My Annoying Lecturer

My Annoying Lecturer
VIRUS?! [Season 2 | PART 03]


"Pak..."


"Hm."


Aku yang tidak senang dengan respons yang diberikan Pak Arfa pun kembali memanggil hingga bisa memberikan respons yang sesuai dengan yang aku inginkan.


"Pak....!"


"Apa?"


"Pak Arfa!"


"Apa sayang?" Ujar Pak Arfa seraya menolehkan kepalanya kepadaku.


"Nah gitu dong." Jawabku yang merasa puas setelah mendapat respons yang dimaksud.


"Kenapa Elvia?"


"Enggak kenapa-kenapa sih Pak, cuma lagi bosen."


"Oh."


"Pak!"


"Apa Elvia?!" Kali ini nada Pak Arfa meninggi. Mungkin ia merasa kerjaannya terganggu.


"Ini kenapa kok kita diminta enggak boleh kemana-mana?"


"Kamu enggak baca berita? Enggak nonton televisi?"


Aku langsung menggelengkan kepalaku, "Enggak nonton Pak, kan televisi di rumah dibuang Bang Kelvin."


"Kenapa dibuang?"


"Katanya udah enggak zaman nonton tv, sekarang zamannya youtube."


"Kamu enggak nonton youtube?"


Aku lagi-lagi menggelengkan kepalaku. Mengerjakan skripsi saja sudah mengurangi jam tidurku, apalagi mau santai nonton youtube. Entar kalap lagi.


"Kasih tahu aja napa sih Pak."


"Ada virus, El."


"Virus apa? Cukup saya aja Pak yang kena virus."


"Memang kamu kena virus apa?"


"Virus terberat, terberbahaya, dan tersusah untuk hilang."


"Apa?"


"Virus yang menyebabkan diare."


"Kenapa memangnya?"


"Soalnya diare itu enggak bisa ditahan kan, keluar begitu saja. Nah sama seperti perasaan saya ke Bapak."


"El, nanti kamu saya sleding kalau gombal lagi."


Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Pak Arfa.


"Jadi ada apa dengan dunia yang saya cintai ini Pak? Kenapa tiba-tiba jadi sepi seperti perasaan saya sekarang ketika Bapak sedang sibuk kerja."


"Kamu nyindir saya?"


"Enggak kok Pak, saya lagi belajar menggunakan majas sarkasme."


"Elvia, saya benar-benar bingung bagaimana bisa kamu baru tahu sekarang padahal seminggu yang lalu virus ini sudah sangat menggemparkan."


"Saya kan seminggu yang lalu kerasukan setan drama korea. Gimana sih Pak."


"Ada virus El namanya virus Syaland. Intinya virus itu cukup berbahaya dan penyebarannya cukup cepat."


"Ada apa sih Pak dengan si Alan? Kok dia jahat banget sampai-sampai kita enggak bisa keluar rumah."


"Bukan si Alan El, tapi namanya virus Syaland. Sya sya sya... land land land..."


"Bapak ngapain? Nyanyi?"


Pak Arfa menjitak kepalaku, "Saya baca puisi."


"Jadi kenapa sih Pak dengan Si Alan? Dia itu jomblo apa sampai-sampai dendam sama orang-orang yang terpisah oleh jarak?"


"Itu nama virus El, bukan nama orang. Astaga."


"Pokoknya itu mau orang, mau virus, mau upil, saya enggak peduli! Pokoknya saya mau keluar, saya enggak mau terkurung dengan Bapak berdua di rumah ini."


"Memang kenapa enggak mau?"


"Saya takut."


"Takut kenapa?" Tanya Pak Arfa.


"Takut makin cinta."


"Bagus."


"Bagus kalau saya makin cinta?"


"Enggak."


"Jadi apa?"


"Bagus kalau kamu takut makin cinta."


"Kenapa kok bagus?"


"Karena saya takut nanti kamu kecanduan saya kalau makin cinta." Ujar Pak Arfa dengan nada datar dan wajah datar.


"Enggak cocok Pak, serius deh."


"Jadi saya cocoknya apa?"


"Cocoknya bilang ke Si Alan supaya ngebolehin kita keluar rumah."


"Virusnya namanya syaland El bukan Si Alan."


"Pokoknya Alan kan! Alan tuh emang nyebelin tahu enggak Pak."


"El, saya cubit kamu kalau masih enggak paham."


"Bapak mainnya cubit-cubitan nih sekarang?"


"Enggak, saya maunya jambak-jambakan.Tapi rambut saya pendek, takut sakit."


Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke dalam salah satu aplikasi di handphoneku. Begitu terkejutnya diri ini ketika membaca isi dari pesan itu.


"PAK!!!"


"Apa sih El?"


"Saya mau pergi!"


"Ke mana aja, pokoknya mau cari Si Alan!"


"El, jangan buat saya malam-malam ice mochi."


"Hah? Saya lagi serius! Bapak mau makan mochi?"


"Esmosi maksud saya."


"Emang ada es mosi?"


"Emosi, Elvia!"


"Ohh, ngomong dong dari tadi."


"Kamu mau ngapain tadi?"


"Oh iya, saya lupa. Pokoknya saya mau ke luar mau saya labrak itu virus!"


"Enggak bisa, El. Kamu mencegah aja dengan stay at home."


"Saya enggak terima Pak!"


"Enggak terima kenapa?"


"Wisuda saya ditunda!"


"Sabar aja."


"Enggak bisa!"


"Kenapa El?"


"Saya mau nikah!"


"Sama siapa?"


"Sama Bapak lah, masa sama kucing."


"Ya udah, kondisi gini juga enggak kondusif buat nikah."


"Enggak mau tahu! Pasti Si Alan itu dendam sama kita!"


"El, mending kamu baca berita deh. Biar otak kamu pinteran dikit."


"Jadi Bapak bakal di sini berapa lama?"


"Sampai virusnya reda."


"Selama itu saya enggak boleh kemana-mana terus di rumah berduaan sama Bapak?"


"Iya."


"Bisa mati saya Pak."


"Kenapa?"


"Takut sakit jantung."


"Jantung?"


"Iya. Saya takut sakit jantung karena tiap kali dekat Bapak saya jadi berdebar."


"Mending kamu segera urus wisuda online kamu."


"Masa saya sudah mengorbankan jiwa dan raga, keringat, dan air mata hanya untuk wisuda depan laptop sih!"


"Jadi kamu maunya apa?"


"Mau labrak virus itu!"


"Caranya?"


"Mau saya ketemuin, ajak duel, terus saya maki-maki."


"El, itu virus El bukan orang."


"Iyain aja sih Pak, saya lagi kesal sama Alan pokoknya."


"Alan yang mana?"


"Alan yang jual sembako depan rumah itu loh, masa kemarin saya masak kurang gula cuma mau beli dua sendok gula aja enggak dikasih. Biasa minta lima sendok aja dikasih gratis kok."


"Stress kamu. Sudah berapa kali kamu minta?"


"Setiap kali mau masak."


"Memang uang bulanan yang saya kasih habis?"


"Habis."


"Karena apa?"


'Beli album, lightstick, poster, kuota, terus barang-barang perintilan yang lucu."


"Saya bakar lama-lama."


"Bakar perasaan saya aja Pak biar enggak terus-menerus rindu." Jurus paling ampuh ketika Pak Arfa marah adalah ngegombal.


"El, saya nanti bilang ke saya kalau mau belanja di tempat Alan. Saya kasih uang. Jangan minta, pantes aja setiap saya mampir ke sana, muka Alan nahan kesal."


"Siap, Pak! Sekalian uang buat skincare ya."


"Minta abang kamu."


"Dia pelit."


"Kalau kamu malam ini masakin saya soto, saya kasih."


"Gampanglah itu, Pak. Saya sudah berguru dengan Chef Gavin."


"Awas enggak enak."


"Enak kok, tenang aja kan masaknya pakai cinta."


"Jadi kamu masih ngambek sama virusnya?"


"Enggak."


"Kenapa?"


"Sisi baiknya karena virus itu saya jadi bisa berduaan sama Bapak."


"Saya yang bisa gila El terkurung berdua sama kamu."


"Gila karena cinta?"


"Enggak. Gila karena tingkah kamu. Anehnya saya sayang meskipun kamu tingkahnya kayak gini."


...***...


...UPDATE SEMINGGU DUA KALI. ANTARA JUMAT-SABTU / SABTU-MINGGU HEHEH. HARAP MAKLUM YA🙏. TERIMA KASIH ATAS SUPPORTNYA💜...