Obsesi Majikan Psychopath

Obsesi Majikan Psychopath
Tugas Negara Berhasil


🌺🌺🌺


"Mau ngapain! jangan macam-macam deh, nanti mereka masuk gimana?" Bulan sedikit panik


"Otakmu mesum!" Guntur mencubit gemas pipi tembem sang istri, membuat gadis itu meringis. "Emh!"


"Aku cuma mau kecup dedek kok, kamu saja yang ke pede-an." Guntur tergelak, ia kembali mengecup perut Bulan. namun ujung-ujungnya bukan hanya mengecup saja, lidahnya ikut menyapu setiap jengkal kulit mulus dihadapan wajahnya ini dengan penuh nafsu.


Bulan menggeliat, suaminya benar-benar jaim dan tidak bisa mengubur hasratnya. "Aaah, kan ... ini apa coba, ngh!" suara erotis tengah berusaha ia tahan agar tidak tercuat memenuhi ruangan ini


Guntur semakin memanas, ia sudah tidak tahan lagi untuk menggerayangi tubuh ini. mengingat dirinya belum membersihkan tubuh sejak kemarin, tidak ingin meninggalkan kuman didalam tubuh sang istri, pria itu pun bangkit menjeda gairahnya sejenak.


"Aku mandi dulu." Guntur beranjak bangun lalu melenggang pergi meninggalkan Bulan. Bulan memerhatikan punggung pria itu yang tenggelam oleh daun pintu


"Apa setelah mandi dia akan menjamahku? uuummh ..." seketika pipinya kembali merah merona mengingat percintaan panas yang juga ia inginkan. bukan menginginkan lagi, tapi juga merindukan setiap sentuhan halus yang suaminya berikan. dirinya begitu jaim bila terus menolak perlakuan suaminya, walau sesungguhnya hasratnya juga menanjak tiap kali bersentuhan dengan Guntur.


"Ya ampun ... ternyata otakku lebih mesum!" Bulan mengetuk-ngetuk dahinya dengan punggung jari, seraya membayangkan percintaan mereka diatas ranjang


Ceklek!


Sontak saja Bulan terperanjat kaget mendengar decitan pintu yang terbuka dari arah kamar mandi. ia menoleh ke sana, tidak mendapati Guntur yang akan keluar dari sangkarnya.


"Bulan, kemari dulu!" panggilnya


"Hah?" Bulan terkesiap, ia bangkit berdiri ingin menemui suaminya. sedikit menyembulkan kepala kedalam kamar mandi, terlihat pria itu sedang mengeringkan tubuh telanjangnya dengan handuk.


Bulan mendesis. "Ada apa emangnya?" gumam Bulan


"Apaan?" tanya wanita itu


Guntur menggigit bibirnya, ia ingin menggerayangi tubuh seksi itu saat ini. cepat-cepat handuk tersebut ia gantung di towel hook, dalam keadaan polos tanpa balutan benang sedikit pun ia bergegas menghampiri kekasih hatinya, ibu dari anak-anaknya kelak. Bulan yang tengah memunggungi pintu, sontak saja terlonjak kaget saat tubuhnya dipeluk dari belakang.


Sepasang tangan meraba permukaan tubuhnya dibagian depan, menggerayang dari perut, bagian sensitifnya, kemudian naik lagi merambat menuju bukit kembarnya. Bulan bergeliat merasakan sentuhan halus nan menggelikan di ceruk lehernya, sapuan lidah berhasil membuat hasratnya kembali menanjak. suara erotis yang terdengar merdu pun tak bisa ditahan lagi, seketika mencuat begitu saja membuat sepasang telinga yang mendengarnya semakin semangat untuk melakukan hal lebih.


"Gun .... eeemh!" desahnya, tangan lelaki ini masih asyik menjamah tubuhnya dibagian bukit, merematnya, memainkan pucuk mungil dengan gemas sampai sensasi yang ditimbulkan sangat menyenangkan Bulan rasakan.


"Me too."


Guntur mengulum senyum. "Will you make love with me, now?"


Bulan mengangguk mengiyakan, ia setuju. tanpa banyak kata, Guntur langsung melepaskan balutan benang yang membungkus tubuh molek sang istri dengan terburu-buru, gairah hasrat menanjak drastis tak tertahankan pada diri sepasang insan yang saling merindukan ini. keduanya sudah sama-sama polos, Guntur membalikkan tubuh Bulan menghadap padanya, langsung merengkuh tubuh mungil ini dalam sekali angkat didalam gendongannya.


Bulan mengalungkan kedua tangan dileher sang suami, kedua kaki ia lilitkan dipinggulnya. kedua bibir ranum mereka saling bertemu seiring nafas yang menggebu-gebu, gairah cinta sudah tak dapat terbendung lagi dan kini harus dilampiaskan dalam relung cinta yang memanas. kian memanas kala anaconda raksasa telah mengeras, sang pemilik langsung menuntun alat tempurnya memasuki sarang anaconda yang telah lama tidak berjumpa. disela-sela pagutan ciuman memanas, suara erotis keduanya juga saling bersahut-sahutan kala tugas negara sedang bekerja dibawah sana. mengayun-ayun begitu lihainya, memporak-porandakan isinya seiring tubuh keduanya berguncang hebat disisi tembok.


"Oh!" Bulan menenggelamkan wajahnya diceruk leher sang suami, jemari-jemari tangannya meremat pundak Guntur dan bahkan mencakarnya. permainan dibawah sana begitu liar dan buas, pergerakan mereka sangat cepat seolah mengejar klim*ks yang diinginkan. hingga gelenyar indah itu mulai timbul, pencapaian keduanya telah berada diujung tanduk, keduanya saling melenguh bersamaan merasakan semburan lahar hangat mencuat deras memasuki sebuah kantung yang berisi segumpal daging yang telah tumbuh.


Keduanya istirahat sejenak untuk menetralisirkan pernafasan yang terasa sesak, membiarkan pagutan dibawah sana tetap menyatu.


"Hhh ... mau lagi?" tanya Guntur, Bulan mengangguk kecil dengan pipi yang sudah memerah merona, kembali menenggelamkan wajahnya diceruk leher sang suami.


Tok tok tok


Ceklek!


Pintu kamar terbuka dari luar, menampikkan sosok seseorang yang memerhatikan mereka dalam diam karena terkejut melihat pemandangan yang luar biasa. Bulan juga tak kalah kaget, ia ingin turun tapi ditahan oleh Guntur.


"Ah, maaf." si pengganggu itu kembali keluar, menutup pintunya dengan cepat seiring dengan detak jantung yang berdegup kencang.


"Oh, astaga!" ia menggeleng-gelengkan kepala, kemudian melenggang pergi setelah pintu ia kunci dan menggantungnya disebuah paku yang tertancap, alih-alih agar tahanan itu tidak bisa kabur jika pintu dikunci dari luar.


Di dalam kamar, Bulan menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Ah, aku malu!"


"Ssstt! dia sudah pergi, kan? kita lanjutkan lagi." Guntur memindahkan tubuh Bulan diatas ranjang, kembali bermain sampai keduanya benar-benar lelah.


🌺🌺🌺


Ya ampun .... panas panas! otor panas nih, ada yang bisa dinginkan eyke? 😩