
πΊπΊπΊ
Bulan tertegun melihat sebuah ruangan yang berbeda dari sel tahanan lainnya, ada disebuah sisi terdapat beberapa kamar khusus, sepertinya untuk tahanan spesial. ia menatap Sipir yang sedang memasukkan batang kunci pada lubang pintu.
"Apa suami saya dikurung disini?" tanya Bulan
"Ya. masuklah! saya harap ini terakhir kalinya kamu tidur kemari!" tegasnya
Bulan menggeleng dengan cepat. "Saya mau disini selama suami saya dimari. kalau nggak boleh, jadikan aja saya narapidana seperti yang lainnya." Bulan mengacungkan lengan bawahnya, alih-alih bersedia diborgol oleh lelaki ini
"Perempuan aneh! mau masuk, atau saya seret pulang?"
"Masuklah!" Bulan langsung menyelonong masuk setelah pintu dibuka cukup lebar, menampilkan tubuh Guntur yang tengah terlelap diatas kasur tunggal
Sipir itu menggeleng-gelengkan kepala melihat kebucinan wanita ini, cinta yang begitu besar sampai rela untuk dijadikan tahanan demi bersama suaminya. terkadang terdengar lucu dan menggemaskan, terkadang merasa iba melihat kondisi sepasang suami istri muda ini yang harus terpisahkan oleh keadaan. apalagi--hampir seluruh Sipir mengetahui bila pria bernama Guntur itu mengalami gangguan kejiwaan yang mengharuskannya tinggal terpisah dari tahanan lainnya. sungguh betapa tulusnya cinta perempuan tersebut kepada suaminya walau ia tahu akan kondisi Guntur.
Bulan mengedarkan pandangan menatap ke sekeliling ruangan, ruangan kecil minimalis dengan fasilitas seadanya menjadi tempat tinggal untuk pria malang yang terlelap dalam tidurnya. hanya ada kasur, kipas angin, dispenser beserta galonnya dan lemari kecil. tiada fasilitas hiburan sekalipun seperti televisi, sungguh Bulan hanya bisa mengelus dada. tapi--setidaknya tempat ini lebih nyaman dan bersih dari pada di balik jeruji besi yang difasilitasi oleh karpet saja.
Bulan menaruh barang bawaannya dibawah lantai ditepi dinding, merebahkan bokongnya disamping Guntur yang tidak terganggu sedikit pun.
"Sayang, aku datang lagi. aku benar-benar nggak bisa tidur di rumah. bawaannya pengen bobo dibawah ketiakmu, lucu ya? hehehe, tapi begitulah ... pikiranku terus saja tertuju padamu. apakah kamu udah makan atau belum, apakah tidurmu nyaman disana, apakah penyakitmu kambuh lagi, selalu itu yang ada didalam otakku."
"Tapi sekarang aku lega melihatmu tidur nyaman seperti ini, ini adalah waktu tercepat jadwalmu tidur. biasanya setelah main baru bisa tidur, ups!" Bulan menutup mulutnya sambil cekikikan
"Ah sudahlah, aku juga ngantuk, dedek pasti udah bisa bobo didalam sana, kan? secara kita udah ditempat Daddy." racau Bulan kepada perutnya, sepertinya penyakit jiwa Guntur telah berpindah padanya, sampai meracau seorang diri tanpa ada yang menjadi pendengar.
Bulan merebahkan tubuhnya disamping sang suami yang tidur memunggungi, walau ruang untuknya sangat tipis dan sempit, sekiranya ia bisa tidur dalam posisi miring memeluk tubuh itu. tak mesti takut keluar jalur, bukannya jatuh dari ketinggian namun setengah tubuh lagi menyentuh lantai semen yang sejuk itu.
Bulan melingkari tangannya pada perut Guntur, panca penciumannya menghirup dalam-dalam aroma wangi rambut sang suami. tak lupa pula mengecupnya, sebagai tanda sayang yang tak pernah habis hanya untuk seorang Guntur.
***
Guntur tertegun melihat sang istri telah berada disisinya, ini bagaikan mimpi yang tidak berkesudahan. pasalnya ia baru saja memimpikan Bulan yang tengah membuat drama hingga berakhir seperti dirinya. rasa sesak dibawah sana sontak saja membubarkan alam mimpinya, menuntun Guntur untuk bangun demi membuang hajat yang menyiksa.
Plak!
Ia menampar pipinya sendiri, untuk menguji apakah ia masih berada dialam mimpi atau sudah kembali ke dunia nyata. dan ya, tamparan ini terasa sakit, ternyata ia sudah kembali ke dunia asalnya.
"Sayang, aku kira cuma dimimpi aja kamu berada disini, ternyata benaran. sejak kapan kamu kemari, kenapa aku bisa tidak tahu? aaaakh, aku ke kamar mandi dulu, ya?"
Guntur berlari terbirit-birit memasuki kamar mandi, hajatnya benar-benar tidak bisa ditahan agak sebentar saja. seketika ia merasa lega kala air berwarna kucing pucat telah menyembur deras seperti air pancur memasuki lubang saluran pembuangan air.
Setelah selesai ia kembali ke kamar, Guntur tertegun melihat sang istri tengah menguap dengan sepasang mata hampir terbuka. dan pada akhirnya netra itu terbuka sempurna kala melihat bayangan dirinya berdiri diambang pintu. Bulan bangkit duduk, ia tersenyum manis menyapa suaminya.
"Hai, Sayang. ngapain berdiri disitu?" antara sadar dan setengah sadar ia berkata
Guntur mendekat, mendudukkan tubuhnya dihadapan Bulan.
"Aku buang air, kamu tidur lagi, masih malam. geser ke sudut sana biar tidurmu nyaman." titah Guntur
Bukannya menurut, wanita itu malah mengucek kedua matanya. Bulan setengah melotot menatap suaminya, ternyata pria ini sudah bangun. sontak saja Bulan berhambur memeluk sang suami.
"Sayang, aku kangen lagi. eh, bukan! kami yang kangen. maaf ya, aku bobo disini, pasti kamu sempit nggak bisa bergerak." ucapnya dengan pandangan sayu
"Sssstt! bukan aku yang seperti itu, pasti kamu. ayo kita tidur lagi!" ajaknya
"Cium dulu!" Bulan memanyunkan bibirnya
πΊπΊπΊ