
"Saya gak mau keluar, El. Saya mau selesaikan hari ini." Nada suara Pak Arfa terdengar tegas.
"Saya malas bertanya, Pak. Sudah cukup lelah hari ini."
"Elvia, tolong selesaikan hari ini."
"Bapak ketemu Delia kan di Australia?" Aku menahan napasku sejenak. Rasanya napasku kian tak beraturan saat aku menyebut nama guguk.
"Bapak bilang ke saya ada urusan bisnis. Tapi, faktanya bapak malah ketemu Delia. Bener?" Lanjutku.
"Iya, saya akui itu."
"Oke, cukup! Bapak boleh keluar."
Bener kan? Ini yang aku takutkan. Aku takut jika aku bertanya, maka jawaban yang Pak Arfa lontarkan adalah sesuatu yang aku benci.
"Dengerin saya dulu, El."
"Apa?!"
"Saya kesana untuk urusan bisnis. Tanpa sengaja ternyata calon suaminya Delia adalah partner bisnis saya. Saya gak tahu kalau Delia yang akan jemput saya."
Aku menghela napasku dengan kasar, "Bohong! Saya gak percaya!"
Pak Arfa menggeram frustasi, "Saya bisa telepon calon suaminya Delia, kalau kamu mau."
Aku kini terisak lebih dalam. Benakku penuh dengan terkaan-terkaan tidak mendasar. Apakah Pak Arfa bohong? Apakah Mas Alvin bohong? Apakah Delia bohong? Kepalaku hampir pecah hanya karena memikirkan hal seperti ini.
"Delia tadi menemui saya."
Pak Arfa mengerutkan keningnya bingung, "Ngapain?"
"Dia bilang dia hamil anak bapak."
Muka Pak Arfa mendadak kaku. Raut wajah gelisah yang sedari tadi ia perlihatkan, nampak mulai memudar berganti dengan raut wajah tegang. Entah apakah pertanyaanku yang membuatnya bertingkah seperti itu atau sesuatu dibalik layar ponselnya, karena ia terlihat terus melirik handphone nya.
Handphone Pak Arfa lebih penting ya daripada aku?
Haha.
"Kenapa diam? Jadi bener yang Delia omongin?"
Pak Arfa masih diam. Malah sekarang dia beralih memusatkan matanya ke handphone nya, entah apa yang membuatnya begitu fokus dengan handphone nya dibanding membalas pertanyaanku. Pak Arfa berhasil membuatku gila dengan pikiran-pikiran negatif yang semakin membuncah di kepalaku.
"Pak..." Ucapku dengan nada suara yang terdengar lemah. Iya, bahkan aku sudah tidak sanggup mengeluarkan nada suara nyaring sangking lemasnya.
"Maaf."
Satu kata sederhana, tapi kenapa terdengar begitu memilukan?
Maksudnya apa? Aku gak butuh kata maaf! Aku butuhnya penjelasan!
"Apaan sih, Pak?!"
"Maaf."
"Maksud bapak maaf apa?!"
"Pak, kalau jawaban bapak atas pertanyaan saya hanya kata maaf. Mending bapak pergi deh. Hubungan kita usai. Usai sampai disini, Pak. Tolong jangan ganggu saya lagi."
Pak Arfa awalnya hanya diam sembari terus memandangi layar handphone nya. Lalu, perlahan Pak Arfa mulai mundur dengan guratan wajah yang sepertinya mendefinisikan bahwa dia sedang sangat kehilangan. Atau hanya aku yang salah mendefinisikan maksud dari raut wajah itu.
"Maafkan saya, Elvia."
Itu kalimat terakhir yang Pak Arfa ucapkan sekitar 8 bulan yang lalu.
💕💕💕
Iya. Semenjak itu, Pak Arfa berhenti mengajar. Sepertinya dia pergi ke Australia, itu kabar yang aku dengar dari Bang Kelvin.
Aku juga sempat mendengar kabar bahwa Bang Kelvin ribut-ribut di kantor Pak Arfa.
Kejadian delapan bulan yang lalu terlalu membekas dalam ingatanku. Bahkan, dengan bodohnya hingga sekarang pun hati terkecilku masih menginginkan Pak Arfa. Walaupun aku sudah mencoba untuk menghapus Pak Arfa dalam benakku.
Aku kembali ke diri Elvia yang dulu, menjadi seseorang yang malasnya luar biasa. Kalau dulu sih, Pak Arfa pasti udah mencak-mencak kalau tahu hariku diisi dengan kemalasan yang hakiki.
Hanya saja bedanya adalah kini Mas Alvin makin dekat denganku. Entahlah, kalau bahasa kekiniannya mungkin teman rasa pacar?
Karena hingga sekarang aku pun masih belum menerima perasaan Mas Alvin. Bukan tidak menerima, tapi hatiku sampai sekarang masih gamang. Jadi, aku tidak mau menjadikan Mas Alvin sebagai pelampiasan.
"Neng, hari ini pulang sore lagi?" Tanya Mbak Ica.
"Iya, Mbak. Ada acara."
"Yaudah, hati-hati ya neng."
Aku pun tersenyum tipis seraya menganggukan kepalaku menanggapi ucapan Mbak Ica.
Lalu aku pun melanjutkan perjalananku ke kafe dekat rumahku. Iya, tadi Mas Alvin ajak ketemuan.
"Sudah lama nunggu?" Tanya Mas Alvin menyapaku saat sudah sampai.
"Gak kok, Mas." Jawabku sembari mengangkat sedikit kedua sudut bibirku.
"Sudah pesan?"
Aku menganggukan kepalaku, "Sudah. Seperti biasa kan?"
Mas Alvin terkekeh pelan, "Iya. Kafe ini udah kayak tempat rutinitas kita ya?"
Aku juga ikut tertawa, "Iya. Mbak disini aja udah hapal sama pesanan kita."
"Makasih Mbak." Ucapku saat mbak waiters sudah menyajikan pesanan kami.
"Jadi, gimana Mas? Ada proyek lagi kah?" Ujarku sembari menyeruput green tea yang memang sudah menjadi minuman favoritku.
"Ada. Minggu depan sih, El." Jawab Mas Alvin.
"Luar kota?"
"Iya. Di Bandung, foto prewed."
"Oh, gitu."
"Mau ikut?"
"Boleh?"
"Kenapa enggak?"
"Okey deh!" Ucapku dengan nada antusias.
Mas Alvin mengusap puncak rambutku pelan, "Biasa aja kali. Kayak gak pernah ke Bandung aja."
Jujur, aku sedikit terkejut dengan perilaku tiba-tiba Mas Alvin. Sebenarnya itu berhasil mengingatkanku dengan kebiasaan Pak Arfa yang suka mengusap puncak rambutku.
Hah, lagi-lagi Pak Arfa...
"Gapapa. Refreshing Mas."
"Sesuntuk itukah kuliah?" Tanya Mas Alvin.
"Banget." Jawabku.
Iya. Sebenarnya kuliah sudah tidak menyenangkan, ditambah dengan absennya kehadiran Pak Arfa makin membuatku malas kuliah.
"Gak boleh gitu, El. Cepet selesai kuliahnya biar bisa cepet aku halalin."
"Hah?" Lagi-lagi Mas Alvin membuatku terkejut akan ucapan dan perilakunya.
"Mas ngomong apa tadi?" Lanjutku.
"Gapapa. Udah yuk lanjut makan."