My Annoying Lecturer

My Annoying Lecturer
ELVIA ENGGAK MAU NIKAH? [SEASON 2|PART 1]


"Gue enggak mau nikah! Pak Arfa jahat"


Devi dan Aldo menatapku dengan tatapan tak peduli. Mungkin mereka sudah malas mendengar keluhan aku.


"Enggak usah nikah, biar Pak Arfa direbut sama cewek lain." Celetuk Aldo.


"Mau nikah emang banyak cobaan, El. Tenang, okay? Jangan ambil keputusan kalau hati lagi enggak baik." Ujar Devi kalem.


"Masa kata Pak Arfa nikahnya di kolong jembatan kalau enggak sidang tepat waktu. Jahat banget sih."


"Salah lu dodol, waktu ditagih skripsi malah kabur ke Korea nonton konser." Oceh Aldo.


Bener juga sih, salah aku emang.


Karena hal itu Pak Arfa sampai mogok ngobrol selama sebulan.


Bayangi aja sebulan tanpa Pak Arfa itu rasanya mau nangis.


Untung aja Pak Arfa berhenti marah gara-gara aku bohong bilang lagi sakit.


"Jadi, pernikahan kalian kapan?" Tanya Devi.


"Enggak tahu, kemarin sih ditunda karena kerjaan Pak Arfa terus insiden kabur heheh."


"El, cek handphone. Pawang kamu sudah nanya-nanya ke aku kapan kamu balik katanya."


"Jawab aja, mungkin hari ini, hari esok, atau nanti..."


Aku tidak tahu bahwa ucapanku kala itu bisa menjadi bumerang bagiku.


Pak Arfa ternyata sudah berdiri di belakang kursiku sejak dari tadi.


"Enggak mau pulang?" Tanya Pak Arfa dengan nada datar, sedatar teori bumi itu datar.


Aku berusaha tersenyum semanis mungkin biar Pak Arfa pas lihat aku jadi diabetes, "Mau kok, Pak."


"Enggak usah senyam-senyum enggak jelas."


"Sejak kapan di situ Pak?"


"Sejak kamu bilang enggak mau nikah."


"Mau kok!"


"Tadi ngadu ke temen bilang enggak mau nikah, saya jahat."


"Itu tadi saya mabok cokelat Pak makanya bilang gitu."


"Oh ya? Kata orang orang kalau lagi mabok bicaranya dari hati."


"Pak, saya kan mabok cokelat. Beda cerita."


Pak Arfa menyentil dahiku cukup kencang, "Saya bilang revisi skripsi kamu, itu sudah tinggal sedikit lagi, bukan malah gibahin saya."


"Bapak mau calon istrinya gila?"


"Saya yang gila duluan karena kamu."


Devi dan Aldo yang menyaksikan pertengkaran kami pun pamit undur diri.


"Kamu sudah makan?" Tanya Pak Arfa.


"Belum, tadi baru gibah Pak belum masuk ke acara inti."


"Acara inti apa?"


"Acara makan." Jawabku sembari tertawa.


"Jadi selama dua jam kamu hahahihi belum pesen makan?"


Aku menganggukan kepalaku, "Belum Pak."


"Ya udah kita makan dulu."


"Bapak yang bayar?"


"Kucing yang bayar."


"Emang kucing bisa bayar?"


Pak Arfa tampak menahan amarah apabila dilihat dari ekspresi wajahnya saat ini, "Kamu enggak mungkin bisa bayar, dompet kamu tertinggal di mobil saya."


Benar saja, setelah aku mengobrak-abrik isi tas.


Liptint ada..


Handphone ada..


Photocard ada..


Lightstick ada..


Semua lengkap, kecuali dompet.


"Jadi Bapak ke sini mau anterin dompet?"


"Saya enggak bisa bayangin kamu cuci piring karena enggak bisa bayar."


Uhh, so sweet banget sih Pak Arfa. Jadi tambah sayang kan.


"Pak, saya janji bakal sidang minggu depan!"


"Kamu sudah bilang itu beratus kali El, kuping saya bisa berdarah lama-lama."


"Dasar hiperbola."


Setelah memesan makanan, Pak Arfa kembali sibuk dengan ponselnya.


"Pak, sibuk ngapain sih?"


"Jangan main handphone!"


"Saya kerja, El."


"Pak!"


"Apa?"


"Saya mau ikut lomba lari."


"Jangan ngada-ngada kamu El. Saya ajak lari pagi lima belas menit aja kamu sudah bengek."


"Asal Bapak yang jadi garis finish-nya."


Pak Arfa mencubit pipiku dengan gemas, "Saya enggak bisa fokus kerja kalau kamu gombalin saya terus."


"Enggak usah kerja. Nanti saya yang biayain hidup Bapak."


"Kamu kan pengangguran. Dengan cara apa kamu mau biayain hidup saya?"


"Kan ada Bang Kelvin, Pak. Aman masalah hidup mah. Kalau Bang Kelvin enggak mau biayain hidup kita, nanti saya lapor ke Mbak Githa."


"Terserah kamu, El."


 


💝💝💝


Aku melihat beberapa file di laptopku, sungguh mengenaskan sekali judul filenya.


Skripsi siap


Skripsi siap yuhuuu


Skripsi siap banget nich


Skripsi siap laksanakan wisuda


Skripsi final woi


Skripsi final fix woi


Skripsi final fix banget woi


Skripsi final fix jangan revisi lagi **


Skripsi final fix demi es teh manis mang tatang tolong jangan revisi lagi, hayati lelah


"Pak, sudah mantap kan?"


Sudah satu jam lamanya aku menunggu respons dari Pak Arfa, tetapi yang kudapati hanya tatapan tajam.


"Masih banyak kurang sebenarnya, tapi sudah cukup baik."


Rasanya ada begitu banyak air mata yang ingin menerobos keluar saat ini.


"Tahan air mata kamu, El." Cegah Pak Arfa.


"Kenapa? Ini mau nangis masa enggak boleh sih, Pak."


"Nanti aja nangisnya setelah sidang. Kamu tunda dulu nangisnya."


"Jahat banget astaga, orang mau nangis aja disuruh tunda."


Pak Arfa tersenyum melihat aku yang mulai sesegukan, "Asal otak kamu enggak eror waktu sidang, saya pastikan sidang kamu berjalan lancar."


Sebenarnya aku cukup mengerti maksud Pak Arfa.


Pak Arfa itu super duper perfeksionis, jadi kalau sudah dapet approve dari Pak Arfa, maka itu berarti sudah di atas rata-rata. Walaupun ngerjainnya penuh perjuangan.


"Kamu ngapain lihat-lihat saya?"


"Tanda tangan, Pak."


"Nanti aja."


"Sekarang!"


"Saya capek."


"Buruan, Pak!"


"Enggak enak kan digantungin pas lagi sayang-sayangnya?"


"Dasar pendendam."


"Kamu bilang apa tadi?"


Aku segera menggelengkan kepalaku, "Ganteng banget maksudnya, Pak."


"Saya tahu saya tampan, terima kasih."


 


💝💝💝


Halo, aku kembali setelah satu tahun tidak mampir ke cerita ini. Aku enggak tahu apa cerita ini kalau dilanjutkan masih ada **feel-nya atau tidak, tapi aku harap kalian bisa suka. Terima kasih atas support kalian selama ini. Cerita ini akan berlanjut atau tidak, tergantung dari respons kalian teman-teman.**


Season dua dari cerita ini nantinya akan banyak membahas kehidupan rumah tangga Elvia dan Pak Arfa. Selain itu, kisah percintaan Bang Kelvin juga akan dibahas.