My Annoying Lecturer

My Annoying Lecturer
Pak Arfa Cemburu!


Sesuai dengan janjiku ke Pak Arfa yang bolehin aku nonton konser, kalau aku harus serius nyusun skripsi. Setelah melewati dan menghadapi berbagai rintangan, hambatan, celaan, hinaan. Akhirnya judul skripsiku diterima.



Sekarang sih, udah jalan 40 persen lah.



Cepet kan? Iya dong.


Kan tunangan aku dosen.


Ya walaupun harus melalui ribut dulu baru kelar.



"El."



"Kenapa Pak?"



"Gapapa." Ujar Pak Arfa yang sepertinya agak ragu.



"Kenapa sih Pak? Ada yang mau disampaikan ya?" Ucapku yang terlanjur penasaran.



"Cowok yang kamu posting di Instagram kamu siapa?" Tanya Pak Arfa yang sedang memeriksa beberapa lembar skripsiku.



"Ganteng kan Pak?" Tanyaku balik dengan wajah sumringah.



"Saya nanya butuh jawaban. Bukan butuh pertanyaan lagi." Sewot banget sih Pak Arfa. Kayaknya lagi masa datang matahari. Eh, emang ada? Heheh



"Dia tuh senior saya, Pak. Senior ganteng, Heheh. Ketemu waktu dia lagi main basket. Trus dia duluan loh Pak yang ajak foto. Saya mah mau aja." Jelasku.



"Lalu ngapain foto berdua terus di posting di Instagram?" Hayati mencium bau-bau cemburu dari nada dan raut wajah Pak Arfa.



"Gapapa, Pak. Suka aja. Biar nambah followers gitu."



"Suka?" Nada suara Pak Arfa agak meninggi.



Aku kerjain aja Pak Arfa sekalian. Kan langka nih ngelihat Pak Arfa cemburu.



"Iya. Kak Rio ganteng sih, Pak." Jawabku mencoba memanas-manasi Pak Arfa.



"Gantengan dia atau saya?"



"Kayaknya Kak Rio deh Pak. Soalnya saya tersepona dengan wajah tampannya dia. Trus ya Pak, masa dia juga bilang saya cantik gitu."



"Terpesona bukan tersepona, Elvia. Kayaknya mata dia picek ngomong kamu cantik." Ujar Pak Arfa yang aku tanggapi dengan tatapan tajam.



"Kecantikan saya sudah diakui sampai ke mancanegara ya, Pak. Jangan main-main sama kecantikan saya Pak. Udah diuji di ITB loh."



"Terserah. Ini skripsi kamu masih banyak salah kamu. Perbaiki yang saya coret." Titah Pak Arfa.



Wadidaw.


Ini beneran?



Nih ya, aku kan print delapan lembar gitu. Dari delapan lembar, yang gak dicoret cuman selembar doang. Sisanya dari atas sampai bawah penuh dengan lingkaran warna merah hasil dari tinta pena Pak Arfa.



"Pak? Sebanyak ini?" Tanyaku dengan nada lemas.



"Iya. Kamu mau saya yang komentar atau dikomentari oleh orang lain?" Jawab Pak Arfa dengan mantap.



"Kamu tuh kebiasaan selalu typo. Perhatikan kaedah kebahasaan kamu. Lalu, cari referensi jangan dari satu dua tiga buku saja." Jelas Pak Arfa.



"Iya deh. Makasih banyak loh Pak."



"Oh ya, El. Satu lagi sebelum saya lupa."



"Apa?"



"Dalam hitungan dua puluh empat jam. Kalau foto itu masih nangkring di Instagram kamu. Maka jangan salahkan saya kalau album-album Kpop yang sudah susah payah kamu koleksi dibuang abang kamu." Ancam Pak Arfa.



Iya sih. Aku emang ada perjanjian sama Bang Kelvin.



"Bapak cemburu?" Godaku melihat raut wajah serius Pak Arfa.



"Enggak."



"Kentara banget sih Pak kalau bohong."



"Kerjain cepet skripsinya."




💕💕💕



"Devi! Aldo!" Ujarku saat melihat sepasang kekasih yang gak pernah bosan pacaran ini.



"Ngapain masuk?" Tanya Aldo.



"Gak boleh?" Jawabku sewot.



"Udah. Jangan ribut." Ujar Devi yang sepertinya bosan melihat aku dan Aldo yang setiap kali bertemu pasti ribut.



"Vi, gimana persiapan skripsi kamu?"



"Aman lah pasti. Kan pacarnya dosen." Celutuk Aldo yang langsung menbuatku geram.



"Gak usah cari gara-gara deh, Do. Kan Devi nanya ke gue bukan ke lu."



"Yaudah sih, jangan ribut." Ucap Devi.



"Maaf ya Beb, abis Elvia tuh tiap datang mukanya ngeselin. Makanya aku bawaannya pengen ribut mulu." Ujar Aldo sok manis ke Devi.



"Geli gue lama-lama disini."



"Yaudah, sono pergi. Ganggu orang pacaran aja." Usir Aldo.



"Oh ya Vi, kamu gimana sama Pak Arfa?" Tanya Devi.



"Emang kenapa? Gimana apanya?" Tanyaku balik.



"Kamu gak dengar rumor?"



"Rumor apaan?"



"Rumor kalau Pak Arfa deket sama Bu Desy." Jawab Aldo.



"Oh. Bu Desy?"



"Oh doang nih?"



"Iya. Pak Arfa udah cerita kok masalah itu."



"Cerita gimana?" Tanya Devi yang sepertinya mulai penasaran.



"Bu Desy emang naksir Pak Arfa. Tapi Pak Arfa udah nolak. Btw, nih ya Dev, Do. Kalau misalkan gue terlalu peduli sama rumornya Pak Arfa, namanya gue nyari masalah sendiri. Pasti capek hati. Lah orang Pak Arfa itu penyandang nama Davies, ditambah ganteng lagi. Pastinya banyak cewek yang dekat dan mengidamkan Pak Arfa. Gue mah selow aja. Kan Pak Arfa udah berhasil gue taklukkan." Jelasku panjang lebar.



"Alah, gaya lu El. Udah kayak iya aja." Celutuk Aldo yang langsung aku balas dengan senyuman mengejek.



"Apa sih Do? Heran gue sama lu, ngajak ribut mulu." Geramku.



"Ya abis lu ngeselin."



"Beb, jangan ganggu Elvia terus dong." Akhirnya nyonya Devi buka suara. Heheh.



"Siap Bu Boss!" Ujar Aldo yang langsung nurut.



"Dev, aku mau nanya hal penting nih." Ujarku sembari memandang tajam ke arah Aldo.



"Nanya apa Vi? Awas ya kalau gak berfaedah."



"Beli papan kagak mulus."



"Hah?"



"Kapan putus?" Lanjutku yang langsung dihadiahi tatapan tajam dari Aldo.



"Elvia!" Pekik Aldo yang geram dengan pertanyaan yang aku ajukan.