Obsesi Majikan Psychopath

Obsesi Majikan Psychopath
Otakmu!!


🌺🌺🌺


"Tapi apa?" Bintang menyipitkan sebelah matanya menatap nanar pria dihadapannya, menunggu kelanjutan kalimat yang sempat terhenti


"Beberapa hari lalu, Nona Bulan sempat menelpon pakai gagang telepon kantor, Tuan, sekedar bertanya perihal perusahaan. saya rasa sih--keadaan Nona baik-baik saja diluar sana. saya sempat bertanya tinggal di mana, ia hanya memperingatkan untuk jangan terlalu ingin tahu."


"Dari melihat keadaan tubuh dan nada bicaranya, Nona Bulan pasti baik-baik saja, Tuan. mungkin ia butuh kebebasan dan suasana baru." jelasnya panjang lebar


Bintang menghembuskan nafasnya dengan kasar, walau ada sedikit kelegaan mendengar cerita itu, namun tetap saja rasa takut, khawatir, cemas, menggulung menjadi satu didalam hatinya. sebagai adik yang memiliki ikatan batin cukup kuat, Bintang tidak mungkin membiarkan kakaknya hidup sendiri diluar sana. rasa khawatir lebih mendominasi dari pada ia bersikap santai membiarkan kakaknya disana. tidak seperti ibu yang melahirkannya, sama sekali tidak memikirkan putri keduanya.


"Kau jangan diam saja, Stev! kerahkan anak buahmu mencari kakak!" titahnya


"Tapi--kata Nona jangan coba-coba mencarinya, Tuan." Stev mulai bingung


"Kau bodoh mau menurutinya! kerjakan perintah ku!"


"Baik, Tuan." Assisten Stev pun menurut


Bintang beranjak keluar dari ruangan itu, ia sepertinya butuh angin segar untuk merilekskan pikirannya. bukannya hari libur dimanfaatin untuk bersenang-senang, kumpul bersama keluarga, tapi kini malah kebalikannya. ia harus menghadapi masalah yang tidak pernah terlintas dipikirannya. kakak kesayangannya kabur dari rumah karna tidak tahan dengan sikap ibunya, sedangkan kakak pertama yang super cantik itu menghilang ditelan bumi dengan rumor penculikan. sungguh membuat Bintang merasa frustasi dengan keadaan ini.


Bintang menyalakan mobil sportnya, berlekas menekan pedal gas ingin bertandang ke sebuah tempat yang bisa menenangkan pikirannya. ia melajukan kendaraannya dengan kecepatan rata-rata, bersamaan pikirannya yang begitu kalut akan keadaan kakak keduanya.


"Oh, ****!" ia mengumpat tatkala lampu merah menyala, ia yang termenung hampir saja menabrak mobil didepannya. untung saja Bintang cepat-cepat mengerem mobilnya walau tubuhnya terhuyung ke depan.


"Ya ampun ... tuh mobil di depan hampir saja nabrak kendaraan lain." Bulan mengelus-ngelus dadanya, ia sempat memerhatikan mobil didepannya membawa laju kendaraan dengan cukup cepat, tampak tak sadar jika lampu merah menyala


"Pengemudinya ngantuk kali." seru Guntur


"Miris, ya ... tapi untung saja nggak kenapa-napa." ucap Bulan yang terus memandang mobil sport berwarna merah itu.


"Udah mau jam makan siang, kita ke Restoran aja atau ke tempat Papa?" tanya Guntur


"Ke tempat Papa lah, tadi kan ngundang."


"Hmmmm ..." tampaknya Guntur sedikit malas ke kediaman Perkasa yang sudah memiliki anggota baru itu


"Kenapa? kamu keberatan?" seolah Bulan bisa membaca pikiran dan isi hati suaminya ini


"Nggak sih, rasanya masih nggak percaya aja Papa memperistri wanita lain, aku takut, Lan ..." wajah memelas itu terlihat mengiba, guratan ketakutan begitu kentara diraut wajah tampannya. Bulan mempererat genggaman tangan suaminya, seolah ingin menyalurkan kekuatan kepada jiwa lemah yang berbalut rasa trauma begitu dalam.


"Kamu tau, Papa pasti orang yang cerdas dan apalagi sudah berpengalaman atas kegagalan berumah tangga. beliau pasti memikirkan hal ini dengan matang, apalagi kalian punya anak buah yang bisa saja menyelidiki Mama Anna sebelum mempersuntingnya. ya--walaupun Clara sedikit kurang baik, tapi aku yakin gadis itu anak yang baik. karna kebutuhan untuk hidup saja dia memilih jalan yang tidak baik, memberikan tubuhnya dengan pria hidung belang."


"Takut dia menguras harta Papa?"


Guntur mengangguk.


"Papa orang yang hati-hati dan ia pasti tahu pergaulan Clara."


"Hmmm .... kamu seperti yakin saja."


"Yang jelas aku tidak ingin suudzon." Bulan mengulum senyum, dibalas pula oleh pria tampan ini dengan senyum manisnya untuk sang istri


Beberapa menit kemudian keduanya telah tiba di kediaman Perkasa, Bulan dan Guntur turun dari mobil dengan membawa tentengan yang entah apa itu. Bibi menyambut majikan mudanya dengan sebuah senyuman manis kepada Tuan dan Nona muda.


"Papa mana, Bi?" tanya Guntur


"Masih di kamarnya, Tuan."


Guntur bergumam, pikirannya langsung berkelana ke sebuah adegan yang membuat anak manusia dibawa melayang. ia menyeringai sembari menggelengkan kepala, otak kotor benar-benar telah terkontaminasi.


"Makan siang udah dihidangkan?" tanya Guntur


"Sudah, Tuan."


"Panggilkan mereka." titah Guntur, ia menarik tangan mungil wanita disisinya sembari melangkah menuju ruang makan.


"Kamu tau, pasti mereka sedang wik-wik." bisik Guntur disela langkahnya, ia tersenyum seringai


"Otakmu!"


"Hahahaha! sepertinya menyuruh Bibi untuk memanggil mereka adalah hal yang menyenangkan." ia tergelak begitu senangnya


"Ampun dah! semoga aja mereka belum begituan, tega amat kamu." Bulan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah suaminya


"Kita lihat saja nanti, kalau mereka telat turun dan wajah yang ditekuk, berarti mereka anuan."


🌺🌺🌺


Otak mesum kau, bambang πŸ€£πŸ˜‚