka kembali dengan hidangan dihadapannya
***
Usai makan siang bersama keluarga di ruang makan, obrolan hangat pun tercipta setelah sekian lama dengan sedikit gurauan.
"Jadi--kok kamu bisa pulang, Gun? nggak kabur lagi, kan?" tanya Papa
"Ya enggak dong. Pengurus panti sedang adakan syukuran, jadi kami-kami nih bebas dari kegiatan apa pun. dari pada di kamar mulu mending aku pulang."
Papa Perkasa mengangguk paham
"Akhirnya bisa tersalurkan juga, kan, sampai kuat begadang dan akhirnya bangun kesiangan." sindir Papa
Bulan dan Guntur terhenyak mendengarnya, frontal sekali perkataan pria parubaya tersebut
Anak dan Bapak sama saja! terlalu frontal dan nggak pakai filter kalau ngomong. batin Bulan
Disisi lain Mama Anna dan Clara malah menepuk jidat bersamaan.
"Ya jelas dong, mengalahkan petinju yang cuma main beberapa ronde saja." ketusnya, Bulan semakin melotot mendengarnya
"Emang berapa ronde yang kalian mainkan?" Papa Perkasa menyeringai
"Ng---
"Ehem-ehem! para ladies, ayo kita pergi dari sini, mending kita nonton. film Gopi kesukaan Mama pasti sudah mulai," ajak Mama Anna, ia berdiri menarik tangan putri kandungnya. ia tidak ingin para kedua ladies ini menyimak lebih dalam obrolan yang tak bermutu itu
Bulan pun turut bangkit dan mengekori mertuanya.
"Ma, aku ke kamar aja, ya?"
"Nggak mau nonton bareng Mama?"
Bulan menggeleng, kemudian ia melangkah menuju tangga yang akan mengantarkannya ke lantai dua, dimana kamar itu berada.
Mama dan Clara memerhatikan wanita itu
"Mungkin Kakak malu, Ma."
πΊπΊπΊ