
Magang?
Satu kata yang terlintas dalam otak kalian apa kalau mendengar kata satu itu?
Capek?
Seru?
Ya, bisa dibilang ini hari pertamaku memasuki dunia kerja. Perusahaan tempatku magang itu direkomendasikan oleh tempat kuliahku. Entahlah, tapi yang pasti aku akan meninggalkan kelas-kelas yang menjenuhkan itu sejenak.
"Bang, udah cantik belom?"
Bang Kelvin memperhatikan penampilanku. Matanya menulusuri setiap jengkal busana yang aku gunakan.
"Jelek."
Tuh kan, emang punya abang lucknut itu ngeselin banget.
"Serius, Bang."
"Lu berharap gue jawab apa? Cantik?"
Aku menganggukan kepalaku, "Iyalah."
"Yaudah, cantik." Aku pun tersenyum dengan penuh kemenangan.
"Tapi sayang udah hampir setahun lebih masih gagal move on." Cibir Bang Kelvin.
Aku mendenguskan napasku dengan sedikit kasar. Mendengar kata-kata move on aja udah cukup mengganggu.
"Apaan sih, Bang. Abang juga masih gak dapet-dapet hati mantan kan?"
Raut wajah Bang Kelvin langsung berubah ketika aku menyinggung tentang mantan. Hehe, satu sama!
"Yaudah buruan lu cabut. Gak lucu kan hari pertama kerja udah dimaki?"
"Bacot."
"Emang."
"Yaudah, aku duluan Bang."
Hm, Bang Kelvin mana mau anterin. Jadinya yang nganterin Mas Alvin. Hubungan aku sama Mas Alvin gimana?
Yaa gitu, Mas Alvin sampai sekarang gak nyatain perasaannya ke aku dan aku juga lebih nyaman dengan hubungan yang seperti ini.
"Neng, Alvin udah nunggu di depan." Iya, saking seringnya Mas Alvin ke rumah, Mbak Ica pun sampe hapal.
"Siap, Mbak!" Ucapku mengacungkan jari jempol lalu mencubit pipi Bang Kelvin dengan keras.
"Sakit jiwa ya lu?" Bang Kelvin menghempaskan tanganku dengan sekali hentakan karena kesal.
"Princess mau pergi dulu, bye Bang!" Ujarku sembari menjulurkan lidahku ke Bang Kelvin.
💞💞💞
"Dek, kamu yakin mau kerja disini?" Tanya Mas Alvin memastikan kembali pilihanku sebelum aku benar-benar masuk dan bekerja di hotel bintang lima yang cukup mentereng.
"Iya, Mas. Kenapa?" Tanyaku heran. Karena ini sudah kesekian kalinya Mas Alvin bertanya.
"Ini hotelnya Arfa kan?"
Aku tersenyum mendengar penuturan Mas Alvin, "Emang kenapa Mas?"
Mas Alvin mengerutkan keningnya, "Bukannya kamu gak mau ketemu dia lagi?"
Aku menghela napas panjang sebelum bersuara, "Masa Pak Arfa yang menghilang kabarnya akan terus berkantor di hotel ini? Gak mungkin lah, Mas. Perusahaan Pak Arfa kan banyak banget, hotel gini mah gak mungkin dia yang turun tangan."
"Terserah kamu, semoga hari pertamanya berjalan dengan lancar ya." Sejujurnya ada nada seperti tidak suka yang kudengar dari perkataan Mas Alvin.
"Makasih ya, Mas. Hati-hati."
"Iya. Nanti pulang mau dijemput?"
"Gak usah, Mas. Bisa sendiri kok."
"Yakin? Pulang jam berapa?"
Tuh kan, percuma...
Sebenarnya aku gak mau terlalu ngerepotin Mas Alvin takutnya aku malah ngasih Mas Alvin harapan yang semu.
Kalau orang bilang sih, jangan terlalu baik nanti dia makin sayang. Tapi masalahnya yang baik bukan aku tapi Mas Alvin. Aku jadi gak enak udah ngerepotin Mas Alvin selama kurang lebih setahun ini.
"Malem banget. Pulang naik apa?"
Aku tersenyum simpul, "Gojek kan ada, Mas."
"Gak boleh. Ada banyak kasus gak baik tentang penumpang yang naik taksi online." Larang Mas Alvin.
Sebenarnya, aku tipe orang yang gak suka dilarang sih. Tapi aku ambil sisi positifnya, mungkin Mas Alvin takut aku kenapa-kenapa.
"Kan gak semuanya gitu, Mas. Lagian masih jam 7an kok."
"Saya jemput."
"Mas... Jarak kantor Mas sama hotel ini tuh jauh. Gak deket."
"Iya, tapi kalau saya bilang jemput berarti gak menerima penolakan, El."
Sejujurnya, selama kurang lebih setahun dekat dengan Mas Alvin. Aku jadi sadar satu hal dari sikap Mas Alvin yang cukup berhasil membuat aku risih. Yaitu, sikap posesif dan tidak mau dibantah.
"Tapi kan jauh, Mas."
"El..."
Iya. Udah...
Iyain aja deh Mas Alvin biar cepet masuk kerja.
"Yaudah, hati-hati Mas. Kalau gak sempet jemput jangan dipaksain."
"Iya. Good luck ya."
Aku pun tersenyum lalu melambaikan tanganku kala motor besar yang dikendarai Mas Alvin melaju pergi.
"Silahkan menuju ruangan Mbak Vera terlebih dahulu, Mbak."
Ketika aku sampai di lobi, mbak resepsionis menanyakan perihal identitasku dan langsung melontarkan kalimat tadi.
"Iya, Mbak. Dimana ya?"
"Paling atas, tombol biru Mbak. Nanti pakek lift yang disebelah kanan ya."
Tulisannya sih lift khusus staff. Hal pertama yang terlintas di otakku sih yang pasti lift barang.
Tapi yang pasti ini mah dalamnya kayak lift berlapis emas. Bah, macem sultan kalau aku naik lift ini. Emang beda ya lift holang kaya...
Paling atas?
Tanganku mencoba meraih tombol paling atas di lift tersebut. Tombolnya sih emang warna biru. Entah apa maksud dari tombol tersebut. Tapi memang tadi mbak resepsionis ada kasih tahu bahwa tekan saja tombol berwarna biru.
Ting!
Sempat sebelum melangkah jauh memasuki ruangan yang cukup mewah, aku mengagumi beberapa ornamen yang terukir di dinding marmer.
"Elvia?" Tanya seorang mbak cantik memanggil namaku.
"Iya?" Jawabku yang lagi-lagi terpukau dengan keindahan perusahaan ini, terutama mbak di depanku ini.
"Kamu Elvia kan? Bisa ikut saya sebentar? Atasan kami sudah menunggu."
"Mbak Vera ya?"
Wanita cantik itu tersenyum simpul yang berhasil membuatnya lebih cantik lagi, "Iya."
Atasan?
Masih ada atasan lagi?
Aku pun mengikuti langkah kaki Mbak Vera sambil sesekali berdecak kagum melihat interior lantai ini.
"Ruangannya disini, Mbak. Silahkan masuk."
Ini mau magang aja kayak diperlakukan bak seorang ratu?
"Selamat pagi, Mba--eh?"
Mataku terbelalak saat melihat setelan hitam yang biasa sering kupandangi menatapku dengan mata penuh keputusasaan.
"Pak Arfa?"
Pria itu tersenyum. Tersenyum begitu cerah hingga membuatku ingin segera meninggalkan tempat ini saking kesalnya.