
Jika cintamu memang bukan untukku, maka pergilah. Aku tak butuh ketidakpastianmu.
Sebenarnya sudah sekitar dua hari, Pak Arfa terus menghubungiku.
Bodo amat. Kali ini aku lah yang cuekin dia.
Walaupun kadang masih tergoda pengen bales sih. Habis kangen.
Hari ini merupakan hari dimana para curut memposting foto-foto cokelat yang mereka dapatkan. Hari dimana merupakan hari kelam bagi para jomblo yang haus akan cokelat.
Entahlah untuk apa para curut itu memposting foto-foto laknat tersebut, mungkin sekedar pamer atau hanya kode buat manas-manasin mantan.
Dan disinilah aku.
Duduk sendirian di kafe pelangi sambil mejeng cantik.
Dapet info dari instagram kalau lagi ada promo gratis minum. Lumayanlah daripada ngegalau di rumah.
By the way, ini sudah hampir seminggu aku di Bandung. Rasanya males banget buat balik ke Jakarta.
"Mbak, greentea satu sama kentang goreng ya." Kayaknya mbak waiters itu sudah tahu kalau mukaku itu muka anak muda yang cuman pengen eksis aja mumpung ada promo free minuman apapun. Karena setelah mendengar pesananku, Mbak itu seperti menahan tawa.
"Kami lagi ada promo, Mbak. Karena bertepatan dengan hari Valentine, jadi khusus pasangan free minuman apa saja." Ujar mbak waiters.
"Jadi yang free minuman itu cuman khusus pasangan, Mbak?" Tanyaku.
Yah..
Salah info deh. Emang harusnya dari awal aku blacklist aja tanggal hari ini.
"Dia sama saya Mbak. Saya pesan ice americano dan tandoori chicken wings." Mbak waiters itu pun nampak membulatkan matanya. Terkejut mungkin?
Lalu mbak waiters itu pun langsung sigap kembali ke dapur. Entahlah. Tapi mbak itu kelihatan cemas?
Hmm. Tapi,
Bentar deh..
Kok kayak kenal ya suaranya?
Seperti suara kucing yang bising tapi bikin kangen?
Seperti ada bau-bau parfum yang buat aku muak akhir-akhir ini?
"Pak Arfa? Ngapain?" Tanyaku ketus.
Yaelah, ngapain sih datang. Entar kalau aku gagal move on gimana? Kalau hati ini lemah lagi gimana?
Mau tanggung jawab kamu?!
"Temani kamu." Jawab Pak Arfa lagi-lagi dengan singkat, padat, dan jelas.
"Saya gak butuh ditemani."
Pak Arfa menaikan alisnya sebelah, "Yakin kamu? Kamu jomblo sendiri di antara kerumunan orang pacaran gapapa?"
Alhasil, aku baru sadar.
Gara-gara salah baca promo, aku berakhir di tengah lautan para pasangan bermesraan.
"Yaa.. gapapa. Daripada lihat muka Bapak."
Pak Arfa menatapku.
Cukup lama.
Sekitar sepuluh detik mungkin?
"Ngapain?" Tanyaku sewot ditatap kayak gitu. Kalau lemah lagi gimana coba?
"Kamu tambah cantik." Gombal gembel aja terus. Sorry ya udah gak mempan!
"Gak usah gombal, Pak. Mana Delia?" Tanyaku spontan.
"Saya mau minta maaf, El."
Aku pun memalingkan wajahku yang sudah bersemu merah.
Ga boleh lemah!!!
"Butuh waktu lama bagi kamu untuk mendapatkan kepastian dari saya."
Tunggu..
Kok aku makin gak ngerti sih niat Pak Arfa apa?
Tolong jangan buat aku berekspektasi lagi.
"Maksud bapak?"
"Saya akui kalau saya masih terperangkap dalam masa lalu. Dia wanita pertama yang berhasil membuat saya terketuk hatinya. Dia juga wanita pertama yang mengajarkan saya rasa patah hati."
Maksudnya apaan sih?
Ini tiba-tiba bahas Delia?
Kok kayaknya aku mau tenggelamkan saja orang itu.
"Tapi, izinkan saya untuk dekat dengan kamu. Bantu saya agar terlepas dari jeratan masa lalu."
Aku menahan napasku.
Ini apaan?
Pak Arfa confess?
"Pak, jangan bercanda deh. Saya lagi gak mood." Jawabku.
"Intinya saya sudah meminta izin kamu. Jadi, mulai sekarang kamu harus bantu saya." Titah Pak Arfa.
Izin apaan? Bantu apaan?
"Gak." Jawabku dengan nada kesal.
Kalau kata mbah google kemarin pas aku cek, kita itu harus belajar tarik-ulur biar gak kelihatan gampangan.
"Yaudah, kalau begitu saya gak butuh izin dari kamu."
"Apaan sih Pak?"
"Kamu ngambek sama saya?"
Aku menganggukan kepala, "Masih nanya?"
Pak Arfa mengangkat sedikit ujung bibirnya, "Jangan ngambek. Berat. Biar saya saja."
Gemas, Pak Arfa juga bisa alay ternyata.
Sepertinya virus dilan sudah menyebar keseluruh pelosok individu anak jaman now. Salah satunya yang kena itu Pak Arfa.
"Gimana? Udah kayak Dilan belum?"
"Gak cocok." Balas dendam dong, sekali-kali Pak Arfa aku cuekin.
"Kamu masih marah?" Tanya Pak Arfa lagi.
"Pak, bisa gak bapak diam? Sakit telinga saya dengarnya." Pedes gak nih? Ini masih level rendah belum nyentuh rasa sakit hati aku.
"Telinga kamu sakit?" Pak Arfa memegang kedua telingaku dengan tangannya.
"Modus." Ujarku melepas pegangan tangan Pak Arfa ke telingaku.
Hangat ya tangannya Pak Arfa. Jadi pengen gandeng. Hehe.
Inget! Gak boleh lemah, Elvia!
"Memang." Jawab Pak Arfa enteng.
"Saya pulang ke Jakarta besok. Bapak emang gak ada kelas di Jakarta?" Tanyaku.
"Saya? Saya bebas mau ngapain aja Elvia. Lagian mengajar itu bukan prioritas saya. Mungkin sebentar lagi Bu Ningsih balik ngajar." Jelas Pak Arfa.
"Bapak itu sebenarnya siapa?" Tanyaku melihat Pak Arfa dengan tatapan bingung.