Obsesi Majikan Psychopath

Obsesi Majikan Psychopath
Kegelisahan Dan Ketakutan


🌺🌺🌺


Hari menjelang sore telah tiba , sudah cukup lama ia berada ditempat ini untuk sekedar menyapa dan bermain dengan seluruh para tawanannya. Guntur bergegas keluar dari dalam ruang bawah tanah ini, mengingat sudah ada seseorang yang menjemputnya diluar sana. Guntur akan minta antar jemput ke tempat tersebut jika saja ia ingin berlama-lama disana. dari pada kendaraannya berdiam diri diluar, bisa bahaya jika saja sesuatu yang buruk akan terjadi. misalnya para Polisi menemui kendaraan tersebut.


Guntur termenung memikirkan keinginan sang istri yang butuh hiburan dikediaman mereka. jika ia membelikan ponsel pasti deretan berita itu akan muncul ke layar ponselnya. Guntur tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Bulan jika mengetahuinya, pasti wanita itu akan menuduhnya yang sudah berbuat hal seperti itu. ya, sebab Bulan tahu dirinya sosok seperti apa. dan Bulan tahu ia memiliki tawanan yang cukup banyak diluar sana.


"Tidak-tidak! jangan sampai Bulan tahu!" Guntur mulai gelisah, ia cengkram alat kemudi itu kuat-kuat hingga menampikkan urat-urat tangannya


"Apa yang harus ku lakukan?"


Ciiiiiiittttt .........


Sontak saja Guntur menginjak rem secara mendadak hingga kendaraan yang ia bawa perlahan berhenti dan menimbulkan suara decitan pada ban yang bergesek terlalu keras dengan aspal. untung saja keadaan jalan sedang sepi kala itu. Guntur merogoh botol obat yang ia simpan didalam dashboard dan juga sebotol air mineral, mengambil beberapa butir sesuai dosis lalu meminumnya dengan cepat. obat penenang, agar dirinya bisa tenang dan berpikir jernih.


"Aku nggak mau kehilangan Bulan, aku nggak mau dipenjara, aku nggak mau Bulan pergi dari sisiku, apa yang harus ku lakukan? aku sudah berjanji untuk membelikannya dua benda itu. ya ampun!!" Guntur mengusap wajahnya dengan kasar, ia benar-benar frustasi dan bingung. andai Bulan tidak tahu tentang kejahatannya, tentang pekerjaannya, mungkin ia tidak perlu terlalu takut seperti ini.


Memori ditinggalkan sudah terukir diotaknya, rasanya itu sangat menyesakkan dada dan untuk kali ini Guntur tidak ingin sang istri yang meninggalkannya. tiba-tiba Guntur berhalusinasi membayangkan amarah Bulan padanya, mengangkut koper dan bahkan mungkin memberikan surat perceraian. apalagi jika ia datang bersama Polisi untuk menangkapnya, tidak bisa dibayangkan akan hal itu terjadi.


"Tidaaaak!! jangan sampai, hiks hiks hiks."


***


"Sayang!! aku pulang!!" teriak Guntur dengan suara menggema memenuhi ruangan yang sepi bagaikan tiada kehidupan didalam sana


Guntur mengedarkan pandangannya menatap sekeliling, ia menaruh benda yang ia bawa diatas sofa dan mulai mencari istrinya di dapur, ruang laundry, tempat renang, namun tidak ia temui. Guntur menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, jangan sampai kegelisahan menyelimuti hatinya. ia harus tenang dan Bulan tidak mungkin pergi darinya.


Dengan langkah yang cepat Guntur menaiki tangga, berharap sang istri ada di kamar mereka.


Ceklek


Guntur melangkahkan kaki secara perlahan ingin mendekatinya, wajahnya teramat cantik jika sedang tidur begini. Guntur membungkukkan tubuhnya ingin menatap lekat wajah cantik tersebut.


"Aku pulang, Sayang."


Cup


Guntur mengecup dahi sang istri dengan penuh cinta. ia tersenyum, tangannya terulurkan untuk menyelipkan anak rambut ke belakang telinga supaya bisa lebih intens memandang wajah terlelap ini.


"Kamu pasti capek banget ya setelah bekerja membereskan tempat tinggal kita? maaf, ya ... kalau awalnya aku menjadikanmu pembantuku." Guntur menatap sendu, ia merasa iba pada gadis ini


Aku janji akan menjadikan kamu ratu ditempat ini, tapi maafkan aku belum bisa membelikan ponsel. batin Guntur bermonolog


Guntur bangkit berdiri ingin membersihkan tubuhnya yang sudah bau dengan banyaknya pelu memenuhi kulitnya. mengingat di Markas tidak ada Ac, melainkan hanya kipas angin saja yang mampu menyejukkan tubuh mereka.


Guntur merangkak menaiki ranjang setelah selesai berpakaian rumahan. ia mendekati Bulan yang masih pulas terlelap. entah apa yang membuat tidurnya berlangsung lama, apakah Bulan sedang bermimpi indah hingga tidak terganggu setelah kedatangannya? ya, mungkin saja perempuan itu sedang bermimpi, bermimpi adalah sesuatu yang indah dari pada menghadapi kehidupan yang nyata ini.


Guntur menjengit jika saja Bulan lebih nyaman dengan mimpinya daripada menghadapi dunia nyata. sungguh memilukan kehidupan wanita ini hingga lebih betah dengan alam mimpi. Guntur melingkarkan tangannya diperut Bulan, mengelus-elus perut datar wanita itu untuk sekedar ingin mengganggunya.


"Kapan kamu bangun, Sayang?" bisik Guntur, menghirup dalam-dalam aroma rambut sang istri yang begitu wangi. sungguh ia candu dengan apa yang ada ditubuh istrinya.


"Udah sore, tau! udah jam--hoaaaaam!!" Guntur menguap, ia jadi ikutan ngantuk kalau dikacangin seperti ini.


Guntur mengerjap-ngerjapkan matanya yang mulai terasa perih dan sayu. lama diluar tanpa istirahat juga membuatnya menjadi ngantuk yang tak tertahankan. Guntur semakin mengeratkan pelukannya dengan Bulan, menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher wanita ini. hingga pria itu juga ikut terlelap didekapan sang istri.


"Kak ... Mentari ...."


🌺🌺🌺