My Annoying Lecturer

My Annoying Lecturer
Berjuanglah, Pak!


"Kamu gak makan?"



Aku hanya membalas pertanyaan Pak Arfa dengan anggukan kepala. Iya, tadi kami menggunakan salah satu aplikasi ojek online untuk memesan makanan.



"Diet?"



"Iya. Biar Mas Alvin makin suka."



Raut wajah Pak Arfa perlahan berubah menjadi masam. Entahlah, tapi kini Pak Arfa menghentikan aktivitas makannya seraya menatapku lekat.



"Kamu pacaran sama Alvin?"



Aku pun hanya mengangkat bahuku, "Mungkin iya."



Pak Arfa lagi-lagi menatapku dengan tatapan yang sulit untuk aku tafsirkan, "Kamu yakin El?"



Aku menganggukkan kepalaku, "Iya. Bahkan aku udah gak pakai cincin tunangan. Bapak gak mungkin gak sadar kan?"



Aku menunjukkan jari manisku yang mana dulu sempat tersemat sebuah cincin, dan kini cincin itu sudah menghilang dari jari manisku karena sudah kulepaskan.



"El..."



Aku tersenyum kecut, "Hati saya itu bukan pintu yang bisa seenaknya aja bapak masukin lalu keluar sesuka bapak. Kalau ada yang mengetuk pintu saya dengan tulus, maka gak salah kan kalau saya biarkan masuk?"



"Kenapa bapak gak ngasih tahu kebenarannya? Gak ngasih kabar sebelumnya? Karena saya yakin bapak pasti mikir saya cuman akan marah sebentar, lalu bapak bisa buat saya luluh lagi. Iya kan?"



Aku menghela napas panjang, "Bapak kasih tahu Bang Kelvin tapi gak ngasih tahu saya, karena apa? Karena bapak terlalu meremehkan saya."



Aku berdiri bergegas untuk pergi, "Maaf, Pak. Kayaknya hari ini saya libur dulu. Potong gaji aja gapapa. Besok tugas saya bukan disini lagi kan? Tolong kerjasamanya, Pak. Saya rasa kita harus profesional.


Tentu bapak sangat mengerti kata itu dengan baik, bukan? Terima kasih."



💞💞💞



"Lu pulang cepet banget?" Bang Kelvin yang entah kenapa gak ngantor menatapku heran saat melihat wajah kusutku.



"Menurut abang aja ya kenapa." Jawabku ketus.



Bang Kelvin melepas kacamata yang bertengger di hidung mancungnya, "Udah tahu dari Arfa?"



"Gak lucu tau gak?"



Bang Kelvin melihatku dengan tatapan ragu, "Maaf. Sebenarnya waktu gue ke tempat dia, dia udah ngejelasin semuanya. Gue sih yang ngasih saran supaya dia fokus dulu ke kerjaannya. Karena peluang dia buat sukses itu kurang dari dua puluh persen, dek. Mustahil banget."



"Terus kenapa abang tega selama ini ngebiarin aku larut sama pikiran aku kalau Pak Arfa itu hamilin Delia?"



"Gue pikir lu cuman seminggu doang urak-urakan tentang hal itu."



"Delia emang hamil. Tapi bukan anaknya Arfa. Gue udah pastiin itu. Arfa juga udah beresin masalahnya sama Delia." Lanjut Bang Kelvin.



"Aku nangis tiap malem, Bang! Abang tuh ngeselin banget sih!"



"Karena gue paham lu dek. Kalau lu tahu, lu pasti buat Arfa gak usah perjuangin lu. Lu itu keras kepala! Apalagi kalau udah ketemu bokapnya Arfa. Gue yakin lu bakal lebih sakit hati lagi. Makanya gue bilang ke Arfa supaya gak nemuin lu dulu sampe dia bisa nyelesain masalah dia sama bokapnya." Jelas Bang Kelvin.



Aku melirik Bang Kelvin sekilas, "Manusia bisa berubah kan, Bang? Gimana kalau perasaan aku berubah?"



Bang Kelvin sedikit tersentak mendengar penuturanku, "Gue yakin enggak, dek."



"Tau darimana? Sekarang aku malah tambah benci Pak Arfa, sama halnya ke abang. Aku capek, Bang. Mau istirahat."



"Maafin gue. Gue gak bermaksud gitu."



"Aku maafin kok. Abang sama Pak Arfa kan sama-sama anggep aku gak penting. Remehin aja terus, gapapa kok."



"Maksud kami berdua bukan gitu, dek."



Bang Kelvin melihatku berbelok arah mau keluar rumah, "Mau kemana? Katanya capek?"



"Keluar. Mas Alvin tiba-tiba chat ngajak jalan."



Bang Kelvin menghempaskan tubuhnya ke sofa, lalu memijat pelipisnya dengan perlahan.




Aku menjulurkan jari jempolku, "Good advice! Makanya aku udah capek percaya sama abang dan Pak Arfa, karena terlalu dianggep gak begitu penting jadinya aku disepelekan."



Bang Kelvin pun hanya diam sebagai tanggapan dari kalimat yang aku lontarkan tadi.



"Mungkin abang merasa aneh karena aku gak pernah bersikap kayak gini sebelumnya. Tapi satu tahun bukan waktu yang singkat, Bang. Semua orang bisa berubah, termasuk aku. Iya, aku dulu bucin banget. Lemah kalau soal cinta, tapi aku yang sekarang gak mau jatuh ke lobang yang sama untuk kedua kalinya." Jelasku lalu pergi keluar rumah, soalnya mamang ojek yang aku pesan dari salah satu aplikasi ojek online sudah tiba.



Hari ini cukup melelahkan, baik hati maupun pikiran. Gimana enggak? Pak Arfa yang sekian lama menghilang tiba-tiba datang dengan wajah tidak bersalah, lalu Bang Kelvin yang selama ini sekongkol sama Pak Arfa, ditambah dengan Mas Alvin yang makin posesif.



"Kenapa lagi sih, nona Elvia? WA udah kayak orang mau bunuh diri. Sampe ngancem kalau aku gak datang." Ujar Devi sembari menyeruput matcha latte favoritnya.



Iya, aku sekarang lagi di Kafe dekat rumah sama Devi. Mas Alvin kan kerja, gak mungkinlah aku ganggu. Tadi aku cuman bohongin Bang Kelvin doang kok. Soalnya Bang Kelvin emang menunjukkan guratan gak setuju secara implisit kalau perihal Mas Alvin.



"Yaa, abis. Kalau gak diancem, pasti alesannya lagi bareng Aldo. Lelah hati incess." Ucapku murung.



"Yaudah, cerita deh. Jadi kenapa?"



"Pak Arfa kembali, Dev."



Devi tersedak mendengar lontaran kalimat yang aku keluarkan, untung aja gak muncrat.



"Serius? Minta balikan ke kamu gitu?" Tanya Devi dengan raut wajah shock.



Aku menganggukan kepalaku sebagai respon dari pertanyaan yang Devi ajukan, "Bisa dibilang gitu."



"Terus, terus gimana?"



"Aku marah lah, jelas. Parahnya lagi selama ini Bang Kelvin juga udah tahu dan sekongkol sama Pak Arfa."



"Sekongkol gimana?"



"Bokapnya Pak Arfa gak setuju sama hubungan aku dan Pak Arfa, sebenarnya waktu tunangan juga bokapnya Pak Arfa gak kelihatan. Jadi, waktu itu Pak Arfa ada niat mau ngelamar aku pas aku udah lulus."



"Gila, bisa gitu ya? Kamu mau dilamar? Aldo aja gak pernah tuh ada niat mau ngelamar padahal udah pacaran dari jaman batu. Aldo tuh serius gak sih sebenarnya?" Potong Devi.



Devi niat dengerin aku cerita gak sih?


Kok malah dia yang curhat?



"Dev, dengerin dulu lah..."



Devi hanya menampilkan cengiran kuda lalu menyuruhku untuk melanjutkan ceritaku yang terpotong karena ulahnya.



"Ternyata bokap Pak Arfa gak setuju, dan ngasih syarat ke Pak Arfa agar beliau setuju. Karena satu dan lain hal, Pak Arfa biarin aku kalut sama kebohongan yang selama ini aku percaya. Kalau Delia itu hamil. Tapi, ternyata itu bohong. Tapi Pak Arfa sama sekali gak kasih penjelasan dan ngebiarin aku kayak orang bodoh selama ini. Ngeselin gak sih?"



Devi hanya cengo mendengar penuturanku, "Gila, kisah kamu lebih rumit dari sinetron yang udah ribuan episodenya, El."



"Makanya, sekarang aku mau balas dendam."



Dahi Devi mengerut, "Balas dendam gimana?"



"Ya, buat Pak Arfa berjuang lah."



"Caranya?"



"Kalau dia emang serius dan cinta, harusnya dia juga berjuang dalam hubungan ini. Bukan hanya aku aja. Dia harus ngerasain apa yang udah aku rasain selama kurang lebih setahun ini. Biar tau rasa."



Devi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapanku, "Serah deh, gak ikut-ikut. Ntar nilai aku merah lagi."



"Kok jadi nilai?"



"Kamu gak tahu?"



"Pak Arfa kan balik ngajar lagi."



"Hah?"



"Kudet kamu."