My Annoying Lecturer

My Annoying Lecturer
Ga Mau Baper


"Bapak itu sebenarnya siapa?" Tanyaku menatap Pak Arfa dengan berbagai isi pertanyaan yang menyeruak di dalam kepalaku.



Pak Arfa menggantungkan ucapannya, "Saya?"



"Dosen kamu." Jawab Pak Arfa pada akhirnya yang membuatku semakin sebal.



Aku menggelengkan kepalaku tanda bukan itu jawaban yang aku mau. Beberapa kali aku perhatikan, Pak Arfa itu sepertinya bukanlah orang biasa-biasa saja.



Entahlah, waktu pertama kali ketemu Pak Arfa, rasa-rasanya sempat familiar dengan wajahnya. Mungkin pernah tercetak di majalah?



Dugaanku juga diperkuat dengan fakta bahwa teman-temannya Bang Kelvin itu orang-orang tajir. Ga bermaksud sombong. Tapi memang aku apresiasi lingkaran pertemanannya Bang Kelvin, hehe.



Kalau temannya ada mampir ke rumah, pasti bawa oleh-oleh. Kan enak..



"Saya serius, Pak." Ujarku dengan nada ketus.



Pak Arfa itu kayaknya gak bisa disenyumin, maunya diketusin biar jawabannya bener.



"Kamu tau nama panjang saya?" Ucap Pak Arfa yang membuat kepalaku tambah berkedut.



Apaan sih, kok malah jadi nama.



"Gak tau, Pak. Nama keluarga saya aja kadang saya lupa." Jujur, memang aku itu sedikit bermasalah dengan ingatan. Entah aku yang susah ingat atau memang aku menganggap gak penting jadi gak kesave di memori aku.



"Nama dosen aja ga tau?"



Aku menganggukan kepalaku, "Iya."



Pak Arfa menatapku dengan prihatin, "Pantes. Isi otak kamu cuman cowok-cowok cantik."



Aku membulatkan mataku kesal, "Gak cantik, Pak. Tampan itu. Namanya kan artis ya perlu make up lah."



Pak Arfa tampak tak peduli dengan ucapanku, "Iyain aja lah."



"Pak. Saya tuh daritadi nanya. Jangan muter-muter terus lah."



"Kamu cari tahu dulu sana nama panjang saya apa." Titah Pak Arfa.



Dengan malas aku membuka file tugas Pak Arfa. Iya, untuk berjaga-jaga. Aku selalu menyimpan file tugas di handphone.



"Arfa Dirgantara Davies." Gumamku melafalkan nama panjang Pak Arfa.



Bentar..



"Davies?" Ucapku mengulang nama belakang Pak Arfa.



Pak Arfa mengangkat alisnya sebelah, "Iya."



Sontak aku langsung berdiri terkejut menatap Pak Arfa.



Demi apa?!



Fyi, keluarga Davies itu termasuk jajaran keluarga terkaya di Asia. Perusahaannya ada dimana-mana. Ibaratnya dari bidang kuliner hingga teknologi sekalipun dibabat habis oleh perusahaan Davies.



Sungguh low profile sekali keluarga Davies. Tante Lina itu meskipun istri orang kaya, tapi tetap down to earth.



Perusahaan ayahku belum sebanding dengan perusahaannya keluarga Davies.



Ibaratnya jika dalam dunia bisnis, keluarga Davies itu idola dan juga panutan bagi para pengusaha.



"Jangan lebay. Duduk." Ujar Pak Arfa sembari menarik lenganku pelan untuk kembali ke posisi duduk.



Shock lah aku tuh.



"Pantes. Kafe ini juga pasti punya Bapak."



"Bahkan, deretan toko dari ujung sana sampai jauh di sana juga punya saya." Ungkap Pak Arfa sembari menunjuk arah kiri ke kanan. Sombong sekali ya.




"Gapapa kalau sombongnya sama kamu."



"Jadi, ngapain bapak jadi dosen? Emang bapak gak sibuk?"



"Sibuk."



"Siapa bilang saya gak sibuk?" Lanjut Pak Arfa.



"Trus bukannya jadi dosen itu capek?"



"Memang. Awalnya saya hanya iseng, sudah terlalu jenuh dengan pekerjaan saya. Akhirnya saya jadi betah."



"Betah?"



"Iya. Karena bisa gangguin kamu."



"Berarti Arfa Lovers itu udah tahu kalau bapak itu keluarga Davies?"



Pak Arfa menganggukan kepalanya, "Seisi kampus yang saya ngajar juga tahu, Elvia."



"Kecuali kamu yang dodol masih tanya."



💥💥💥



"Kita mau kemana?" Tanyaku sembari memasang seatbelt. Jangan harap seperti adegan di drama korea. Pak Arfa mana peka urusan kayak gitu.



"Jalan-jalan." Jawab Pak Arfa kembali dengan watak aslinya. Menjawab dengan singkat, padat, dan jelas.



"Kemana?" Tanyaku lagi.



"Kamu bakal suka."



Akhirnya kalimat itu menjadi akhir dari pembicaraan kami.



"Pak.."



"Kenapa?"



"Bapak kenapa putus dengan Delia?" Tanyaku. Sebenarnya ini topik sensitif, tapi aku tidak bisa membendung rasa ingin tahuku.



Pak Arfa diam setelah mendengar pertanyaanku seakan enggan untuk menjawab.



Apakah aku bertanya terlalu cepat?



"Dia melanjutkan studinya di luar negeri. Pada saat itu, saya harus stay karena saya sudah mendapat posisi di perusahaan."



"Dia selingkuh dengan teman kuliah dia di sana." Lanjut Pak Arfa.



Sejujurnya aku cukup amaze karena Pak Arfa yang sangat tertutup mampu cerita mengenai masa lalunya kepadaku.



"Maaf, Pak." Ucapku merasa bersalah karena sudah mengingatkan Pak Arfa tentang masa lalunya.



"Saya sudah bilang kalau saya mau membuka hati saya untuk kamu."



"Jika kamu memiliki pertanyaan, jangan ragu untuk bertanya. Karena kamu punya hak untuk itu." Ucap Pak Arfa yang berhasil membuat degup jantungku berdetak jauh lebih cepat dari biasanya.



"Pak.."



"Saya serius, Elvia. Tolong bantu saya."



Aku pun menolehkan kepalaku ke arah kaca, "Tergantung bagaimana perlakuan bapak ke saya."



"Bersama kamu saya mampu menemukan sisi diri saya yang baru. Entahlah, hanya saja saya sangat suka menggoda kamu, membuat kamu marah. Reaksi kamu lucu."



"Serah, Pak. Iyain aja. Bapak tuh emang nyebelin." Ucapku kesal.