
"Ngapain?"
Aku berucap dengan nada sedatar mungkin, bahkan mungkin hampir tidak bernada.
"Maaf."
Lagi-lagi kata itu terlontar dari bibir Pak Arfa.
"Ck, Anda siapa? Emang kita kenal?"
"Maaf disini saya mau kerja bukan dengar permintaan maaf." Jawabku dengan nada menusuk. Bahkan, melihatnya saja aku sudah tidak mau.
"Elvia, dengarkan penjelasan saya."
"Pak, Maaf. Kalau saya disuruh kerja begini mending saya gak usah kerja sekalian."
Pak Arfa mengusap wajahnya kasar. Sekilas kuperhatikan penampilannya. Sedikit berantakan, berbeda dari penampilan yang biasa Pak Arfa perlihatkan kepadaku. Lalu, Pak Arfa juga sedikit kurus entah karena Pak Arfa tidak menjaga pola makan atau ingatanku tentang Pak Arfa sudah mulai memudar.
"El, saya kembali. Kamu gak rindu?"
Aku mengernyitkan keningku heran, "Apaan sih, Pak? Apanya yang rindu?!" Nadaku terdengar sedikit keras, terkesan seperti membentak.
Tapi aku tidak peduli karena yang kurasakan saat ini adalah rasa sakit yang begitu menyesakkan. Sekian lama hilang tanpa kabar, lalu tiba-tiba datang berwajah tidak bersalah.
"Kamu bukannya rindu sama saya, El?"
Aku mendengus kesal mendengar penuturan Pak Arfa, "Rindu?"
"Saya muak, Pak!" Ucapku sembari membuang muka.
"Tapi kamu selalu membalas surat saya, El."
"Kapan? Bahkan sudah lebih dari ratusan kali saya menghubungi bapak. Bapak menghilang tanpa kabar kan? Lalu apa maksud bapak sekarang tiba-tiba muncul dihadapan saya?"
"El, saya selalu ngirim surat ke kamu. Kamu lupa?"
"Surat apaan sih, Pak?!"
"Kamu... Bukannya kamu selalu bales?"
"Pak kalau ngomong yang bener deh. Jangan gak jelas gitu. Surat apa? Mana?"
Langkah kaki Pak Arfa langsung bergerak dengan cepat menuju laci meja kantornya. Ia mengambil kumpulan kertas yang membuatku sedikit bingung.
Itu bukan tugas kuliah kan?
"Coba kamu baca."
Aku pun mendekatkan diriku menuju tumpukan kertas tersebut.
"Bentar deh. Ini...?"
Dengan cepat tanganku mengambil secarik kertas secara acak dari tumpukan kertas yang disusun rapi oleh Pak Arfa.
"Pak?"
"Ini bukan saya yang balas."
Aku terkejut.
Ini bukan sinetron, melainkan ini benar-benar realita bahwa surat itu memang ada.
"Terus, Bapak ngapain sih pakek surat segala?" Omelku.
"Biar beda gitu, El. Kerasa perjuangannya ngirim-ngirim surat. Kayak jaman dulu gitu."
Inikah jawaban dari seorang pewaris tunggal kekayaan keluarga Davies?
"Pak.. serius saya."
"Iya, saya serius El."
"Tapi saya gak pernah nerima surat-surat ini Pak, apalagi bales surat."
"Serius? Jadi selama ini zonk?"
Aku gak habis pikir sama jalan pikirannya Pak Arfa.
"Bapak cuma peduli itu?"
"Bapak gak peduli saya yang selama ini nunggu kabar dari bapak? Bang Kelvin udah tahu?"
"Udah."
"Pak... Gak usah nyebelin lah!"
"El..."
"Apa?!"
"Kamu tau gak apa yang paling saya kangenin?"
"Bodo amat, Pak."
"Ketawanya kamu, El."
"Emang kenapa tawa saya Pak?"
"Jelek. Apalagi kalau sambil mangap."
Reflek, aku memukul lengan Pak Arfa dengan keras saking kesalnya.
"Kenapa sih? Baru ketemu udah mukul?"
"Saya mau bapak jelasin semuanya ke saya sekarang!" Ucapku dengan nada yang tidak mau dibantah.
Pak Arfa pun tersenyum melihat muka masam yang aku perlihatkan.
"El..." Aku hanya menengok ke arah Pak Arfa sebagai jawaban.
"Kamu ingat waktu saya bilang maaf?"
Aku menjawab dengan nada datar, "Bapak mikir deh, mana mungkin saya bisa lupa. Kayaknya itu pertanyaan yang gak perlu saya jawab."
"Galak banget sih kamu."
"Delia gak hamil, saya tahu itu. Sebenarnya saat itu saya mau menyampaikan suatu hal ke kamu, El. Tapi saya rasa lebih baik saya gak nyampein ke kamu."
"Jadi, maksudnya selama ini bapak bohongin saya?"
"Selama hampir setahun saya berspekulasi tentang bapak sama Delia. Saya gak ngerti dan sekarang saya marah sama bapak."
"Saya dikasih tantangan, El. Saya bilang ke orang tua saya, saya mau ngelamar kamu selesai kamu kuliah. Tapi ayah saya gak setuju. Dia udah ada calon. Makanya kalau saya bisa selesain proyek di Nepal saya baru dikasih restu." Jelas Pak Arfa.
"Tapi ternyata proyek itu memerlukan waktu melebihi ekspektasi saya. Makanya sedikit lama." Lanjut Pak Arfa.
"Kalau masalah surat sih saya rasa memang ada yang salah disana. Saya pikir kamu yang balas."
"Gak peduli. Jelasinnya telat. Pakek banget malah! Bapak pikir saya ini mainan?!"
"Lagian nih ya, Pak... Emang siapa bilang saya mau nikah sama bapak? Siapa bilang saya mau diperjuangin bapak? Banyak kok yang ngantri buat saya pilih."
Pak Arfa tersenyum lalu memelukku dari belakang, aduh cem drama korea euyy.. back hug.
"Kangen."
Aku berusaha melepaskan pelukan Pak Arfa karena mungkin ini terasa aneh?
"Bentar aja, El. Saya kangen maksimal sama kamu."
"Kalau kangen samperin, Pak. Bukan ngirim surat. Emang bapak pikir ini jaman batu apa?!"
Kedua sudut bibir Pak Arfa tertarik ke atas membuat sebuah lengkungan setengah lingkaran saking lebarnya, "Nanti saya jelasin semuanya, El. Saya kan mau kasih kamu surprise."
"Surprise? Bukannya prank?"
Pak Arfa melihat sekelilingnya, "Ketahuan ya? Padahal saya pasang kameranya di tempat yang gak mungkin kamu notice."
Cukup...
Sudah lelah aku menghadapi tingkah Pak Arfa.
"Bodo amat, Pak!"
"Bapak belum pernah lihat saya marah kan? Kayaknya bunuh orang yang berdosa gapapa deh.".
Pak Arfa membalasku dengan tawa lepasnya yang membuatku semakin geram dan kesal.