
🌺🌺🌺
Satu jam kemudian dengan kecepatan yang cukup tinggi, Guntur telah tiba di Markasnya berada. yaitu disebuah bangunan kuno yang tidak ditempati, tepatnya di ruang bawah tanah yang menjadi kediaman para tawanannya. Guntur menerobos masuk ke dalam ruang monitor, yang memperlihatkan lima tawanannya didalam sana. dua diantaranya adalah tawanan lama yang sudah lemas tidak berdaya. sedangkan tiga orang lagi adalah mantan pacar beserta sahabatnya yang dengan lancang menghina ia saat di party club malam beberapa tahun silam.
🌿Flashback On🌿
Club dengan suasana remang-remang kurang penerangan, yang hanya disuguhi sorotan lampu warna warni yang bergerak ke berbagai sisi. dentuman musik dj menjadi pemeriahan suasana yang membuat semangat anak muda berkobar-kobar dalam unjuk kebolehan. kebetulan saat itu penerimaan nilai tryout telah keluar dari pihak sekolah, para siswa yang hadir di Club sebagian besar memperoleh nilai yang cukup tinggi. Guntur diajak sang kekasih, Mentari, untuk merayakan kerja keras mereka ke tempat yang seperti ini, awalnya menolak namun dengan rengekan membuat hatinya yang lembut itu seketika luluh.
"Ayo duduk disini." ajak Mentari, membenamkan bokongnya diatas sofa, diikuti oleh Guntur dan kedua sahabat Mentari. tak lupa para teman-teman sekelasnya juga turut duduk di sofa mengelilingi mereka
Mentari menuangkan minuman alkohol ke gelas miliknya dan Guntur, lalu memberikannya kepada pemuda tersebut
"Ini buat kamu, saatnya kita cheers atas suksesnya tryout kedua." ia mengacungkan gelasnya ke udara, diikuti anak-anak lainnya kecuali Guntur yang masih diam termangu
"Hei, Sayang! ayo buruan."
"Kalian saja, aku enggak." tolaknya mentah-mentah, menaruh gelas itu kembali diatas meja
"Hedeeeeuh!" Mentari dan yang lainnya memutar bola matanya, lelaki ini sok suci sekali, pikir mereka.
Mereka pun bercheers ria dengan gelak tawa bahagianya, berbondong-bondong meneguk minuman keras yang beraroma tidak sedap dipenciuman Guntur. lelaki itu bergidik ngeri, ingin rasanya ia menjauh dan pergi dari tempat tersebut.
"Kamu bersenang-senanglah, aku pergi dulu." pamitnya, bangkit berdiri ingin melangkah pergi. namun niatnya terurungkan tatkala Mentari menarik kemeja yang dikenakan Guntur, hingga pria tampan yang ditutupi oleh wajah cupunya terhuyung ke belakang dan terduduk lagi diatas sofa.
"Tidak boleh pergi disaat party berlangsung, Sayang. sekarang giliran kamu yang minum, sedikit saja." ia memaksa
Guntur menggeleng, ingin menghindar pun percuma karena para wanita disisinya langsung merecoki mulutnya dengan minuman terlarang itu. cairannya pun berhasil lolos memasuki tenggorokannya, rasa yang tidak biasa ini sontak membuatnya terbatuk-batuk. sedangkan mereka tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi yang ditunjukkan pria cupu ini.
"Enak kan?"
"Dadaku panas meminumnya. cukup lah ya, aku ingin pulang." ia ingin bangkit, dengan gesitnya Mentari meringsek mendudukkan tubuhnya dipangkuan Guntur dengan melebarkan kedua kakinya hingga mereka berhadapan.
"Goyang, Ri! buruan!" teriak salah seorang teman sekelasnya
Mentari menoleh ke asal suara, ia menyeringai. tubuh Guntur menegang saat miliknya tengah digesek oleh milik wanita itu. walaupun masih dibaluti pakaian, namun gesekan itu tetap terasa.
"Ck! kenapa tidak menegang burungnya?" decak Mentari, semua orang pada heboh
"Ah, kau tidak pandai, Tar!" protes temannya, Mentari menatapnya dengan tajam
"Diam! akan ku buat dia bangun." Mentari turun dari pangkuan kekasihnya, ia berjongkok dihadapan Guntur, sedang kedua tangannya bersiap membuka resleting celana milik pria ini.
"Stop!!" Guntur berdiri, mengeraskan suaranya pertanda ia tengah kesal. ia menatap teman sekelasnya satu persatu dengan tatapan menghunus tajam. ia bisa memprediksi bahwa malam ini dirinya menjadi mainan oleh mereka semua.
"Wah ... anak juara satu yang kutu buku ini bisa marah juga. hahahahaha ...." hina temannya yang seorang pria, yang lainnya pun ikut menertawakan Guntur.
"Ayo cepatan, Men! buktikan cowokmu itu pria sejati!"
"Benar! masa disentuh gitu saja nggak tegang sih!"
"Kalian tenang saja, malam ini kita buat yang enak-enak." Mentari menyeringai
Guntur sudah merasa jengah, ia melenggang pergi meninggalkan kerumunan itu. tidak mempedulikan Mentari yang tersungkur ke belakang karena dirinya. Mentari mendengus kesal, banyaknya rombongan yang mendukung gadis sialan itu membuat Guntur tidak bisa berkutik untuk sekedar kabur. dirinya bahkan dihalang oleh teman-temannya, menyeretnya kembali ke sofa untuk bersenang-senang.
Setelah kejadian malam itu, ia sempat mengurungkan diri di kamar selama tiga hari. tidak berniat ingin ke sekolah melihat wajah-wajah iblis yang hampir menodainya. untung saja dirinya diselamatkan oleh seseorang yang diketahui adalah rekan bisnis papanya, hingga ia bisa kabur dari jeratan kawan-kawannya.
Di Sekolah, dirinya kembali menjadi bual-bualan teman sekelasnya, dibully, dikatai sebagai pria impoten, bahkan bukanlah pria sejati. Guntur hanya diam memendam hinaan itu, ia lebih memilih fokus untuk belajar menjelang Ujian Nasional tiba.
🌺🌺🌺
Kasihannya ... 😰