
πΊπΊπΊ
"Anda tidak tahu kalau si pengidap kejiwaan tidak akan mendapatkan hukum pidana? palingan nanti akan dikirim ke Rehabilitasi. itu pun kalau mereka menyelidiki dulu riwayat anda, Tuan. mengingat tadi malam anda mengamuk pasti mereka sudah curiga kalau Tuan punya penyakit kejiwaan."
"Ohya??" kedua mata Guntur berbinar-binar
Pletak!
Guntur menggaduh kesakitan pada belakang kepalanya, seseorang telah melemparkan sesuatu ke arahnya dengan sengaja. dan benar saja, saat Guntur berbalik badan tampak tiga orang berbadan besar yang tinggal diseberang sel-nya menyeringai devil menatapnya dengan beringas
"Ngobrol aja anak baru! kerja sana!" pria sialan itu memerintahkan Guntur dengan gayanya yang angkuh
Guntur menyipitkan matanya, kedua tangannya mengepal menatap pria itu.
"Apa? marah? mau bunuh kami? dasar pembunuh!"
"Oh, kau udah tau aku rupanya? tidak takut kau akan menjadi korbanku selanjutnya, hah?" lawan Guntur, ia berusaha mengambil nafas dalam-dalam lalu mengembuskannya.
"Ck! dasar bocil! sok sekali."
"Bocil kau bilang? kau tidak tau aku, ya!"
Bugh!
Guntur langsung meninju wajah pria bengis itu, memukulnya beberapa kali secara brutal. hingga kedua matanya tanpa sengaja menangkap sebilah benda tajam, yaitu arit, langsung menyambarnya dan mengulurkan benda tersebut kehadapan mereka.
"Masih berani mengatai-ngataiku, hmm?" ancam Guntur, memutar-mutar benda tersebut sembari melangkah maju mendekati mereka. ia merenggangkan otot-otot leher dan tangannya agar bersiap menghajar tiga pengecut itu.
"Stop, Tuan! jangan!" kedua anak buah Guntur melarangnya
Guntur tak mendengarkannya, ia malah melompat dan langsung menginjak kaki kedua anak buahnya tersebut. seketika saja pegangan itu terlepas dan ia bisa lebih leluasa lagi untuk menghajar mereka
"Hei-hei! apaan kalian ini! kau, lepaskan barang itu!" beberapa petugas datang memeriksa kondisi dan mendapati tahanan barunya mulai berulah kembali. Guntur membuangnya, namun tangannya kembali terkepal untuk siap meninjunya sekali lagi.
"Ayo sini lawan aku, bodoh! badan kau saja yang besar tapi nyali menciut! jangan kau remehkan aku kalau tidak mau jadi mangsaku selanjutnya!"
Bulan telah tiba di Dreka Hospital, menyusuri lorong menuju ruang rawat sang Kakak yang berada di lantai tiga tepatnya di ruang VIP. ia menyipitkan mata kala melihat belasan wartawan kembali menggerayangi keluarganya. Bulan menggeleng-gelengkan kepala, ia yakin pasti pihak keluarganya akan menfitnah suaminya dengan menambah-nambahkan keburukan dari seorang Guntur.
"Tidak, jangan sampai Mami atau Kakak yang meladeni mereka." gumam Bulan. entah kenapa nalurinya sebagai seorang istri berbisik seperti itu
Bulan melangkahkan kakinya dengan cepat menghampiri kerumunan itu, sebelum menyelinap masuk diantara mereka ia terlebih dulu mencuri laporan dari sang narasumber. ya, terdengar suara Maminya berkata yang buruk tentang Guntur.
"Nyonya, apa motif pelaku menyekap anak anda dan teman-temannya selama hampir satu bulan ini? apakah ada dendam atau alasan yang lain?"
"Lebih tepatnya karena pelaku pernah ingin memaksa putri saya untuk melayaninya, namun Mentari menolak hingga dia bersama temannya diculik oleh tersangka. dia itu pencabul, asal kalian tahu kalau anak kedua saya mengandung janin dari perlakuan pria brengsek itu! hati saya sungguh sakit,"
Bulan menggeram, giginya bergemeletuk mendengar tuduhan itu. tanpa banyak kata ia langsung menerobos melewati para wartawan yang masih menyimak haru pernyataan bodoh dari sang ibu.
"Bohong! saya adalah Rembulan, putri kedua Nyonya Vega, menegaskan bahwa tersangka, suami saya, bukan seorang pencabul! kalian tahu, janin ini atas hubungan suka sama suka diantara kami, bukan seperti yang dikatakannya!"
"Kalau kalian ingin tahu kisah sebenarnya, baiklah, saya dengan senang hati menjawab seputar pertanyaan kalian. tapi jangan bertanya dengan mereka yang hanya bisa memfitnah suami saya! menambah-nambahkan cerita untuk memperburuk nama suami saya!"
"Kalian ingin tahu apa motif pelaku menyekap kakak kandung saya? dia sudah gila karena ulah mereka, mereka adalah kakak saya bersama teman-temannya. mereka melecehkan suami saya saat masa remaja dulu, suami saya juga dibully, direndahkan, sampai jiwanya kena dan sudah mendarah daging karena ulah mereka."
"Jadi semua yang sudah terjadi bukanlah sepenuhnya salah pelaku, tidak ada asap jika tidak ada api, bukan? suami saya tidak akan melakukan motif tersebut jika tidak ada penyebabnya."
"Saya bisa saja menuntut Mentari dan teman-temannya di pengadilan nanti. tapi ini semua memang harus diselidiki oleh penyidik, bukan? kebenaran tentang suami saya dan mereka yang menjadi korban, akan lebih jelas dimulut para saksi yang pernah menyaksikan kejahatan mereka saat dulu."
"Jadi---stop memperburuk nama suami saya! bukan sekarang waktunya untuk kalian mengambil berita dari kami! lihatlah, mereka sedang berduka atas perbuatan suami saya dan kalian dengan enak hati mencari-cari berita. tunggu saja saat pengadilan nanti, kalian boleh pergi."
Bulan menyeka air matanya dengan kasar, hatinya menangis ketika berusaha membela suaminya dengan mengatakan alasan yang sesungguhnya. mungkin kinilah saatnya dunia harus bersikap adil kepada Guntur, mengumpulkan para saksi terdahulu untuk membongkar kejadian pilu yang dirasakan suaminya.
Disisi lain, Papa Perkasa seketika jatuh sakit saat menerima laporan buruk dari sang Assisten.
πΊπΊπΊ
Mewek lagi akuh π€§