
Setelah sampai di Bandung, aku pun memutuskan untuk mampir ke rumah Papa dulu. Ntar aku dikutuk jadi anak durhaka lagi kalau gak nyamperin Papa, Heheh.
"Pak, gapapa nih ke rumah Papa bentar?" Tanyaku memastikan.
Pak Arfa melirik arloji yang melekat di tangan kekarnya, "Gapapa, kok. Masih ada banyak waktu."
"Yes! Makasih Pak Arfa!"
"Tapi habis itu kamu harus siap-siap pegal."
"Kenapa?"
Pak Arfa pun menunjuk bagian puncak kepalaku hingga kakiku, "Perlu dipermak."
Aku pun meninju pelan lengan Pak Arfa, "Permak apaan? Bapak mau saya operasi plastik gitu?! Saya masih love myself loh, Pak.
"Maksud saya bukan permak yang itu."
Aku yang sekarang mengerti maksud Pak Arfa pun langsung berdegik ngeri, "Pak, tolong lah. Kata Bapak kan saya cantik apa adanya."
"Jangan halu. Saya gak pernah ngomong gitu."
"Bener ya Pak?"
"Bercanda kok, El. Tapi kamu akan lebih cantik kalau kamu mau dandan. Kan ini acara keluarga saya El, masa iya ke pesta nikahan pakek kaos sama jeans."
Aku pun menahan tawaku, "Memelas dulu dong, Pak."
"El..."
Karena tidak tahan dengan wajah Pak Arfa, aku pun memutuskan untuk setuju dengan permintaan Pak Arfa.
Untuk beberapa saat suasana cukup hening. Pak Arfa yang fokus dengan kegiatan menyetir sedangkan aku sedang fokus streaming.
"Oh ya, Pak." Ucapku tiba-tiba yang sontak membuat Pak Arfa sedikit terkejut.
Sebenarnya suasana hening sepert tadi itu meripakan salah satu momen langka. Tumben banget kan aku sama Pak Arfa bisa kalem?
"Iya?"
"Yang balesin surat Bapak itu, Mas Alvin."
Pak Arfa membalas dengan tersenyum kecut, "Ya, saya tahu."
"Bapak udah tahu?" Ujarku sembari memicingkan mataku.
Pak Arfa menganggukan kepalanya, "Saya sebenarnya kurangyakin, tapi dari balasan suratnya saya agak ragu
kalau itu tulisan kamu. Soalnya bagus."
"Pak! Tolong jangan selipkan hinaan di sela-sela cerita."
"Sebenarnya saya sempat bertemu Delia waktu kamu bilang saya hamilin dia."
"Disitu dia cerita kalau sebenarnya Alvin yang kasih ide supaya dia ngomong ke kamu. Saya tanya gimana dia bisa
kenal Alvin. Jawaban dia sih, dia memang sempat beberapakali ketemu Alvin waktu Alvin lagi kerja jadi photographer."
"Saya gak nyangka deh, Pak. Mas Alvin sejahat itu."
"Sebenarnya saya gak bisa marah juga ke Alvin, El. Karena kelihatannya dia tulus sama kamu, makanya dia dibutain karena cinta. Tapi saya gak senang dia dekat dengan kamu, karena takut hati kamu bakal goyah."
"Iya sih, Pak. Mas Alvin itu baik banget."
"Saya kan udah bilang Elvia, jangan puji cowok lain selain saya."
"Dasar cemburuan!"
"Kamu bilang apa?"
"Bapak ganteng."
"Cemburu itu tanda sayang, El."
"Iyain aja deh, biar cepet."
"Ntar di salon jangan banyak tingkah. Biar cepet."
"Iya Pak Bawel."
"Enggak kok, Pak Ganteng."
Lalu percakapan kami berhenti karena sudah memasuki salon yang selama kurang lebih dua jam akan menjadi neraka bagiku.
💞💞💞
"Pak! Cantik gak?"
Pak Arfa memperhatikan penampilanku. Dress selutut berwarna merah muda, rambut yang dibiarkan terurai dan bergelombang di ujung rambut, serta heels yang menambah kesan tinggi pada postur tubuhku.
"Jelek."
Aku merengut kesal, "Tapi matanya berbinar tuh Pak pas lihat saya."
"Pakaian kamu yang cantik."
"Udah deh, Pak. Ngaku aja kalau saya cantik. Kok Pak Arfa sekarang doyan salting sih?"
Pak Arfa memalingkan wajahnya sebentar, menurutku itu terlihat gemash.
"Pak! Ayo!"
"Ayo kemana?"
"Ke pesta. Emang kemana lagi?"
Sepertinya karena gugup, Pak Arfa menjadi sedikit tak fokus, "El, saya sangat yakin kamu itu mentalnya kuat. Iya kan?"
Aku mengernyitkan dahiku, "Hm? Bapak meragukan mental saya? Kalau mental saya lemah, saya gak mungkin mau sama bapak."
Pak Arfa menjitak kepalaku pelan, "Kamu yakin? Tahan banting kan?"
"Saya gak belajar bela diri Pak, mana bisa tahan banting." Elakku.
"Saya serius, Elvia. Karena keluarga saya lebih seram dari Thanos."
"Pak, cinta bisa mengalahkan rasa takut saya terhadap keluarga Bapak kok. Tenang aja." Ujarku dengan nada yang mantap.
Pak Arfa pun tersenyum puas mendengar jawabanku. Walaupun Pak Arfa tahu aku itu lagi ngegombal.
💞💞💞
"Arfa."
Saat aku mendengar suara berat namun terdengar berwibawa, sontak saja bulu kudukku merinding. Aku yakin seratus persen bahwa itu pasti ayahnya Pak Arfa. Soalnya kalau orang lain manggil Pak Arfa itu pasti ada embel-embel Pak karena mereka segan.
"Pa," sapa Pak Arfa dengan senyuman tipis.
Pergelangan tanganku langsung digenggam oleh Pak Arfa, sepertinya Pak Arfa mau menenangkan aku yang sedang gugup.
"Gapapa, El. Katanya udah siap mental?" Bisik Pak Arfa yang langsung aku tanggapi dengan senyuman kaku.
"Pa, kenalin ini Elvia."
Haduh, saat namaku disebut oleh Pak Arfa rasanya kayak ada kupu-kupu yang terbang di perut. Geli dan bener-bener gak biasa.
“Hai, Om. Saya Elvia.” Ujarku dengan nada sedikit gugup. Gimana ya, karismanya Papa Pak Arfa tuh patut aku acungi jempol.
“Ya, saya banyak dengar tentang kamu dari Arfa.” Jawab Om Hartanto—nama ayahnya Pak Arfa dengan nada datar. Garis bawahi! Nada datar!
Aku pun hanya membalas ucapan Om Hartanto dengan senyuman canggung.
“Elvia?”
Aku menoleh karena daritadi pandangan mataku hanya tertuju ke bawah, “Ya Om?”
“Apa yang kamu suka dari Arfa?”
Alamak cik, pertanyaan macam apa ini.
“Hah?”
Otakku sepertinya tak sempat berpikir untuk beberapa saat. Ini kayak pertanyaan yang
diajukan oleh calon papa mertua ke yang ngelamar anaknya gak sih?
Kan aku lagi gak ngelamar Pak Arfa!