Obsesi Majikan Psychopath

Obsesi Majikan Psychopath
Mencemaskan Putri Sulung


🌺🌺🌺


Bulan meratap sedih pada sosok Guntur yang diancam akan terjerat penyakit berbahaya jika tidak segera ditangani masalah kejiwaannya. pria itu akan terancam memiliki komplikasi pada kesehatannya, seperti tekanan darah tinggi, diabetes dan penyakit jantung. dan itu sungguh menyesakkan jika saja Tuan Perkasa mengetahui hal ini. apalagi Guntur telah mengidap hampir dua tahun lamanya, hanya beberapa bulan saja ia menjalani terapi.


Bulan tetap berjalan pelan seolah kurang berdaya. dirinya merasa hampa menghadapi sikap Guntur yang keras kepala. apalagi--jika pria itu meninggalkan dirinya, seperti ada yang kurang dari hidupnya.


Bulan terkekeh, orang sekitar menatap aneh padanya.


"Ngaco'! itu kan sudah takdirnya. aku bisa bebas dari belenggu jeratannya." Bulan menggeleng-gelengkan kepala akan pikirannya yang terlalu berpikir jauh


Bulan menggapai handle pintu ruang inap yang ditempati Guntur, menekannya lalu mendorong daun pintu tersebut. pria kejam yang sudah berbuat keji padanya kini terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit tersebut. Bulan masuk, menghampiri pria yang akan menikahinya


"Apa yang menyebabkan dirimu bisa seperti ini? sekelam apa sih masa lalumu hingga berdampak pada masa sekarang?" lirih Bulan menatap lekat wajah pucat si pria kejam, salah satu tangannya menggenggam lembut telapak tangan lelaki ini.


Sesungguhnya Bulan belum mengetahui penyebab terjangkitnya penyakit itu pada jiwa Guntur, ia belum mengetahui sepenuhnya. hanya saja yang ia tahu, orang tuanya bercerai tatkala sang ibu lebih memilih bersama pria lain.


Disisi lain, di kediaman Cakrawala, Mami Vega sudah mulai bingung dan sangat khawatir memikirkan putri sulungnya yang belum jua kembali sejak kemarin malam. ditambah lagi kekhawatirannya bertambah tatkala nomor ponselnya sama sekali tidak bisa dihubungi. bahkan ia sudah menyuruh Assisten Stev untuk melacak keberadaan putrinya. sial sekali, mereka tidak dapat melacak dari ponselnya. entah apa yang terjadi, nalurinya sebagai ibu sudah merasakan yang tidak-tidak telah terjadi kepada Mentari.


"Ya ampun ... kamu ini kemana?" desahnya


Ting tong! Ting tong!


Perhatian Nyonya Vega teralihkan kepada pintu utama, sepertinya ada tamu yang bertandang ke kediamannya. Bibi bergegas menghampiri ruang tamu untuk membuka pintu sebelum raungan yang keluar dari mulut Nyonyanya kembali menggelegar. Nyonya Vega mengikutinya dari belakang, berharap ada tanda-tanda jejak yang ditinggalkan oleh sang putri.


"Siapa?" tanya Nyonya Vega kepada Bibi


"Orang tua teman-teman nona, Nya." jawabnya, Nyonya Vega menarik nafas dalam, apakah putri mereka juga menghilang? pikirnya.


Benar saja, setelah pintu dibuka lebar para emak-emak kece itu berhamburan menghampiri orang tua dari sahabat putrinya.


"Ho'oh, Felisha juga belum pulang dari kemarin malam." sahut yang lainnya


"Tidak hanya mereka, Mentari juga nggak ada di rumah. ponsel sudah berusaha untuk dilacak tapi nggak berhasil." Mami Vega menghempaskan bokongnya di sofa dengan kasar, ia berdesah frustasi. seketika saja air matanya mengucur deras memikirkan keberadaan putrinya. walaupun pergaulan Mentari cukup bebas, tapi jika pergi kemana pun pasti akan memberitahukannya. entah mungkin ada projek diluar kota, ataukah mungkin pergi berliburan bersama teman-teman, pasti putrinya akan memberitahu hal itu kepada sang ibu


"Ya, Tuhan .... Papa Ratu juga sudah berusaha mencari tapi hasilnya juga nihil." sahut frustasi yang lainnya


"Kejadian seperti ini--aku teringat akan berita penculikan masal enam bulan yang lalu. masih ingat, nggak?" otak cerdas yang mampu menyimpan memori lama kembali mengingatkan kedua ibu yang dirundung kecemasan tersebut. sontak saja keduanya menoleh menatap Ibu dari Felisha.


"Apakah anak-anak kita yang menjadi korbannya?"


"Itu penculik handal, sampai sekarang polisi masih mencari keberadaannya walau sempat dikepung markasnya terdahulu."


"Ya ampun!" Mami Vega kembali menangis, ibu dari teman-teman anaknya memeluk wanita tersebut untuk memberikan ketenangan padanya


***


Dilain sisi lagi, Mentari yang sedang disekap di bangunan kuno bagian bawah tanah yang tersembunyi, meringis kesakitan pada area bawah tubuhnya yang dihantam kuat oleh salah satu anak buah dari sosok misterius yang entah siapa itu. ia ikut menjadi bual-bualan hasrat setelah mendapatkan asupan gizi yang mereka berikan.


Hari ini ia mendapatkan sayatan di pipi, melayani gairah hasrat sebanyak tiga kali hingga malam ini. dan esok--entah apa lagi hukuman yang ia dapatkan. Mentari merasa lelah, ia ingat jika mereka ini adalah buronan yang dicari oleh Polisi sejak satu tahun yang lalu. kini pun ia tidak tahu keberadaanya ada di mana.


Tatapannya tetap terpaku ke arah pintu yang dipenuhi besi aliran listrik, jika ia berani kabur dan mencoba menyentuh pintu tersebut, pria diatasnya ini tidak segan-segan menekan sesuatu yang membuat aliran listrik itu mulai bereaksi.


"Lepaskan aku ..." lirihnya, lemas


🌺🌺🌺