
πΊπΊπΊ
Selain Psikiater, Psikolog, Pemuka agama, terdapat juga puluhan Security yang bertugas menjaga tempat ini secara ketat. tentu saja para pasien dilarang keras untuk keluar dari area pelataran gedung bertingkat dua yang luas ini. hanya saja para kerabat yang boleh bertandang untuk sekedar membesuk di sebuah ruangan yang telah disediakan.
Guntur tidak merasa bosan berada disini, penjagaan ketat bukanlah masalah baginya. justru ia suka tinggal disini demi penyembuhan yang matang, yang akan berdampak baik dikehidupan masa depannya.
Guntur mengedarkan pandangan menatap ke sekeliling, menatap jam di layar ponsel yang sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, dan telah dipastikan seluruh penghuni gedung ini telah terlelap dengan begitu cepatnya.
Guntur mempercepatkan langkah, menghampiri pintu utama yang terdapat satu orang penjaga telah bertugas.
"Pak." panggilnya dengan pelan, yang dipanggil sontak terkejut dan langsung menoleh ke arah Guntur.
"Kau, kenapa masih kelayapan! tidur sana!" usirnya
"Sssstt! Bapak mau uang, nggak?"
Pak Security mengernyitkan dahinya
"Is! saya akan berikan sepuluh juta kepada Bapak, ini deh jaminannya. harga ponsel saya saja mahal banget, bisalah untuk jaminan. saya ingin pulang cuma satu malam ini saja." Ia mulai menyogok
"Apa-apaan kau ini, lebih baik tidur jangan berulah."
Yeeee, keras kepala! nggak mau uang, apa! batin Guntur
"Ayolah, Pak ... istri saya sedang mengandung dan sekarang tidak bisa tidur karena merindukan saya. gimana coba perasaan Bapak jika ada diposisi saya, selama istri mengandung benih kita, kita malah nggak ada menemani hari-harinya. saya sedih, Pak ... terkadang dia mengidam dan kita sebagai suami tak dapat memenuhi keinginan anak kita."
Guntur mulai mengeluarkan air mata buayanya, berakting adalah cara jitu saat ini. siapa suruh disogok sepuluh juta malah tidak mau, membuatnya harus bekerja ekstra dalam menundukkan pria parubaya itu.
"Hanya satu malam ini, Pak. besok subuh saya balik lagi deh." pintanya bermohon
Lirikan mata Guntur mengarah ke depan, tepatnya diluar gerbang. salah satu anak buahnya sudah menanti diseberang sana, tentu saja Guntur tahu setelah membaca pesan masuk dilayar ponselnya.
"Sepuluh juta lho, Pak. uang gede masa nggak mau sih, Pak."
"Ah, baiklah-baiklah! kemarikan ponselmu!" pintanya
"Yes! i'm coming baby!" Ia kegirangan, dengan senang hati Guntur memberikan ponselnya kepada penjaga tersebut.
Keduanya pun melangkahkan kaki menuju gerbang sembari melihat keadaan sekitar yang tampak sepi. Guntur melambaikan tangan kepada petugas Security tersebut, langsung memasuki mobil yang dibawa oleh salah seorang anak buahnya. hingga mobil melesat dengan cepat dalam kecepatan laju yang cukup tinggi.
Guntur tertegun memandang rumah megah yang sejak kecil ia singgahi, dan sebentar lagi anak pertamanya yang akan menempati kediaman tersebut. Guntur mengulum senyum, bayangan sesosok bayi mungil akan menangis kencang meramaikan suasana sepi ditempat luas tersebut.
"Aku janji akan cepat-cepat pulang ke rumah ini, untuk sementara waktu aku menginap dulu agak semalam." gumamnya, ia bergegas turun dari mobil
Guntur melangkah mendekati gerbang, sontak saja seorang penjaga yang melihat bayangannya terkesiap dengan sosok yang datang. Guntur dihampiri dan penjaga tersebut tercengang melihat sosok Tuan mudanya
"Tuan, kok--
"Sssstt! bukain gerbangnya!" titah Guntur, penjaganya mengangguk menuruti
"Kau ada kunci serap, kan? bukakan pintu utama." titah Guntur, pria itu kembali mengangguk
Mereka pun melangkah menuju pintu utama kediaman tersebut.
***
"Sayang, kamu sudah tidur'kah?" Guntur membelai anak rambut milik Bulan yang telah terlelap lebih dulu
"Aku sudah pulang, kamu nggak rindu sama aku?" lirihnya lagi, tangannya beralih menyentuh paha mulus sang istri, menyingkap daster bagian bawahnya ke atas seiring dengan sentuhan lembut menjalar dikulit paha milik Bulan. hingga sesuatu yang ia rindukan, dapat ia sentuh dengan gemas.
"Eeemmh ... Guntur." desah Bulan mengigau, tubuhnya bergeliat hingga berhadapan dengan tubuh sang suami
"Yeaaah! aku disini, Sayang." tanpa banyak basa-basi pria tersebut langsung menaiki tubuh Bulan, mengurungnya dalam kungkungan tubuh kekar tersebut dan segera menenggelamkan wajahnya diceruk leher mulus milik sang istri.
Guntur bermain disana, menyapu kulit leher itu dengan lidahnya, menyesap, tak lupa meninggalkan tanda kepemilikan.
Bulan mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, tidurnya terasa terusik oleh sesuatu yang berhasil membuatnya mengeluarkan suara *******. gairah hasratnya pun kembali menanjak ketika rasa ini sudah tak pernah lagi ia rasakan.
Bulan mengerang, segera ia kumpulkan kesadarannya yang sempat terburai. mengangkat sedikit badannya untuk melihat aktivitas apa yang terjadi dibawah sana.
Kedua matanya terbelalak, seseorang tengah menggerayangi tubuhnya.
"Siapa kau! pergi!"
πΊπΊπΊ