
Satu kata buat aku?
Rumit. Aku akan mendefinisikan diriku sendiri dengan kata rumit. Tapi, bagi sebagian orang mungkin aku itu orang yang cukup simple.
Aku marah apabila ada sesuatu yang menyesakkan. Aku nangis apabila ada sesuatu yang mengharukan. Aku bahagia apabila ada sesuatu yang menggembirakan. Pola pikirku memang kadang sesederhana itu.
Sejujurnya, aku sangat marah saat Pak Arfa tiba-tiba membatalkan janji yang ia buat.
Bukankah itu seperti mencerminkan bahwa Pak Arfa itu seorang pria yang tidak bertanggungjawab?
Aku tidak sebodoh itu untuk tak berpikir demikian.
Namun, ada tiga hal yang aku yakini hingga sekarang.
Komitmen.
Percaya.
Jujur.
Tiga kata tadi merupakan dasar dari prinsip ku ketika menjalani sebuah hubungan.
Belajar dari hubungan kedua orang tua ku yang gagal dalam menjaga rumah tangga mereka karena mengingkari komitmen sehidup semati, mulai dari kejadian itu aku pun belajar bahwa komitmen itu penting dalam suatu hubungan.
Pak Arfa. Dia emang annoying, sering buat salah paham dengan segala tingkahnya. Tapi, dia juga tipe orang yang menjelaskan. Dia mau meluruskan. Dan itu merupakan salah satu poin penting yang aku suka dari Pak Arfa.
Aku marah gak soal insiden Pak Arfa gak ada kabar pas janji mau dinner tapi malah ke rumah Delia?
Jelas! Aku dengan tegas mengatakan iya, aku marah.
Tapi, jujur aku juga sempat menaruh simpati ke guguk. Eh Mbak Delia deng.
Toh, dibanding dinner bareng aku, mungkin waktu Pak Arfa bisa lebih bermanfaat untuk nolong nyawa satu orang. Kalau saat itu aku dan Pak Arfa egois, mungkin bisa-bisa Mbak Delia kenapa-kenapa.
Yang aku keselin sih, kenapa harus repotin Pak Arfa mulu. Kan aku cemburu.
Sebenarnya aku bisa bedain kok, mana harus marah mana harus ngambek doang. Ketika aku ngambek, gak usah deh sogok pakek perhiasan atau barang-barang branded. Soalnya gak mempan di aku, cukup bawain makanan aja, aku udah lemah.
Aneh? Ya.. tapi aku memang wanita yang seperti itu. Hehehe.
Dibandingkan menggunakan kata lemah atau tangguh, aku lebih suka berada di antara kedua kata itu.
Yaa.. memang terkadang aku lebih ke lemah sih, habis gimana coba mau marah kalau Pak Arfa tampan begitu? Hehehe. Maklum lah.. cinta itu emang buta.
"Elvia, kalau mau bengong mending keluar dari kelas saya." Tegur Pak Arfa yang mendapat sambutan semua tatapan yang langsung tertuju kepadaku.
"Maaf, Pak."
Emang yah, Pak Arfa. Gak bisa sekali aja gak marahin aku pas ngajar.
By the way, ini hari terakhir Pak Arfa ngajar. Soalnya Bu Ningsih udah comeback. Bentar lagi juga aku udah masuk semester lima. Udah harus mulai fokus banget dengan kuliah, walaupun sedih sih gak bisa ngelihat wajah gantengnya Pak Arfa lagi kalau lagi suntuk belajar. Hehehe.
Kelas Pak Arfa pun usai. Berakhir dengan tangisan bombay ciwi-ciwi yang haus akan lelaki tampan.
"Elvia, mau temani saya jenguk Delia sebentar?"
Aku menganggukan kepalaku, "Iya, boleh."
"Kamu gapapa?"
"Jenguk temen emang harus aku batesin?"
Pak Arfa menepuk pelan pucuk rambutku, "Pesona kamu itu terlalu banyak Elvia. Saya makin cinta."
"Apaan sih, Pak."
"Gak usah muji deh Pak, nanti saya tebas dengan kecantikan saya."
"Emang salah saya muji kamu, El."
💥💥💥
"Pak, di room nomor berapa?"
Pak Arfa gak menjawab tapi langsung membukakan pintu. Hehe.
"Makanya dengerin kalau udah di kasih tahu."
Yah..
Diomelin lagi.
"Iya sih, biasa aja kali Pak."
"Kamu yang gak biasa aja."
"Bukannya bapak yang nyolot ke saya?"
"Saya?"
"Iya."
"Kalian kesini mau jenguk saya atau mau adu mulut?" Suara Mbak Delia berhasil memecah kebisingan yang dibuat oleh aku dan Pak Arfa.
"Pak Arfa nih mbak, ribet banget jadi cowok. Ngomel mulu." Rutukku.
"Kalau gak mau Arfanya, buat saya aja."
"Enak aja. He's mine."
"Saya bercanda, Elvia."
"Gak lucu tuh Mbak."
"Udah Elvia, kita kesini niatnya mau jenguk."
"Kamu gimana? Dokter bilang kapan boleh pulang?"
"Harus rawat inap dulu, masih belum dipastikan kapan. Makasih ya, Mas. Udah mau bantuin aku waktu itu."
Kok nyesek ya ngelihat Mbak Delia sok manis gitu?
Sebenarnya dia sok manis atau emang manis gitu ya? Hehehe.
"Lain kali minta tolong orang lain aja." Gumamku kecil.
"Gak mau, saya nyaman dengan Mas Arfa." Ucap Mbak Delia dengan nada mengesalkan.
"Tapi saya gak nyaman dengan kamu yang sering minta tolong Pak Arfa."
"Mas Arfa gak pernah protes kok." Kilah Mbak Delia.
Guguk satu ini makin didiemin malah ngelunjak ya?
"Saya yang protes. Saya tunangan Pak Arfa."
"Iya ya? Gak janji tapi."
Pak Arfa hanya tersenyum canggung mendengar percakapan aku dan Mbak Delia. Sungguh, percakapan memperebutkan Pak Arfa yang tidak ada faedahnya.