
πΊπΊπΊ
"Apa perutmu nggak apa-apa?" tanya Guntur melihat bekas jahitan di perut Bulan yang telah mengering
"Nggak apa-apa, kata Dokter udah kering sempurna. bersyukur Mama Anna selalu buatin aku ikan lele, sih, sama makanan yang cepat mengeringkan luka." ujar Bulan, mengelus-elus rambut basah suaminya
"Hhh, aku lega akhirnya. takutnya nanti bakal terbuka lagi jahitannya, untung saja kita mainin satu gaya." Guntur tergelak
"Kamu suami pengertian." puji Bulan
"Oh, tentu saja." Guntur dengan bangganya, lalu membenamkan wajahnya diantara dua gundukan yang berisi, beda dari sebelumnya. wajar saja, kini Rembulan memiliki seorang bayi hingga dua harta karunnya tampak lebih besar, dan ini sangat menggemaskan
"Gun!" Bulan mengerang sembari berdesah merasakan pucuk bukitnya sedang disesap oleh sang suami
"Aku pengen rasain Asi kamu, Bul."
"Jangan, ih!" namun Guntur tak mengindahkannya, Bulan terus melenguh merasakan sensasi nikmat yang ditimbulkan. padahal Guntur hanya berpura-pura saja mencicipi Asi itu, ia hanya memainkannya saja sama seperti percintaan sebelumnya.
Miliknya kembali mengeras setelah cukup lama Guntur menjelajahi tubuh istrinya. tanpa berpikir panjang lagi ia memasuki adik kesayangannya ke dalam sangkar cinta yang memabukkan.
"Pagi, semuanya." sapa Guntur dan Bulan yang baru saja datang di meja Restoran Hotel yang ditempati seluruh keluarganya. Bulan mencari keberadaan anaknya yang sudah terlalu lama ia tinggalkan
"Pagi, akhirnya datang juga kalian. kirain sudah lupa sama kami saking serunya berduaan, ya." sindir Papa Perkasa, Guntur mengulum senyum sembari mengangkat sebelah alisnya
Melihat putranya tampak enteng di stroller bayi sembari menikmati Asi didalam botol yang dibantu oleh Mama Anna, Bulan datang mendekat dengan perasaan yang tidak sabar sekaligus merasa bersalah telah meninggalkan putranya
"Ma, dia rewel, nggak? maaf, ya, udah menyusahkan Mama." ucap Bulan, merebut botol yang sedari tadi dipegang mertuanya
"Nggak rewel kok, dia tidur disepanjang pesta sampai pagi. sesekali terbangun ingin mimik," ujar Mama Anna
"Tuh, kan." Bulan jadi bersalah
"Udah, nggak apa-apa, Mama ngerti kok. udah saatnya, kan?" Mama Anna mengulum senyum, memerhatikan raut wajah menantu tirinya yang terlihat salah tingkah dengan pipi yang merah merona
"Ah, Mama."
Dan percakapan hangat diatas meja pun terhenti sejenak kala Waitress berdatangan membawa hidangan menu sarapan yang mereka pesan. dan saat itu pula Galaksi memejamkan mata tanpa mengemut dot yang masih betah melekat dibibirnya. Bulan melepaskan dot dari mulut bayinya, mengecup kening Galaksi beberapa detik lalu melepaskannya.
"Anak pengertian. dari dalam perut memang sangat pengertian sama keadaan kita, terima kasih, ya, Nak." lirih Bulan berbisik, lalu mengangkat kepalanya dan mulai mencari tempat duduk yang masih kosong. tentu saja di samping suaminya.
"Gala tidur?" tanya Guntur, Bulan mengangguk mengiyakan dan seketika itu Guntur bernafas lega
Bulan memerhatikan suaminya yang sedang memasang kancing kemeja di depan cermin meja rias, sedang dirinya tengah duduk dibibir ranjang sembari mengAsihi bayinya secara eksklusif, bukan dari dot lagi.
"Maaf, belum bisa bantuin pasang dasi, Galaksi betah banget mimiknya." ucap Bulan
"Jangan hiraukan aku, punya anak ya gitu, waktu kita tersita untuknya. tapi nggak masalah, Yang, asal kebutuhan biologis ku terpenuhi." Guntur mengerlingkan sebelah matanya dari balik cermin
Bulan memutar bola matanya. "Itu terus pikirmu! dasar otak mesum."
"Hahahahaha ... pilih itu atau---aku jajan diluar?" godanya
"Awas aja, ya! sebelum kau lakukan itu, ku potong burungmu!" erang Rembulan, bersamaan dengan itu Galaksi merengek merasa terkejut dengan amukan ibunya
"Eeeek!!"
"Cup cup cup!" Bulan menepuk-nepuk pantat bayinya agar Galaksi kembali diam
"Gara-gara kamu!"
"Ampun suhu!"
Bulan bersama keluarga suaminya tengah menikmati sarapan pagi, sedangkan baby Galaksi tengah dijemur dipekarangan depan bersama Bibi yang biasa membantu Nona mudanya untuk menemani bayi itu untuk berjemur. sembari menyiram bunga hasil hiasan tangan Mama Anna yang terlihat indah, penuh warna dan subur, mereka merawatnya seperti MALIKA dengan penuh cinta.
Bibi menoleh melihat Tuan mudanya yang tidak terganggu dengan sinar matahari yang langsung menembak tubuh kecilnya. bayi itu terlelap setelah diberi Asi oleh sang Mommy.
"Nanti kamu ke Kantor, ya, bawakan makan siang untuk aku." pinta Guntur sembari melangkahkan kaki menuju pintu utama, bersama Bulan yang menenteng tas kerja suaminya
"Baiklah, aku akan bawa Galaksi, nggak masalah, kan?"
Guntur berpikir sejenak, kemudian ia menggeleng. "Tentu saja tidak. di Kantor banyak orang yang bisa aku suruh."
"Hah?? apa hubungannya?" Bulan menyipitkan mata menatap lekat suaminya
"Nggak apa-apa, aku salah bicara."
"Ish!!" Bulan berdecak kesal. dan saat itu pandangan mereka teralihkan pada Assisten Dika yang sedang bermain dengan bayi mereka. rupanya bayi itu telah terbangun dengan mainan ditangan mungilnya. terdengar suara cekikikan dari dalam stroller, karna ulah Assisten Dika yang mengajaknya berbicara.
πΊπΊπΊ