
Kamu tahu ada rasa yang lebih mendebarkan dibanding buang angin diam-diam, yaitu satu hari sebelum sidang skripsi dimulai.
Entah kenapa tiba-tiba perut mules, napsu makan berkurang, susah tidur.
"Kamu kenapa sih El kayak cacing kepanasan?" Tanya Pak Arfa yang capek melihatku bolak-balik enggak jelas.
"Kalau saya disuruh ulang, enggak lulus sidang, enggak lulus tepat waktu, berarti nikahnya beneran di kolong jembatan Pak?"
Pak Arfa mengacak rambutku asal, "Kamu pikir saya mau nikah di kolong jembatan?"
Aku mengangkat bahuku, "Siapa tahu kan."
"Jangan gugup, El. Anggap saja dosen penguji kamu itu saya."
"Dosen pengujinya saya gombalin?"
Pak Arfa menjitak kepalaku, "Enggak."
Aku memegang jidatku yang sedikit merah akibat ulah Pak Arfa, "Jadi mau saya apain Pak? Kalau ngomong yang jelas dong."
"Kamu sudah baca ulang berapa kali skripsinya? Sudah dua puluh kali belum?"
Emang punya calon suami tega bener ya.
Masa ratusan lembar skripsi disuruh baca dua puluh kali.
Mata ini lama-lama ngambek juga.
"Baru dua kali."
"Bohong."
"Kok bohong?!"
"Mana kamu baca."
"Bapak emang sangat memahami saya." Ucapku sembari tersenyum.
"Saya yakin kamu lulus."
"Kalau enggak lulus?"
"Saya nikah sama orang lain."
"Enggak mungkin bisa."
"Kenapa?"
"Kan hati Bapak sudah saya kunci. Kuncinya cuma ada di saya. Jadi percuma kalau wanita lain mau ketuk pintu hati Bapak juga enggak bakal kebuka."
"Kalau hati kamu?"
"Hati saya sudah ada tulisannya Pak."
"Tulisan apa?"
"Milik Pak Arfa."
Pak Arfa mencubit hidungku, "Giliran gombal, otak kamu kerjanya cepet ya."
"Otak saya sering enggak berfungsi, Pak. Kecuali kalau mau gombal entah kenapa otak saya lancar jaya, itu aja khusus buat Bapak seorang."
"Kamu sudah paham dengan isi skripsi kamu kan?"
"Sangat paham Pak, kan disuruh revisi berkali-kali."
"Bagus."
"Isi skripsi aja saya pahami, apalagi isi hati Bapak."
"El..."
"Iya?"
"Skripsi tugas terakhir kamu kan?"
Lantas dengan cepat aku segera menganggukan kepalaku, "Harus! Enggak mau ya kuliah lagi, nugas lagi."
"Kalau skripsi tugas terakhir kamu, maka kamu cinta terakhir saya."
Hilih...
Meskipun sudah sering dibales gombalnya, tapi hati ini masih meleleh dengernya.
"Jangan senyum, El."
"Kenapa?"
"Senyum kamu bagaikan global warming yang mencairkan hati saya."
"Pak, ini kita mau sampai kapan adu gombal?"
"Jadi dari tadi Bapak sengaja mengalihkan pikiran saya?"
"Saya mau isi pikiran kamu cuma ada saya."
"Jangan gombal lagi, Pak! Hayati enggak kuat."
"Ya udah tidur gih."
"Bapak nginep sini?"
"Saya pulang kalau kamu sudah tidur. Nanti pagi saya jemput kamu. Pakai pakaian yang cantik, tapi jangan terlalu cantik juga nanti banyak yang naksir."
"Okay, good night Pak."
"Selamat malam juga. Mimpi indah Elvia."
...💜💜💜...
Aku sangat terkejut ketika sampai di kampus.
Aldo sungguh teman yang sangat luar biasa. Di depan ruang sidangku sudah ada banyak orang yang menyoraki kata-kata semangat untukku.
"Dev, ini orang siapa dah?"
Jujur saja aku hanya mengenal Aldo dari sekian banyak orang yang datang. Aku bahkan tidak tahu orang-orang itu siapa.
"Aldo nyewa orang buat semangati kamu."
Aku tersenyum kecut sembari menarik Aldo dari kerumunan, "Lu pikir gue enggak ada temen?"
"Emang kagak ada, temen lu cuma gue sama Devi."
"Enggak harus nyewa orang juga kali. Satu orang lu sewa berapa? Emang ada duit?"
Aldo nyengir enggak jelas, "Masalah uang beres."
"Beres gimana?"
"Ada boss Arfa."
Aku menepuk jidatku, "Lu minta duit ke Pak Arfa?"
"Iya."
"Berapa?"
"Masih sisa sih, gue korupsi dikit."
"Bagi gue sedikit lah, Do."
"Astaga Aldo, jangan aneh-aneh. Vi, kamu juga buruan masuk ruang sidang. Intinya jangan konyol supaya lulus. Kalem aja, jawab pertanyaan juga harus mikir dulu." Nasihat Devi.
"Siap ibu negara!"
"Pak Arfa kemana Vi?"
"Nih ya masa aku yang mau sidang, tapi Pak Arfa yang mules terus deg-degan."
Aldo tertawa mendengar penuturanku, "Muka Pak Arfa kalau mules gimana?"
"Kayak orang pada umumnya, muka nahan kentut."
"Kalian gibahin saya?" Pak Arfa yang entah sejak kapan muncul di belakangku buka suara. Pak Arfa hobi banget tiba-tiba nongol.
"Enggak kok, Pak. Aldo tuh!"
"Elvia, Pak. Dia bilang muka Bapak kayak nahan kentut."
Aku melirik Pak Arfa yang menatapku dengan tatapan mematikan. Dari pada dicincang di sini, mending aku kabur.
"Saya masuk dulu ya Pak ke ruang ujian, wish me luck heheh."
Sidang berlangsung lebih lama dari perkiraanku, hampir dua jam lebih. Selama dua jam itu pula, entah kenapa aku rasanya kayak kerasukan orang pinter. Pertanyaan dari dosen bisa aku jawab dengan mudah, walau kadang ada beberapa pertanyaan yang bikin aku gagal paham sih. Kalau dipikir-pikir lagi memang sepertinya pertanyaan yang Pak Arfa berikan waktu aku lagi nyusun skripsi lebih sulit untuk dijawab.
Ketika dosen-dosen penguji keluar dari ruangan bersamaku, salah satu dari mereka berceletuk, "Untung saja kita lulusin, kalau enggak bisa dicegat sekampung."
Mengingat banyaknya orang yang menungguku membuat aku tersadar untuk segera memberi tahu Pak Arfa.
"Dev, Pak Arfa kemana?"
"Tadi sih pergi sebentar sama Bu Rina."
"Bu Rina? Siapa?"
"Dosen baru, masih muda seksi lagi." Gumam Aldo yang keburu dijitak sama Devi.
"Awas aja Pak Arfa!" Ucapku dalam hati dengan perasaan penuh kebencian.