
Mataku sedikit menyipit kala sosok berbadan tegap yang terasa familiar sedang berjalan ke arahku.
"Vi, siapa?" Tanya rekan kerjaku, Mbak Agnes.
Btw, Mbak Agnes itu cukup ramah. Waktu aku baru aja tiba, tentunya masih dalam suasana lumayan canggung, Mbak Agnes ngajak ngobrol duluan.
Bukannya aku merasa Mbak Agnes sok kenal sok dekat, malah aku sangat terbantu dengan sikap Mbak Agnes jadi setidaknya aku bisa mulai berbaur.
Saat ini, aku ditugaskan di divisi accounting hotel. Menurutku, akuntansi di hotel itu lumayan unik. Karena pencatatannya merupakan perpaduan antara
akuntansi jasa dan akuntansi manufaktur. Makanya gak heran, kalau jumlah staff di divisi ini lumayan banyak.
Sebut saja wanita ramah yang baru aku kenal tadi, Mbak Agnes. Lalu ada Mbak Caca yang doyan ngemil, Mbak Tsallesia yang doyan ngaca, dan terakhir ada Mbak Suwiti orang India yang membuatku cukup kaget karena ternyata dia fasih berbahasa Indonesia.
Nama mereka aneh-aneh? Iya. Bahkan saat pertama kali mendengar nama mereka, aku berusaha menahan tawa agar tidak menyinggung.
"Kenapa? Nama gue dan Suwiti aneh?" Ujar Mbak Tsallesia. Ah, mungkin kalian sulit mengejanya, jadi kalian bisa membaca nama mbak yang menurutku mirip Park Min Young itu dengan sebutan Sallesia.
"Iya, Mbak. Maaf ya."
"Gapapa. Kamu bukan orang pertama yang ngerasa nama kami aneh." Mbak Suwiti berkata dengan nada penuh percaya diri.
Kalau Mbak Tsallesia, namanya sulit dieja. Kalau Mbak Suwiti, beda lagi. Nama dia itu rada bikin humor recehku mau meledak, apalagi kalau udah dengar kisah dibalik namanya.
"Iya. Awalnya nyokap gue galau mau ngasih nama apa. Terus tante gue dateng manggil gue secara random dengan nama sweety. Alhasil mak gue ngasih nama Sweety karena kehabisan ide. Tapi entah kenapa di akte jadinya Suwiti. Mungkin biar lebih Indonesia." Jelas Mbak Suwiti yang bercerita sambil manyun.
"Gapapa, Mbak. Nama mbak memorable." Kok denger nama Mbak Suwiti jadi mengingatkan aku dengan anjingnya Pak Arfa yah? Hmm, kangen sweety. Bukan guguk yang hamil itu yah.
Untungnya, rekan-rekan kerjaku humble semua. Jadinya aku bisa cepat akrab dan beradaptasi sama mereka.
Oke. Balik ke sosok pria tegap tadi, perlahan aku memerhatikan penampilannya untuk memastikan sekali lagi apakah benar dia sosok yang aku kenal?
"Chef Gavin?"
Senyumku tak kunjung reda kala Mas Gavin juga membalas senyumku.
"Hai, Elvia." Ujar Mas Gavin dengan senyum tipis. Bahkan hampir tidak terlihat.
"Mas ngapain kesini?"
"Kerjaan."
"Hah? Bukannya Mas buka restoran sendiri?"
Mas Gavin dan aku dulu sempat tergabung dalam satu komunitas bareng. Semacam komunitas pecinta alam. Dulu sih, aku iseng-iseng aja masuk komunitas itu karena katanya banyak cowok ganteng, heheh.
"Iya. Tapi tiap Senin libur. Pas hari Senin, saya bantu kontrol dapur hotelnya Arfa."
"Oh..." Aku hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Mas Gavin.
"Mas ngapain ke sini?" Tanyaku heran.
"Gak tahu. Arfa nyuruh saya kesini."
Pucuk dicinta, ulam pun tiba.
Baru aja diomongin, Pak Arfa udah datang sambil nyengir saat melihatku.
"Vin, udah lama?"
"Gak. Ada perlu apa?"
"Mau ngajak kalian berdua makan lah. Elvia gak mau kalau makan berduaan aja sama gue."
Mas Gavin menggeleng-gelengkan kepalanya, "Arfa yang gue kenal bisa juga bertingkah kekanak-kanakan karena seorang cewek."
Haduh, terhimpit antara dua cowok cerdas bisa buat aku gila kayaknya. Dua-duanya sama-sama kaku dan juga sering menggunakan kata formal. Untungnya, Pak Arfa sedikit receh.
"Lu harus ngerasain mabok asmara, brother."
Setelah sekian lama menanti, akhirnya aku bisa dengar Pak Arfa pakek bahasa santai. Begitupula dengan Mas Gavin.
"Gue gak mau lemah karena cinta, brother." Balas Mas Gavin yang mendapat senyuman remeh khas Pak Arfa.
"Lihat aja nanti."
"Udah deh, berisik banget kalian!" Ujarku yang tak enak karena percakapan dua pria tampan ini menjadi tontonan rekan-rekan kerjaku yang lain.
"Pak, kami duluan yah. Udah jam makan siang, Heheh." Ujar salah satu rekan kerjaku, Mbak Caca.
"Ya. Silahkan." Ucap Pak Arfa dengan nada wibawanya.
"Kami permisi Pak Arfa, Pak Gavin." Ujar Mbak Caca lalu diikuti oleh rekan-rekanku yang lain.
"Jadi makan gak nih?" Tanya Pak Arfa selepas kepergian Mbak Caca dkk.
"Enggak. Udah kenyang. Makasih." Jawabku dengan intonasi tak bernada.
"Padahal ada Zelia juga." Ucap Pak Arfa.
"Serius?"
Aku penggemar buku-buku karya Mbak Zelia sih. Kayak novelnya yang baru diterbitkan yang berjudul Kutabok Rambut Indahmu, atau karya-karyanya yang terdahulu kayak Cinta Sambal Bawang, Delima Holang Kaya, dan juga novelnya yang isinya agak bener yang berjudul Resah, Rindu, Ragu. Novel karya dia tuh selalu bikin aku ngerutin dahi saking gak jelas cerita yang Mbak Zelia buat. Tapi berhasil buat ketagihan, Heheh. Mungkin itulah pesona karya Mbak Zelia.
Aku dan Mbak Zelia itu cuman beda setahun. Sering ketemu Mbak Zelia pas lagi makan di restorannya Mas Gavin, tapi jarang banget nyapa karena Mbak Zelia selalu aja keluar restoran dengan muka cemberut.
"Mau minta tanda tangan kan?" Goda Pak Arfa.
"Saya cuman mau ketemu Mbak Zelia, bukan mau makan sama bapak."
"Terserah. Yang penting kamu makan. Saya gak mau kamu sakit maag."
Aku memutar bola mataku kesal, "Terserah."