
"Kamu kenapa lagi El? Kok cemberut gitu?"
Aku mengadakan kepalaku menghadap Pak Arfa, "Kuliah capek-capek, dimarahin Bu Ningsih lah, dianiaya Pak Arfa, sidang juga diuji sama dosen jahat, tapi pas wisuda cuma depan laptop. Betapa malang nasib hayati."
"Azab yang pas untuk mahasiswa yang doyan nitip absen. Sudah lewat juga, El. Selamat sudah naik pangkat dari mahasiswi menjadi pengangguran."
Aku memanyunkan bibirku, "Kan Bapak yang nanti nafkahi saya."
"Siapa bilang?"
"Enggak tahu. Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang."
Pak Arfa mengacak-acak rambutku, "Mandi, El."
"Ngapain mandi? Emang mau kemana?" Tanyaku dengan nada kebingungan.
"Memang kalau saya suruh mandi berarti saya ngajak jalan?"
Aku mengangguk, "Iya dong Pak."
Pak Arfa dengan cepat menyentil dahiku, "Anak gadis jangan jorok. Cepetan mandi."
"Males, Pak."
"Mau mandi sendiri atau saya mandiin?"
"Bapak mandiin."
"Stress kamu."
Aku tertawa melihat Pak Arfa yang salah tingkah, "Loh? Tadi nantangin."
"Saya masih waras. Buruan mandi, habis mandi kita makan malam. Malam ini saya yang masak."
Mataku langsung berbinar mendengar ucapan Pak Arfa, "Serius? Tumben Pak tidak memperbudak saya?"
"Saya yang masak, tugas kamu cuci piring."
Aku lagi-lagi memanyunkan bibirku, "Tuh kan, kalau Bapak baik tuh mustahil seperti kata dosen yang bilang bahwa tidak ada nilai yang sempurna karena kesempurnaan hanya milik Tuhan."
"Nah, itu paham."
"Tapi Pak, saya pernah dengar argumentasi lain loh."
"Apa?" Tanya Pak Arfa.
"Saya pernah dengar bahwa kesempurnaan memang milik Tuhan. Akan tetapi, bagi Tuhan tidak ada yang mustahil."
Pak Arfa hanya mengiyakan ucapanku, sepertinya sudah malas berdialog.
"Mandi!"
"Nanti!"
"Mandi sekarang, Elvia!"
"Nanti Pak Arfa!"
Pak Arfa memberikan tatapan tajam ke arahku, "Hitungan ketiga kamu enggak mandi, saya ceburin ke kolam ikan biar jadi mermaid. Mau?"
Aku menganggukkan kepalaku dengan antusias, "Saya memang cocok jadi putri duyung, Pak."
"Saya tarik perkataan saya tadi."
"Loh, kok ditarik?"
"Saya ralat. Saya ceburin kamu ke kolam ikan biar jadi dugong."
"Seumur-umur baru kali ini saya menemukan calon suami durhaka yang menyamakan calon istrinya dengan makhluk lain bernama Dugong. Sakit hati hayati."
"Saya lebih pening lihat kamu yang seharian belum berniat mandi."
"Apa itu mandi?"
"Kamu mau mandi sekarang atau enggak?"
Aku tersenyum puas setelah melihat Pak Arfa emosi, "Iya iya, bawel."
...💜💜💜...
"Pak, makan malamnya macam apa ini?" Protes aku kala melihat hidangan di meja penuh dengan segala jenis sayur.
"Makan sayur biar sehat." Jawab Pak Arfa dengan nada kalem.
"Saya bukan kambing, Pak. Masa enggak ada warna lain selain warna hijau."
"Kamu kenapa menyamakan diri dengan kambing?"
Aku tersipu mendengar ucapan Pak Arfa, "Iya ya, saya kan bidadari, ya enggak Pak?"
"Kasihan kambing disamain sama kamu."
"Nyebelin."
"Sini bantuin saya."
"Bapak lagi ngapain sih?"
"Kamu enggak bisa lihat saya lagi ngapain?"
Aku mendenguskan napasku mendengar ucapan sinis Pak Arfa, "Sini saya aja yang aduk."
"Beneran?"
"Yakin kamu? Enggak menyesal?"
Aku menganggukkan kepalaku, "Bawel. Berapa kali aduknya?"
"Seratus kali."
Aku cukup terkejut dengan lontaran yang keluar dari mulut Pak Arfa mengenai aku harus mengaduk hingga seratus kali, "Buset dah."
"Bapak mau nyuruh tangan saya encok?"
"Buruan kerja. Talk less, do more. Okay?"
Selagi aku dengan susah payah terus mengaduk hingga menjadi foam, Pak Arfa kembali memasak sayur dengan berbagai teknik. Entah dimasak sop, jadi omelette, atau ditumis. Intinya rasanya sama, karena sama-sama hanya dari sayur."
"El, udah berapa kali ngaduknya?"
"Baru tujuh puluh empat kali."
"Lama banget."
"Capek tahu, Pak."
"Ya udah, siniin biar saya aja."
Setelah mengatakan kalimat tersebut, Pak Arfa membuka laci dan mengambil suatu alat yang membuat diri ini tiba-tiba seperti terserang darah tinggi.
"Kenapa enggak dari tadi sih?"
"Kamu enggak minta." Jawab Pak Arfa seraya tersenyum senang sebab berhasil mengerjai aku.
Dengan santainya Pak Arfa menggunakan mixer di depan mataku.
"Jahat banget, mau request enggak mau nikah."
"Gitu aja ngambek."
"Capek tahu."
"Olahraga tangan, El."
"Tunggu aja pembalasan dari saya."
"El..."
"Apa?" Sahut aku dengan nada kesal.
"Kamu tahu kan kalau kopi itu candu?"
"Tahu. Makanya Bapak selalu ngelarang saya buat minum kopi tiap hari."
"Tapi kamu tahu apa yang lebih candu dari kopi?"
"Apa?"
"Kamu."
"Kopi itu candu. Candu itu kamu." Lanjut Pak Arfa.
"Makanya jangan buat saya marah, nanti candunya Bapak hilang. Saya itu enggak ada obatnya."
"Masih marah?"
"Mana bisa marah sama Bapak."
"Makan yuk."
"Suapin."
"Mau saya suapin pakek kaki?"
Aku tertawa melihat ekspresi kesal Pak Arfa, "Bercanda, Bambang."
"Buruan makan. Hari ini kita hidup sehat."
"Karena Bapak sudah masak, saya makan dengan senang hati."
"Harus jaga kesehatan El selama di rumah. Nanti jangan lupa konsumsi vitamin juga ya."
Aku menganggukkan kepalaku, "Siap, pak boss!"
"Bukan Abang Fotokopi?"
"Jangan diingetin dong Pak."
"Saya masih penasaran, El."
"Kenapa?"
"Saat itu kamu benar-benar mengira saya abang fotokopi?"
Dengan lancangnya kepala ini menganggukkan kepalanya.
"Siap-siap makan sayur dua hari berturut-turut." Titah Pak Arfa dengan kesal.
"Mana ada abang fotokopi seganteng saya."
"Tukang jual gorengan aja ada yang ganteng kok Pak."
"Kamu samain saya dengan tukang gorengan?"
Setelah itu aku memilih untuk menutup rapat mulutku dan makan dengan tenang.