
πΊπΊπΊ
"Hei!" Guntur mengagetkan Bulan yang sedang memanaskan rendang, melingkarkan kedua tangannya diperut wanita ini. ia hirup dalam-dalam aroma rambut Bulan yang begitu wangi, seolah sudah menjadi candu tersendiri untuknya.
"Sudah bangun?" Bulan menoleh ke samping, ekor matanya menatap wajah Guntur yang terlihat lebih segar
"Sudah, sudah alum juga."
"Alum? sok bahasa bocah!" Bulan tergelak
"Hehehehe ... coba biasakan pakai bahasa bayi, siapa tahu disini sudah ada bayi, ya, kan?" Guntur menyunggingkan senyumnya, mengelus perut Bulan yang masih datar
"Apaan sih." Bulan terkekeh, tubuhnya menghindari sentuhan sang suami yang semakin nakal meraba area bawahnya. Guntur menyeringai, hampir saja menyentuh area terlarang itu namun Bulan langsung menghindar darinya, membuatnya frustasi.
"Rendangnya udah hangat, ayo makan malam." ajak wanita itu yang melangkah menghampiri meja makan
"Huf! mainlah dulu kita, baru makan ya?" pintanya
"No!! aku udah lapar, tau!" dengus Bulan
"Setelah makan ya?"
"Enggak! mana boleh selesai makan langsung begituan, yang ada muntah." ucapnya
Guntur memutar bola matanya. "Enggak pas selesai juga kali, Yang." pungkasnya
"Ya ya ya." Bulan mendudukkan tubuhnya diseberang sang suami, menyodorkan sepiring nasi putih hangat kehadapan sang suami
"Terima kasih, Sayang."
Bulan mengulum senyum. "Ya, ambil aja kembaliannya, ya." balas Bulan sembari nyengir kuda
"Hah?"
"Makanlah, makan! ngomong terus!" ketus Bulan, yang langsung menyuapi makanan padang kedalam mulutnya, hingga makan malam berdua berlangsung khidmat dengan sedikit candaan untuk menghangatkan suasana.
Bulan merenggangkan otot-ototnya yang dirasa sedikit kaku, padahal sudah tidur, sudah mandi, tapi tubuhnya masih sedikit kurang nyaman. gadis itu mencari keberadaan suaminya yang entah kemana, selama mencuci piring pria itu tidak terdengar lagi kegaduhannya yang selalu menggoda Bulan.
Suasana Apartement tampak hening, Bulan memilih ke kamar untuk kembali beristirahat. setibanya di kamar utama yang ia tempati bersama Guntur, Bulan terpaku menatap sosok suami yang tampak serius dengan benda-benda ditangannya. Bulan mendekat, matanya berbinar-binar melihat layar kaca segi empat sedang dipasang ke dinding oleh suaminya.
"Wah ... tivi?" Bulan terpukau
"Untukmu, sesuai janjiku, kan?" sahut Guntur tanpa menoleh ke arah istrinya
"Ah, terima kasih, ya." Bulan berteriak girang
"Segitunya." gumam Guntur yang bisa melihat sang istri dari pantulan layar itu
Sontak saja Bulan berdecak kesal mendengarnya. ia mendengus sembari menyedekapkan kedua tangan didada lalu menjatuhkan bokongnya dibibir ranjang.
"Selesai. kita bisa nonton." Guntur meraih remote tv yang ia taruh diatas meja rias, lalu menyalakan televisi yang langsung menunjukkan beberapa channel luar negeri.
"Kok channel luar semua?" tanya Bulan, heran
"Hmmm, ya, biar asyik nontonnya. tv Indonesia banyak yang nggak mendidik. masa film ikan terbang semua, apaan tuh." pria itu mendelik
"Is! itu ada hikmahnya lho film kayak gitu, suami tidak boleh berselingkuh, istri tidak boleh matre, mertua tidak boleh membandingkan menantu. kamu mah mana tau!" gerutu Bulan
"Sudahlah, mending nonton ini saja. ada film barat, drakor, drathai, drama apa lagi coba? mau dengerin musik ada k-pop, mau kartun ada Masha and the bear." celotehnya
"Ya ya ya, serah deh." Bulan pun pasrah, Guntur mengangkat kedua alisnya sembari tersenyum senang. mana mungkin ia membiarkan Bulan menonton channel dalam negeri, bisa bahaya jika saja yang ia takuti bakal terkuak. dan sepertinya--adanya tivi baru membuat gadis itu lupa dengan ponsel yang ia idamkan.
Guntur bisa bernafas lega, melihat istrinya duduk tenang menatap layar televisi setidaknya ada angin segar yang menerpa tubuhnya.
"Kamu disini dulu, ya, aku keluar sebentar."
"Kemana?"
"Ada deh, tunggu aja."
"Hm, baiklah."
Guntur menyambar kunci mobil dari atas nakas, ia bergegas keluar kamar dengan langkah lebar tak sabaran. setiba di Basement, ia masuk kedalam mobil dan mulai mengendarainya dengan kecepatan sedang. entah akan kemana pria itu, dilihat dari raut wajahnya lelaki tersebut tampak gembira dan bersemangat.
Beberapa menit kemudian Guntur telah tiba dikediamannya dengan membawa beberapa tentengan. ia melangkah ke dapur untuk menyiapkan sesuatu
"Tadaa!! cemilan untuk istriku tersayang." Guntur yang muncul bersamaan dengan kehebohannya
Bulan menoleh, sosok tampan itu membawa nampan berisi coklat hangat dan entah apa lagi diatasnya
"Wow! cake blackforest?" matanya berbinar-binar
"Ya, aku beli di Ramel Cake'n Bakery." ujarnya
"Ah, kamu tahu aja kesukaan aku." Bulan menyambar sepiring cake yang menggugah selera itu, dengan hati yang gembira ia melahapnya dengan penuh ceria. lidahnya bergoyang merasakan manisnya brownies blackforest ini
"Makanlah, sebelum memuntahkan kecebongku kamu harus kuat dan banyak stamina. aku mau searching gaya yang mantap di googling dulu." seloroh Guntur, yang langsung merogoh ponsel disaku celananya
"Ck! dasar hiper!"
πΊπΊπΊ