Obsesi Majikan Psychopath

Obsesi Majikan Psychopath
Jenguk Dedek


🌺🌺🌺


"Kamu betah sekali memelukku, emang nggak bau, apa?" ucap Guntur, menghirup dalam-dalam aroma rambut sang istri yang begitu ia rindukan


Bulan menggeleng. "Nggak, kapan lagi aku bisa mencium aromamu yang bau ini, aku bakal rindu." lirih Bulan


Guntur mengulum senyum. kemudian lirikan matanya beralih menatap pakaian formal yang dikenakan Bulan, tidak seperti biasanya wanita ini berpakaian layaknya orang bekerja di perkantoran. Ia mengernyit heran, melonggarkan pelukan mereka lalu menatap wajah cantik sang istri yang dibaluri makeup.


"Kamu dari mana? kerja?" Guntur mulai menginstrupsi


Bulan menelan salivanya dengan kasar, tidak mungkin ia berkata jujur perihal menggantikan Papa Perkasa dalam memimpin rapat. tidak mungkin pula ia memberitahukan kepadanya bila Papa masuk rumah sakit karena terkena serangan jantung. pasti pria ini akan merasa bersalah dan kembali mengamuk karenanya.


Sial sekali! kenapa aku nggak ganti baju dulu, umpat Bulan membatin


"Papa sedang kurang enak badan, jadi Papa menyuruhku untuk menemani Assisten Dika mengunjungi salah satu proyeknya. kamu tau kan, aku sudah berpengalaman perihal pekerjaan ini." jelas Bulan dengan penuh keyakinan, jangan sampai pria ini malah tidak percaya dan menimbulkan kecurigaan padanya


"Hmmmm." Guntur bergumam


"Apa salahnya pria itu aja yang pergi, kenapa pula ajak-ajak istriku!" cibirnya kesal, Bulan cengengesan melihat raut wajah lelaki ini


"Kamu cemburu, ya? hahahaha ..."


"Bukan! mana mungkin aku cemburu. kamu kan lagi hamil, seharusnya banyak istirahat."


Seketika tawa Bulan menyurut, bibir pun berubah jadi manyun mendengar itu. "Cih! bilang aja cemburu."


"Tenang ajalah, cuma sekali ini. ayo kita makan siang, aku beli nasi Padang. si dedek katanya pengen, apalagi makannya sama Daddy." seloroh Bulan sembari tersenyum, memgambil kantung kresek yang berisi dua bungkus nasi padang dari atas nakas


"Aaah, kau benar-benar istri pengertian." Guntur merasa gembira, ia turun dari ranjang dan beralih mendudukkan tubuhnya diatas lantai, sebab tidak ada sofa disekitarnya. begitu pun Bulan yang mengikuti suaminya, makan akan terasa lebih indah bila duduk berlesehan sambil berhadapan dengan dua bungkus nasi yang sudah terbentang dihadapan mereka. sontak aroma khasnya langsung menguar ke udara, semakin menambah rasa lapar yang tak tertahankan kala melihat aneka lauk yang telah tercampur dengan nasinya.


"Cuci tangan dulu, sana!" titah Bulan menepuk punggung tangan Guntur kala bersiap menyambar makanan menggoda ini


Guntur cengengesan, ia bangkit berdiri dan melangkah menuju kamar mandi.


Kini sepasang insan yang tengah diuji oleh jarak dan waktu, diberi kesempatan untuk menikmati kebersamaan yang teramat singkat. makan bersama seperti biasanya adalah waktu luang untuk keduanya bisa bertemu kembali. entah sampai kapan ini berlangsung, Bulan merasa enggan bila melihat suaminya kembali diseret memasuki sel tahanan.


"Kamu tau gak, kalau penyakitku ini akan membawaku keluar dari sel?" Guntur mencoba membuka obrolan setelah keadaan cukup hening


Bulan berpikir sejenak, ia baru teringat bila tahanan yang memiliki gangguan mental tidak bisa ditindak pidana.


"Kamu berdoa aja semoga aku nggak lama berada disini. tapi ya--palingan aku dibawa ke tempat rehabilitasi."


"Tidak apa. toh disana kamu bakal bisa sembuh dan kita bisa bersama lagi." Bulan merasa gembira, ia bisa bernafas lega jika Guntur dapat terbebaskan dari tempat ini.


Gadis itu mencondongkan tubuhnya, langsung menyodorkan bibirnya mengecup belahan kenyal milik sang suami. Guntur tertegun, menghentikan kunyahannya. sedangkan Bulan merasa malu, pipinya merah merona membuatnya jadi salah tingkah. bagaimana tidak, hal itu bagaikan ada angin segar yang menghembus tubuhnya.


"Nakal! awas nanti!" Guntur menyeringai


Bulan mengulum bibirnya rapat-rapat. "Emang mau lakuin apa sampai ngancam awas nanti!"


"Jenguk dedek." Guntur mengerlingkan sebelah matanya


Bulan terbelalak, ternyata pikiran mesum pria ini masih nyangkut diotaknya. bisa-bisanya menginginkan hal itu disaat dalam kondisi seperti ini.


"Nggak usah kaget. kamu juga mau, kan?" godanya


"Apaan sih!" Bulan memutar bola mata, menggigit kecil bibir mungilnya.


Bulan memegang perutnya yang dirasa sudah membuncit akibat banyaknya porsi nasi yang masuk ke dalam lambungnya. ia merasa perutnya begah, membuatnya sulit bangkit dari duduknya kini. gadis itu bersandar pada body nakas, berusaha menetralisirkan pernafasannya yang terasa sesak akibat kekenyangan. bagaimana tidak begah, satu bungkus nasi padang memiliki porsi nasi yang teramat banyak. belum lagi lauknya yang super duper nggak pakai pelit, membuat konsumen merasa puas menikmatinya namun juga kekenyangan tingkat akut setelahnya.


Saking inginnya makan nasi padang, tidak terpikirkan olehnya makan satu berdua dengan sang suami


"Kenyang, buk?" ledek Guntur, mengecup-ngecup perut sang istri yang membuncit


Bulan mengangguk. "Kenyang banget."


"Kamu lucu seperti ini, seperti orang yang mau melahirkan saja." pria itu tergelak, kembali mengecup perut sang istri. namun ia belum merasa puas bila mengecupnya dari balik baju, Guntur menyingkap blouse yang dikenakan Bulan, menaikkannya hingga keatas perut dan terpampanglah kulit telanjang yang belum pernah ia jamah selama beberapa jam terakhir ini. Guntur tertegun, ingin sekali ia menghajar wanita ini dalam keadaan yang begitu mendukungnya


"Ma-ma-mau apa?" Bulan waspada


Guntur mendongak menatapnya, ia menyeringai membuat bulu kudu sang istri merinding.


🌺🌺🌺


Cuma mau kecup dedek kok, siap tuh dijenguk πŸ˜…πŸ˜