Obsesi Majikan Psychopath

Obsesi Majikan Psychopath
Dalam Bahaya


🌺🌺🌺


Rembulan mengakhiri pertemuannya dengan sang suami kala hari sudah menunjukkan pukul sembilan malam. dikehamilannya yang menginjak delapan bulan, membuatnya ingin untuk terus bertemu dengan Guntur yang belum juga dibebaskan oleh pihak Panti.


"Ayo, kita pulang, Pak." ajak Bulan kepada Pak Sopir yang sedang memainkan ponsel


"Ah, baik, Non." dengan sigap ia membuka pintu mobil bagian jok belakang untuk sang Nona muda. Bulan masuk dengan hati-hati setelah pintu dibuka


Padahal Bulan sudah dilarang beberapa kali oleh Guntur maupun mertuanya, namun tetap saja keras kepala telah mempengaruhinya untuk tetap kekeuh bertemu dengan Guntur. apakah karena efek kehamilan tua, si jabang bayi ingin dimanja oleh sang Ayah? bisa jadi, sebab selama ini jarak jauh yang membentang memisahkan mereka menjadi salah satu pemicunya yang menyebabkan Bulan merasa ngidam untuk terus berjumpa.


Kendaraan beroda empat berwarna silver itu pun melesat dengan sempurna dalam kecepatan rata-rata meninggalkan pelataran Panti.


**


"Pak, tiba-tiba aku pengen Bakso mercon, kira-kira di mana ya?" Bulan menelan salivanya dengan kasar bila membayangkan makanan pedas yang menggiurkan itu. cabe rawit merah yang digiling halus tersimpan didalam bulatan bakso jumbo yang tampak menggoda. bila dibelah, lelehan cabe itu menguar tercampur pada kuah bakso, sangat menggiurkan sekali.


"Tapi itu bakso pedas, Non, yang ada cabe didalamnya, kan?"


Bulan mengangguk. "Hu'um, tapi aku pengen, Pak." rengeknya sembari mengelus perut buncitnya


"Bakso biasa aja deh, Non, kasihan dedek bayinya takut kenapa-napa." tawar Pak Sopir, ia sampai bergidik ngeri membayangkan makanan sepedas itu, pernah sekali ia coba bersama Pak Security kediaman Perkasa


"Kata Dokter asal jangan berlebihan, toh aku jarang makan pedas."


"Ayo dong, Pak, cariin bakso mercon, ya?"


"Hmmm, baiklah." turutnya


Bulan tersenyum semringah, akhirnya ia bisa menyantap bakso super pedas dengan segera.


Tibalah di ruko Bakso yang menyajikan bakso biasa, hingga bakso mercon beranak yang diinginkan Rembulan. tak lupa sama Mie ayam yang selalu menemani bakso dalam satu gerobak. Bulan menanti didalam mobil, menunggu sajian pesanannya usai dalam racikan tangan sang pemilik makanan melegenda yang sudah go nasional di seantero Nusantara. tak kalah famous dengan rendang favoritnya.


Sembari menanti, Bulan menurunkan kaca jendela pada pintu mobil, alih-alih ingin merasakan semilir angin malam yang bertiup kencang menyentuh rambut dan kulit wajahnya. sangat menyenangkan dan ini terasa segar walaupun udara telah tercampur polusi asap kendaraan yang berlalu lalang.


Bulan memandang nama-nama ruko yang bertuliskan di reklame dan spanduk, ada spa, kafe, showroom mobil, beberapa stand makanan, dan--klub malam yang menjadi pusat perhatiannya. Rembulan tertegun menatap tempat hiburan malam itu. ia pikir, apa semenyenangkan itu berada disana untuk melepaskan beban pikiran hingga bisa buyar setelah keluar dari sana? entahlah, Rembulan pun juga tak berniat untuk mencoba menginjakkan kaki di pelataran tempat tersebut.


Saat akan beralih ke tempat lain, pandangannya sontak kembali pada area parkir Klub malam. dimana--ada sosok seseorang yang ia kenal tengah diganggu oleh segerombolan pria.


Bulan mengernyitkan dahinya, ia menilik dalam-dalam sosok perempuan tersebut.


Terlihat Mentari yang baru saja tiba ke Klub bersama dua orang temannya dihampiri oleh tiga pria yang sedang mabuk dengan botol alkohol ditangan, tengah menggoda tiga wanita cantik nan berpenampilan seksi aduhai ini.


"Cewek, mending ikut Abang yuk ke Hotel, kita bisa puasin lu pada sampai modar, hm?" ajak salah satu dari pria tersebut


"Apaan sih! kita disini mau joget, mau minum! minggir kalian!" erang Mentari sembari mendorong dada mereka yang berani mendekat


"Udah ... kita joget dan minumnya di Hotel aja, kita yang pesan, setelah itu kita goyang di kasur." timpal yang lainnya


"Ogah!"


"Waduh, gimana ini, Tar?"


"Hu'um. apa kita ngikut mereka aja, ya?"


"Gila! jangan deh, penampilan mereka urakan, pasti orang biasa." ucap Mentari


"Benar, kalau tajir mah, sudah kelihatan dari mukanya."


"Ganteng, ya? hihihi, terus gimana?"


"Aaaah! bisik-bisik segala! ayo ikut!" dan mereka pun mulai beraksi secara agresif, menarik salah satu tangan sahabat Mentari dengan paksa.


Para wanita itu berteriak, berusaha memukul-mukul tubuh pria itu dengan geramnya. hingga--terdengar bunyi benturan keras yang berhasil mengalihkan perhatian mereka semuanya.


Bugh!!


Rembulan, ia yang memegang balok kayu langsung memukul kepala salah seorang pria yang mencoba menganiaya kembarannya dengan cara memelintir tangan Mentari. tangan itu yang berusaha memukul dada pria tersebut.


"Aaaargh!" rintih pria tersebut menahan rasa sakit di kepalanya yang mengeluarkan bercak darah


"Menjauh, Kak!" teriak Bulan


"Kau!! perempuan sialan!!" lelaki itu mendorong tubuh Bulan hingga terpental dengan keras membentur body mobil lainnya.


"Aaaaakh!!" tubuh Bulan merosot


🌺🌺🌺