
"Hai, Mbak Zelia." Sapaku saat melihat Mbak Zelia yang sudah sampai terlebih dahulu di restoran mewah pilihan Pak Arfa dan Mas Gavin.
"Oh? Hai?" Mbak Zelia nampaknya tak mengenali aku bila ditinjau dari caranya membalas sapaanku.
"Dia Elvia. Tunangannya Arfa." Jelas Mas Gavin ke Mbak Zelia.
"Penggemar buku kamu juga." Lanjut Mas Gavin yang membuat mata Mbak Zelia berbinar.
"Beneran? Hai Elvia." Ada nada antusias yang terlontar dari mulut Mbak Zelia.
"Mantan, Mas. Bukan tunangan." Koreksiku ke Mas Gavin.
"Gak. Gak ada mantan tunangan." Ucap Pak Arfa.
"Ada." Jawabku.
"Gak ada." Balas Pak Arfa gak kalah sengit.
"Kalau masih mau berantem mending gak usah makan." Nada datarnya Mas Gavin berhasil membungkam mulutku dan Pak Arfa.
Ibaratnya kalau Pak Arfa itu meong, maka Mas Gavin itu macan.
"Udahlah, Mas. Jangan terlalu seram gitu ke Mas Arfa sama Elvia. Ntar mereka kabur." Ucap Mbak Zelia.
"Mbak pacarnya Mas Gavin?"
"Bukan. Mas Gavin nolak saya."
"Lu nolak Zelia, bro?" Bisik Pak Arfa yang sebenarnya masih bisa aku dan Mbak Zelia dengar.
"Dia ngarang." Jawaban Mas Gavin cuman dua patah kata yang terkesan ambigu.
"Yaudah, berarti kamu pacar aku."
"Bukan."
"Mau kamu apa sih, Mas?"
"Makan dengan tenang."
Aku pun saling melirik dengan Pak Arfa. Jujur, situasinya benar-benar canggung sekarang.
Tadi sok iyes marahin aku dan Pak Arfa. Lah orang sendirinya juga ribut sama pacarnya.
"Oh ya Elvia, kamu udah baca buku aku yang mana aja?" Tanya Mbak Zelia yang kuyakini hanya basa-basi semata agar suasana tidak semakin canggung.
"Semua Mbak." Jawabku mantap.
"Mantap jiwa." Ucap Mbak Zelia sambil memberikanku dua jempol. Aku pun menanggapi jempol Mbak Zelia dengan senyum terbaikku.
"Oh ya, hari ini aku ada janji sama Ricky. Jadi, aku duluan ya." Mbak Zelia melanjutkan ucapannya.
Ada raut wajah tak senang yang terpampang di muka Mas Gavin.
"Saya antar." Ujar Mas Gavin.
"Gak perlu."
"Jangan membantah."
Uh, kata-kata itu jadi mengingatkan aku dengan pesona galaknya Pak Arfa dulu. Tapi bedanya kalau Pak Arfa lebih manis, Mas Gavin lebih pahit.
"Pak, kita kayaknya ganggu orang pacaran yang lagi berantem deh." Bisikku dan entah kenapa tubuhku otomatis mendekati Pak Arfa.
"Pergi yuk?"
"Ayo dah, Pak. Sekalian biar mereka yang bayar makanan."
💞💞💞
"El..."
Aku memutar bola mataku malas. Tingkah Pak Arfa udah kayak bayi resek. Bayi kan biasa imut tuh, ini mah amit makanya resek.
"Apaan sih Pak?"
"Beneran nih kita ke hotel?"
Aku hanya menganggukan kepalaku.
"Gak usah kerja gak apa."
"Ntar dipecat."
"Saya kan bosnya, El."
"Gak mau nepotisme."
Pak Arfa yang sedang menyetir pun melihatku dengan tatapan tidak suka.
"Jalan aja yuk?"
Sejak kapan meong jadi manja gini? Ngilang hampir setahun masa dalam kurun waktu segitu bisa berubah jadi hello kitty?
"Gak mau. Kata dosen saya kita harus disiplin. Apalagi masalah waktu. Telat satu menit aja gak bisa ditolerir."
"Gapapa. Sekali sekali doang."
"Dosen saya galak loh, Pak."
"Dosen kamu itu saya, Elvia." Dari nada Pak Arfa sih kayaknya udah lumayan kesal. Rasain deh Pak, makanya jangan pernah anggep remeh aku.
"Iya. Makanya saya sebagai seorang pekerja sekaligus mahasiswi yang baik akan selalu mengingat dan mengikuti aturan dengan baik."
Pak Arfa menghela napas panjang, "Terserah."
"Bapak ngambek?"
"Udah lama gak ketemu, kayaknya kamu udah pikun cara manggil saya dengan sebutan Mas. Gavin aja kamu panggil Mas."
"Cincin."
"Gak mau. Jari saya jelek, gendut. Gak cocok dipakekin cincin."
"Bener nolak?"
"Iya."
"Gak nyesel?"
"Nyesel pasti."
"Terserah kamu, Elvia." Pak Arfa mulai kesal, heheh.
Pak Arfa menepikan mobilnya ke salah satu kafe yang memang sedang hype abis dikalangan anak muda.
"Ngapain kesini?"
"Demo." Jawab Pak Arfa asal.
"Serius, Pak."
"Iya. Saya serius mau demo."
"Demoin kamu. Soalnya kamu jahat gak memperhatikan saya lagi." Lanjut Pak Arfa yang membuatku kesusahan menahan tawa.
Bibir Pak Arfa kalau dikerucutin gitu lucu banget, kayak anak kecil.
Tetap kontrol hati, Elvia.
Harus stay cool, Elvia.
"Pak, ini ngapain sih mata saya ditutup pakek kain gini?"
Iya. Pak Arfa ngeri deh, masa mata saya ditutup pakek dasi. Mana bisa jalan bener, incess.
"Tenang aja. Kamu ikuti instruksi saya aja."
Yaudah, daripada kekeuh gak mau dengerin Pak Arfa yang berujung dengan kejedot mending ikutin arahan dia aja deh.
"Kamu diam disini bentar."
Eh, Pak Arfa mau kemana nih?
Masa hayati ditinggalin gini aja. Udah mata diikat, kalau berani buka ngancem potong gaji pula.
Saat ku tenggelam dalam sendu
Waktupun enggan untuk berlalu
Ku berjanji tuk menutup pintu hatiku
Entah untuk siapapun itu
Semakin ku lihat masa lalu
semakin hatiku tak menentu
Tetapi satu sinar terangi jiwaku
Saat ku melihat senyummu
Saat seseorang mulai bernyanyi, ikatan di mataku pun dibuka oleh seorang mbak-mbak yang aku yakini dia merupakan waiters tercantik yang pernah aku temui.
Pria itu.
Seseorang yang bernyanyi di panggung kecil itu priaku.
Dan kau hadir merubah segalanya
Menjadi lebih indah
Kau bawa cintaku setinggi angkasa
Membuatku merasa sempurna
Dan membuatku utuh tuk menjalani hidup
Berdua denganmu selama-lamanya
Kaulah yang terbaik untukku
Pak Arfa melanjutkan nyanyiannya sembari menatapku.
"Udah ya, El. Saya malu."
Aku terkekeh mendengar penuturan Pak Arfa, "Bapak ngapain disitu?"
Kalau dilihat sih, sepertinya Pak Arfa sudah merencanakan kegiatan ini dengan matang karena kafe ini sepertinya sudah disewa khusus.
"El. Saya akui saya adalah pria brengsek. Karena saya pernah membuat kamu menangis. Tapi, izinkan saya untuk memulai semuanya dari awal, El. Saya gak mau tunangan kita dilatarbelakangi dengan embel-embel menyelamatkan bisnis. Saya juga gak sempat menyatakan perasaan saya dengan benar."
Pak Arfa pun mengeluarkan sekotak cincin dari saku celananya.
"Cincin tunangan waktu sudah kamu lepas. Sekarang, izinkan saya untuk mengenakan kembali cincin yang sempat melingkar di jari manismu itu. Saya percayakan hati saya di kamu, El."
Aku tersenyum dan menganggukan kepalaku tanda mengiyakan Pak Arfa untuk memasangkan cincin berlian yang kuketahui bernilai tinggi.
"Tapi gak semudah itu, Pak."
"Cincinnya saya terima. Tapi maaf bapak belum saya terima."
"El..."
"Bapak harus tanggung jawab sama perbuatan bapak yang kejam dengan ninggalin saya."
"Makasih Mas cincinnya. Mas juga harus jaga perasaan saya. Saya juga pasti akan menjaga perasaan Mas dengan baik." Gumamku.
"Apa? Manggil apa kamu tadi?"
Auto budek nih Pak Arfa.
"Bodo amat."
"Ya ampun Pak!" Pekikku yang membuat Pak Arfa cukup kaget.
"Kenapa?"
"Saya telat masuk kantor! Ntar dipotong gaji sama boss galak!"
"Harus berapa kali saya bilang ke kamu?" Aku hanya cengengesan melihat wajah kesal Pak Arfa.
"Saya bosnya, Elvia!"