
πΊπΊπΊ
"Maya, Clara nggak bisa pergi sekarang, ada keluarganya bertamu nggak mungkin dia keluar." ketus Tante Anna dengan nada tak suka, menghampiri teman anaknya yang datang menjemput
"Oh, ya ampun, Clar! lo nggak bilang." gumam gadis yang masih betah dibelakang kemudi itu
"Tapi tu keluarganya bakal pergi juga, kan, Tan?"
"Nggak! mereka nginap."
"Hmm, baiklah. aku pergi, Tan." pamitnya, diangguki oleh Tante Anna hingga sorot pandangannya mengantar kepergian gadis bermobil Agya itu.
Tante Anna menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tidak suka dengan gadis tersebut tatkala selalu membawa Clara tiap malam dan pulang saat hampir menjelang subuh. entah apa yang mereka lakukan diluar sana sampai sang putri mendapati pengaruh buruk dari pergaulannya.
Tante Anna kembali masuk menghampiri calon suami dan anaknya, yang masih betah menunggu didalam sana.
"Maaf ya, Mas, Nak Guntur dan Nak Bulan, saya harus mengusir tuh anak." ucap Tante Anna, mendudukkan tubuhnya kembali diatas sofa
"Kenapa?" tanya Papa Perkasa
"Aku kurang respect sama dia, Mas." ujarnya dengan jujur
Guntur yang menjadi pendengar setia pun menoleh menatap istrinya. mereka saling pandang, "Pasti karna temannya, tuh anak punya sugar daddy." bisik Guntur
"Ssstt! tukang gosip, nanti aja gibahnya." gerutu Bulan berbisik, ia kembali menatap ke depan tampak Tante Anna tersenyum kepadanya seolah tengah memerhatikan lagak mereka yang sedang berbisikan.
Dan sejurus itu Clara pun tiba dengan membawa nampan berisi tiga gelas sirup ABC orange, membayangkannya saja sudah membuat kita ingin minum es sirup.
"Silakan." ucap gadis itu, menaruhnya dihadapan para tamu
"Duduk dulu, kamu sebagai anak harus ikut bergabung disini." Tante Anna menuntun tubuh putrinya menduduki sofa
"Tapi--
"Sudah pergi!" seloroh Tante Anna sebelum anaknya menyelesaikan kalimat. Clara berdecak kesal, padahal ia ada janjian dengan sugar daddy yang butuh belaian itu.
***
"Ah, aku merasa lelah di rumah orang itu." Guntur merenggangkan otot-ototnya yang kaku setibanya di Apartement
"Lelah ngapain, Pak? cuma duduk santai aja pun." cibir Bulan
"Lelah nengok kelakuan anaknya, bikin gedek." ujar lelaki tampan tersebut, menjatuhkan tubuhnya dengan kasar diatas sofa, ia berselonjor
Bulan yang sedang berada di dapur, memutar bola matanya. "Ya jangan dilihat anaknya atuh, Pak! mending lihat mamaknya." teriak Bulan, sembari mengambil air putih dan sendok untuk menikmati seblak di ruang tamu bersama suaminya
Guntur tertegun mendengar kalimat itu, seperti ada sesuatu yang ambigu ia rasakan. pria itu menegapkan tubuhnya, kedua tangannya membuka tutup box stairofoam sembari berkata. "Aku lebih senang lihat anaknya dari pada emaknya yang udah keriputan." sahut Guntur sambil cekikikan, hingga sosok itu datang menghentikan ledekannya
Bulan melangkah mendekat dengan sorot mata yang tajam. "Ya, anaknya cantik, kan? imut pula dan masih muda banget."
"Ya, tentu saja dia cantik dan masih bugar." Guntur menahan bibirnya agar tidak mengeluarkan tawa menggelegar yang sepertinya memang ingin ia lepaskan, tapi tidak untuk sekarang. ia begitu senang melihat raut wajah sang istri yang tampak mulai mengobarkan api cemburu
"Nih, makanlah!" Bulan menaruh dengan kasar, sendok dan segelas air putih untuk suaminya
"Pppffffftt!! cemburu, ya, Buk? hahahaha ..." ia tergelak terbahak-bahak, menatap istrinya yang memanyunkan bibir hingga sudut matanya mengeluarkan sedikit air mata tatkala terlalu kuat menertawakan gadis dihadapannya ini
Bulan menghembuskan nafasnya dengan kasar, kemudian menggeleng-gelengkan kepala melihat gilanya pria ini. siapa juga yang cemburu, pikir Bulan yang mulai melahap seblak dihadapannya. lagi pula ia tidak mungkin cemburu dengan calon adik untuk suaminya itu, toh kalau mereka menikah jelas tidak bisa jika kedua orang tua mereka telah menikah lebih dulu.
Pikiran macam apa ini, Ya Tuhan! edan! batin Bulan, mulai mencicipi kuah sirah yang menggoda ini
Guntur merasa lelah sendiri, ia mendengus melihat Bulan yang tidak bereaksi apa-apa dan malah mencuekinya. lagi pula--ia yakin bila wanita yang telah bersamanya tiga bulan ini mulai terbakar api cemburu. Guntur mengendikkan bahunya, ukiran senyum tidak pernah pudar dari sudut bibirnya, entah kenapa hatinya berbunga-bunga akan pikirannya yang masih menerka-nerka.
"Memang sudah gila, namanya juga orang gila mulai senyum sendiri."
"Entah apa yang disenyumkannya!" Bulan bergumam tanpa suara, hanya bibirnya saja yang bergerak tanpa mengeluarkan suara.
Sepasang insan yang sibuk berkutat dengan pikirannya masing-masing ini pun menikmati seblak, makanan kekinian jaman anak milenial yang lagi hits, dalam ketenangan tanpa sepatah kata pun.
πΊπΊπΊ