
"Vi, kamu habis ini mau kemana?"
Usai kelasnya Bu Ningsih, aku jadi bingung mau ngapain.
Iya. Pak Arfa udah gak ngajar lagi.
Biasanya kalau bosan dan malas pulang, aku gangguin Pak Arfa. Sekarang mau nyamperin, takut ganggu.
"Gak tahu, Dev. Kamu?"
"Mau jalan."
"Bareng Aldo nih pasti."
"Tuh tahu."
Malas membalas, aku pun menghiraukan Devi dan langsung pesen gojek.
Entah kenapa alamat yang dituju, aku ketik dengan alamat kantor Pak Arfa.
Entah salah satu bentuk keberanian yang nekat atau memang hanya alamat itu yang terlintas di benakku, gojek ku pun datang dan aku sekarang naik dengan hati yang agak was was.
Apakah ini termasuk berlebihan dengan menyambangi kantor Pak Arfa?
Maksudku pergi ke kantor seorang Arfa Dirgantara Davies, kira-kira aku diusir gak ya? Kira-kira Pak Arfa marah gak ya?
"Makasih Pak." Ucapku sembari melepaskan helm yang melekat di kepalaku.
Iya. Udah kebiasaan sejak dulu kalau dibantu harus bilang makasih, walaupun kita bayar sekalipun.
"Sama-sama dek." Ujar mamang gojek.
Dengan langkah deg-degan, hati gak karuan, dan cukup kaget karena kantornya gede banget. Aku pun memutuskan untuk bermuka tebal dan masuk ke dalam gedung.
Tentu saja banyak orang yang menatapku dengan penuh tanda tanya.
Karyawan disini semua berpakaian rapi. Para pria gagah dengan jas yang menyelimuti bahu tegap mereka. Kalau yang wanita sih, gak usah ditanya. Mereka tampil anggun dengan blouse dan rok.
Sedangkan aku?
Kucel, baju kaos, dan rambut yang dicepol asal dengan percaya dirinya masuk ke gedung megah tadi. Tentu saja seketika aku langsung menjadi pusat perhatian.
Sepertinya aku menyesal datang kemari.
"Maaf, dek. Ada yang bisa dibantu?" Tanya mbak resepsionis dengan senyum yang terkesan tidak ramah.
"Saya mau cari Pak Arfa."
"Sudah buat janji?"
"Mbak sebut aja nama saya ke Pak Arfa. Elvia."
"Maaf, sebelumnya adek ini siapanya Pak Arfa?"
"Tunangan." Jawabku tak sabar.
"Hmm." Mbak itu memberikan jeda sebentar sebelum membalas pernyataanku.
"Tapi adek orang yang ke lima puluh lima yang mengaku menjadi tunangan Pak Arfa dalam sebulan."
"Mbak, saya serius. Apa perlu saya telepon Pak Arfa?"
Niat aku kan mau kasih kejutan gitu. Soalnya tadi pagi-pagi aku sempat masak. Walaupun hidangannya simple, tapi yang penting aku udah berusaha kan?
"Saya coba hubungin sekertaris Pak Arfa dulu ya, Mbak."
"Ribet." Gumamku kesal.
Memang sih Pak Arfa itu orang penting. Tapi kakiku sudah pegal nunggu. Mana ekspresi muka mbak resepsionis itu gak friendly sama sekali.
"Silahkan, saya antar." Aku hanya menghela napas agak keras supaya mbak resepsionis itu sadar kalau aku kesal.
"Mbak, mulutnya sakit?" Tanyaku dengan nada sarkas.
"Enggak. Kenapa?"
"Saya pikir sakit. Habis gak bisa senyum dari tadi." Gumamku yang dibalas dengan senyum canggung mbak resepsionis tadi.
"Mbak Dhea. Oke, nama Mbak saya ingat." Ujarku saat melihat nama yang tertera di nametag baju mbak resepsionis.
"Maaf?" Tanya mbak yang gak bisa senyum tadi.
"Kenapa mbak tiba-tiba bolehin saya ketemu Pak Arfa? Mbak gak minta maaf karena sudah menghina saya secara tidak langsung tadi?"
"Pak Arfa tidak membenarkan dan juga tidak membantah pernyataan tunangan itu. Beliau hanya meminta saya untuk mengantar adek ke ruangannya." Jelas Mbak Dhea dengan muka jutek dan nada suara sedikit cempreng.
"Mbak, kayaknya mulai sekarang kita musuhan deh." Ujarku asal yang disambut dengan tatapan membingungkan dari Mbak Dhea.
💥💥💥
"Kamu tuh lucu banget, tau gak?" Pak Arfa tidak bisa menghentikan tawanya sejak aku selesai menceritakan keluh kesalky terhadap Mbak Dhea.
"Saya memang sengaja pilih Dhea untuk jadi resepsionis depan, Elvia. Soalnya biasanya dia ampuh banget ngusir wanita-wanita aneh yang mencari saya." Jelas Pak Arfa.
Iya. Waktu sampai di ruangan Pak Arfa, Pak Arfa langsung memelukku erat. Kayaknya dia tertekan banget dengan urusan kantor yang lumayan menguras otaknya.
Tak lama setelah itu, aku langsung menceritakan perihal insiden tadi yang langsung disambut tawa oleh Pak Arfa.
"Maaf ya, Elvia. Saya gak nyangka kamu secepat ini datang kesini. Kamu juga tumben langsung datang aja, jadi saya lupa kasih tahu Dhea tentang kamu."
"Iya. Lain kali umumin ya Pak depan seluruh karyawan kalau aku itu tunangan bapak."
"Yakin? Saya sih mau aja. Tapi bukannya kamu yang gak mau hubungan kita go public?"
"Saya bercanda kok." Ucapku sembari mengeluarkan isi barang yang ada di dalam tas ransel.
"Apa itu?" Tanya Pak Arfa.
"Bapak udah makan siang belum?" Tanyaku balik.
"Belum."
"Kurang apa sih saya Pak? Udah cantik, peka, perhatian. Nih, saya bawain makanan."
"Terjamin kan?"
"Oh, yaudah. Kalau gak mau aku kasih Mas Alvin aja."
"Iya. Abis Pak Arfa nyebelin." Ucapku sembari menaruh kotak makan yang aku bawa ke atas meja kerja Pak Arfa.
"Mau atau enggak nih?"
"Makasih ya Elvia." Ucap Pak Arfa.
"Gitu dong bilang makasih." Balasku yang puas mendengar ucapan Pak Arfa.
Pak Arfa pun mencicipi makanan yang aku masak, "Enak?"
Pak Arfa menganggukan kepalanya, "Iya."
Satu kebiasaan Pak Arfa itu dia kalau lagi makan, pasti diam. Katanya dia mau makan sambil nikmatin cita rasa makanannya.
"Habis? Bapak selapar itu kah?"
"Iya. Kerjaan banyak banget." Jawab Pak Arfa yang membuatku sedikit iba.
"Pak, sini deh." Ujarku sembari menepuk sofa disampingku.
Tumben. Pak Arfa nurut aja dan langsung duduk disampingku.
"Ngadep kanan, Pak." Titahku meminta Pak Arfa membelakangiku. Anehnya, Pak Arfa nurut aja.
Aku pun memijat pelan pundak Pak Arfa yang terasa kaku. Pak Arfa sesekali bertanya padaku apakah aku sudah capek memijat atau belum, kalau sudah aku diminta berhenti. Perhatian banget sih, Pak Arfa.
"Elvia, kamu bentar lagi libur kan?"
"Iya. Mau masuk semester lima."
"Semester lima dan enam kamu itu udah mulai sibuk banget pasti. Jangan males."
"Iya.." Jawabku malas.
"Harus rajin, biar gak ngulang matkul."
"Iya..."
"Kalau mau cepat nikah, cepat lulus."
"Iya..."
Aku menghentikan kegiatan memijat yang dari tadi aku lakukan.
Tunggu...
Tadi Pak Arfa bilang apa?
"Apa Pak?"
"Saya gak mau ngulang. Siapa suruh kamu lemot."
"Serah, Pak."
"Makasih ya El."
"Untuk?"
"Masakan kamu dan pijatan kamu. Kehadiran kamu tuh ngehibur saya."
"Bapak pikir saya pelawak?"
"Lawakan kamu receh. Jadi gak cocok."
"Bapak lebih receh."
"Karyawan saya ketawa kok kalau saya ngelawak."
"Takut potong gaji mereka."
"Tuh tahu."
"Nyebelin yah..."
"Tapi kamu sayang kan?"
"Emang bapak gak sayang?"
"Saya sayang kamu lebih dari apa yang kamu tahu."
"Sebesar apa?"
"Kamu tahu kalau dunia ini luas banget kan?"
Aku menganggukan kepalaku, "Iya."
"Yaudah sih, cuman mau ngomong gitu aja."
Dosa gak kalau bunuh tunangan sendiri?
Kok kesal yah..
"Saya pikir bapak mau gombalin saya."
"Mau banget?"
"Enggak. Capek udah denger gombalan bapak yang gak jelas."
"Tapi kamu suka kan?"
Serah deh, Pak...
Asal Pak Arfa seneng aja deh.
"Bapak kapan balik ngajar?"
"Nanti saya pertimbangkan lagi."
"Harus balik pokoknya. Saya kangen."
Omimi
Kenapa kata terakhir bisa keluar sih dari mulut aku?
Tuh kan...
Pak Arfa senyum-senyum gak jelas.
💕💕💕