My Annoying Lecturer

My Annoying Lecturer
Far Away (2)


Udah seminggu.


Iya, waktu sudah berlalu selama seminggu. Selama satu minggu itu aku menghindari Pak Arfa.



Selama satu minggu pula, aku bungkam mengenai masalah foto-foto Pak Arfa dan Delia yang aku dapatkan dari Mas Alvin.



"El. Kenapa diam terus? Kamu buat saya khawatir."



Aku hanya tertawa hambar mendengar penuturan Pak Arfa, "Saya sibuk, Pak. Kalau gak ada hal penting, saya permisi."



"Kamu gak lagi demam kan El? Atau kena virus mendadak bisu?" Entah kenapa pernyataan Pak Arfa terdengar bernada sarkas.



Aku mencoba mengontrol emosiku. Jangan sampai aku nangis disini. Membayangkannya saja aku tak sanggup.



"Pak, kalau pertunangan kita dibatalkan gimana? Perusahaan papa juga sudah mulai stabil kan?"



Pak Arfa mengerutkan keningnya mendengar ucapanku yang tiba-tiba, "Maksud kamu apa sih El?"



Nada suara Pak Arfa terdengar frustasi. Tapi, sebenarnya aku yang lebih frustasi dengan sikap Pak Arfa.



"Saya pergi." Ucapku lalu keluar dari ruangan Pak Arfa.



Gak disangka, Pak Arfa malah menggenggam pergelangan tanganku.



"Bapak gila?"



"Saya gila karena kamu yang mendiamkan saya, El."



"Saya pikir bapak bahagia karena saya gak ganggu bapak lagi."



"Kamu kenapa El? Tolong, cerita kalau ada masalah."



"Saya mau pulang, Pak."



"Tolong jangan begini, El."



"Bapak mau apa sebenarnya? Saya kan sudah bilang saya mau pulang! Kalau saya bilang mau pulang, ya mau pulang Pak!" Ucapku dengan nada tinggi. Mungkin, air mataku sudah sangat siap untuk meluncur.



"Saya hanya butuh penjelasan kamu, El."



Aku mengernyitkan dahiku, "Apa yang perlu saya jelasin Pak?"



Jujur saja, sekarang emosiku sedang sedikit labil.



"Sikap kamu." Ucap Pak Arfa dengan nada tegas.



"Bapak pernah jenuh?"



Pak Arfa tampak tak mengerti dengan maksud pertanyaan yang aku ajukan, "Jangan berbelit-belit, El."



"Bapak bahkan belum membalas pertanyaan yang saya ajukan."



Pak Arfa menggenggam tanganku, tatapannya yang teduh hampir saja membuatku luluh, "Elvia. Saya pernah menemui titik jenuh. Tapi, apa sebenarnya maksud yang ingin kamu sampaikan?"



"Pak. Saya juga sepertinya sudah mulai merasakan titik jenuh itu."



Aku perlahan menarik napasku yang mulai terasa berat, "Saya sudah jenuh menghadapi perilaku bapak. Saya sudah jenuh menjaga hati saya untuk bapak. Saya juga sudah jenuh dengan sikap saya yang terlalu mencintai bapak."



"Pak... Saya mau kita break dulu. Tolong hargai keputusan saya. Saya hanya ingin sendiri."



Pak Arfa seakan kehilangan kata-katanya, ia hanya memandangku dengan seribu pertanyaan yang mungkin sedang berkecamuk di kepalanya.



"Maksud kamu apa El?" Nada suara Pak Arfa melemah.



"Saya butuh waktu, Pak."



Pak Arfa diam.


Lama sekali, mungkin sudah sekitar 10 menit Pak Arfa diam.



"Saya terima keputusan kamu, El. Tapi, kalau kamu sudah bisa saya ajak bicara. Tolong temui saya. Jangan sembunyi."



Aku pun hanya membalas dengan anggukan kepala lalu memutuskan untuk segera pergi, sebelum Pak Arfa melihat mataku yang sepertinya sudah tak kuasa menahan air mata.




💕💕💕



"El, kamu nangis?"



Entah kenapa, aku tidak memilih untuk segera pulang. Malah aku memilih untuk duduk di taman belakang kampus sendirian.



Taman ini sebenarnya indah, tapi sayang sekali sedikit tidak terawat karena jarang dijamah oleh mahasiswa/i.



"Mas Alvin?" Ucapku sembari cepat-cepat mengusap air mata yang entah sudah berapa lama pecah.



"Kamu nangis, dek?"



Aku menggelengkan kepalaku, "Kelilipan."



Mas Alvin menjitak pelan kepalaku, "Gak usah bohong."



Aku pun mengisyaratkan Mas Alvin untuk duduk di sampingku.



"Arfa?"



Aku menganggukan kepalaku. Toh percuma juga jika aku berbohong kepada Mas Alvin.



"Dia ngaku?" Tanya Mas Alvin.



"Ngaku apa?"



Mas Alvin tersenyum, "Menurut kamu ngaku apa lagi?"



Aku menggelengkan kepalaku, "Enggak, Mas. Saya belum ngasih tahu Pak Arfa."



"Kenapa?"



Aku tersenyum kecut, "Gak siap. Saya belum siap dengar jawaban Pak Arfa."



"Kalau kamu terlalu mencintai dia. Berarti kamu kalah, El."



Aku memandang lamat wajah Mas Alvin, "Saya tahu, Mas. Saya sudah kalah. Saya sudah terlalu mencintai Pak Arfa sehingga saya takut kehilangan Pak Arfa."



"Mau sampai kapan kamu begini? Memendam perasaan kamu seperti ini?"



"Sampai hati saya sudah kuat untuk merelakan Pak Arfa."



Mas Alvin secara tiba-tiba memegang tangan kananku dengan lembut.



"El, saya janji saya akan jaga kamu."



Aku terkesiap.


Maksud Mas Alvin apa?



"Saya gak akan buat kamu nangis, saya janji bahwa kebahagiaan kamu adalah prioritas utama saya."



"Mas..."



Lidahku kelu, pikiranku berkecamuk. Bahkan, aku sudah tidak mampu mencerna ucapan Mas Alvin.



"Elvia, saya tahu kamu butuh waktu."



"Tapi, kapanpun kamu butuh saya. Saya akan selalu ada buat kamu."



Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Mas Alvin, "Mas tahu kan seberapa besar saya mencintai Pak Arfa?"



"Saya juga tahu seberapa sering Arfa nyakitin kamu."



"Elvia, jangan ditahan. Kalau mau nangis, saya bisa pinjamkan pundak saya."



Aku pun terisak. Entah kenapa, tapi sepertinya ini patah hati pertama yang tidak mungkin aku lupakan.



Mengapa patah hati bisa sesakit ini?