
πΊπΊπΊ
"Aih, sakit, tau!" desis Bulan menjauhkan tangan nakal suaminya dari pangkal hidung
"Habisnya aku geram sama kamu!" sontak Guntur merengkuh tubuh istrinya, menggapai pinggang Bulan kemudian ia tarik hingga membentur tubuhnya.
Bulan terhenyak, jantungnya berpacu dengan begitu cepat saat tubuhnya menyatu membentur badan kekar sang suami. kedua tangannya merangkul pundak Guntur dengan kuat seolah takut jatuh dari ketinggian. jarak mereka benar-benar sangat dekat, wajah keduanya hampir tak berjarak kala Guntur menunduk menatap matanya. Bulan mengerjap-ngerjapkan mata seolah ini adalah rasa untuk kesekian kali merasa jatuh cinta dengan suaminya.
Tatapan Bulan beralih menatap bibir Guntur yang semakin mendekat, ia memejamkan mata hingga sentuhan itu mulai terasa menyapu bibirnya. Guntur mengecup bibir ini, menggigit belahan kenyal bagian bawah dan membasahinya disana. setelahnya lidah itu mulai berusaha ingin masuk ke dalam rongga mulut lawannya, Bulan tidak bisa menolak dan ia menuruti keinginannya. hingga perpagutan dalam pun terjadi, melukiskan rasa indah yang menjalar nikmat di sekujur tubuh keduanya. cecapan dan lilitan lidah yang menyatu menjadi kegiatan indah didalam sana hingga mampu membuat sang empu dibawa melayang ke angkasa dengan sejuta rasa yang menggelora.
Setelah berlangsung cukup lama, Guntur melepaskan pagutannya. ia menatap lekat-lekat wajah cantik istrinya yang semakin bersinar dimatanya. bola mata Rembulan yang indah memancarkan pantulan wajahnya didalam sana, kemudian bibir ranum bak cherry yang tampak basah dan sedikit bengkak karna ulahnya, membuat hasrat kian menggebu ingin melakukan lebih dari ini
"Disini dingin, sedang aku butuh kehangatan." lirih Guntur, menahan beban pundak yang masih betah dirangkul oleh Rembulan
"Apa pelukanku tidak cukup untuk menghangatkan mu?" Bulan semakin menempelkan tubuh mereka
Guntur menggelengkan kepalanya. "Aku ingin lebih, bukan sekedar pelukan."
"Apa aku sudah bisa, ya?
"Bisa. bukannya masa nifas cuma 40 hari? sedangkan usia Galaksi sudah 60 hari, Sayang."
"Kamu sok tau!" Bulan tergelak sembari memukul kecil dada suaminya
Guntur mendengus kasar dibuatnya. "Minggu lalu kamu sudah mens, kan? kalau aku baca, kamu sudah bisa melakukannya karna rahim kamu sudah kembali normal."
"Iya ya, cepet, ya?" dengan polosnya Bulan membuat Guntur semakin geram
"Ya, dan sekarang tidak ada penolakan lagi." segera Guntur menggendong tubuh mungil istrinya dalam dekapan ala bridalstyle, membawa wanitanya keluar dari Rooftop yang begitu dingin ini dan melangkah menuju lift melewati dua arah lorong yang berbeda.
"Kalau aku hamil lagi, gimana?" tanya Bulan menatap wajah suaminya diatas sana
"Ya, bagus. Gala ada adeknya," jawabnya dengan begitu enteng
"Edan! mana boleh! kalau untuk hamil belum boleh diwaktu sekarang ini. kamu harus pakai cond*m pokoknya!" Bulan menyedekapkan kedua tangannya didada, merasa malas merangkul pundak suaminya
"Hei, peganganlah, nanti jatuh."
"Is!" Guntur berdecak kesal. "Aku tembak luar, nggak ada waktu lagi." Guntur kembali melanjutkan langkahnya setelah pintu lift terbuka. berjalan beberapa meter lagi mencapai kamar mereka berdua
"Pria mesum!"
"Sudah lama aku menunggu, Bulan, sekarang nggak bisa ditolerir lagi." ungkapnya, dan Bulan merasa kasihan mendengarnya. begitu inginnya lelaki ini untuk menyatukan kembali tubuh mereka pasca melahirkan, walau sebenarnya Bulan juga merindukan hal itu. apalagi selama suaminya berada di Panti, melukiskan jarak kebersamaan diantara mereka hingga sangat jarang untuk melakukan kemesraan seperti pasangan lainnya yang teramat rutin.
"Baiklah." Ia pun menurut
"Dan sekali main tidak akan membuatmu hamil lagi, percaya padaku."
"Tapi---
"Ssstt!" Guntur membaringkan tubuh istrinya dengan hati-hati setelah keduanya tiba didalam kamar, mengacungkan jari telunjuk dibibir Rembulan agar wanita itu tidak lagi berbicara yang sudah membuat kupingnya terasa panas.
Inilah babak baru untuk Guntur setelah sekian lama tidak merasakan tubuh istrinya tanpa terburu-buru. mereka bisa melakukannya dengan sesuka hati tanpa adanya waktu yang mengikis kebersamaan keduanya seperti saat-saat ia masih ditahan.
Guntur meremas dua gundukan yang menonjol dari balik long dress yang dikenakan Bulan, sedang bibirnya menyapu lekuk leher jenjang yang menggoda hingga ke sekitarnya. tangan nakalnya mulai menyelinap ke punggung sang istri, meraih resleting dan menurunkannya, hingga kain yang membaluti tubuh mungil ini terlepas dengan sempurna. tak ketinggalan kain yang juga menutupi tubuh Guntur ia lepaskan dengan kasar seiring gairah yang mulai menanjak.
***
"Ke mana mereka?" Papa Perkasa celingak-celinguk mencari keberadaan anak dan menantunya
Waktu yang sudah semakin larut malam telah mengakhiri acara pesta yang begitu meriah hingga satu persatu tamu yang hadir berpamit pulang ke kediaman mereka.
"Mungkin keluar, Pa." sahut Clara
"Ada apa, Mas? kok tampak bingung?" Mami Vega datang menghampiri setelah mengantarkan teman-temannya hingga ke pintu yang dijaga dua orang keamanan
"Guntur dan Bulan nggak kelihatan."
"Oh iya, aku ngelihat mereka keluar dari belakang sana sih tadi." sahut Mentari yang baru juga datang
"Hmmm, yasudahlah, mereka butuh waktu untuk berdua juga, kan? ayo kita ke kamar, Galaksi sedang bobo, bisa kebangun nanti." ucap Mama Anna, mereka pun mengangguk setuju
πΊπΊπΊ