My Annoying Lecturer

My Annoying Lecturer
Sekelumit Rasa


"Baper gila."



Devi mengerutkan dahinya mendengar penuturan tiba-tiba yang keluar dari mulutku.



"Kamu yang gila?" Tanya Devi dengan nada sarkas.



"Masa cowoknya posesif banget sih sama ceweknya. Kan kesel." Rutukku.



"Drama Korea?"



Aku mengangguk mengiyakan, "Iya. Nyebelin parah cowoknya."



"Emang kamu gak suka cowok posesif?"



"Kalau masih dalam batas wajar sih gapapa. Kan akunya juga tahu batasan. Jadi tanpa dia posesif, akunya juga pasti bakal jaga diri."



Devi melemparkan bantal ke arah mukaku, "Bacot."



Iya. Kemarin aku minta Devi nginap. Mumpung besok libur trus kangen juga, udah jarang kami ada waktu bareng kayak gini.



"Kamu bentar lagi udah mau semester 5 kan?" Tanya Devi.



"Iya. Akhirnya cepet lulus."



"Masih lama bego."



"Santai dong, gak boleh gitu sama Im Yoon Ah."



"Tuh kan ngehalu."



Devi memang memiliki mulut yang sedikit kasar, tapi kata paling parah yang pernah ia sebutkan cuman bego sama njir doang kok.



Soalnya sekarang dia udah punya pawang. Siapa lagi kalau bukan Aldo? Hehe. Dasar bucin.



"Rencana kamu ke depan gimana?"



"Nikah." Jawabku ngaco.



"Kasihan yang punya istri kayak kamu. Udah gak bisa masak, hobinya nyusahin orang lagi."



"Dev, kok bener sih?"



Devi memutar bola matanya tanda jengah dengan kelakuanku, "Aku serius, Elvia."



"Magang dulu mungkin. Kan ntar ada program magang."



"Dimana?"



"Gak tahu, Dev."



"Kamu sama Pak Arfa gimana?"



"Gak tahu juga."



"Loh? Kok gak tahu?"



"Karena aku suka tempe."



"Receh."



"Semua gara-gara Pak Arfa. Salahkan Pak Arfa kalau berani."



Devi tak paham dengan maksud dari ucapanku, "Kok salah dia?"



"Soalnya dia receh banget. Jadinya aku ikutan receh."



"Bohong banget."



"Pak Arfa suka ngelawak gak jelas."



"Kalau kamu yang ngelawak iya aku percaya, kalau Pak Arfa mah gak pantes."



"Jadi kamu lebih percaya Pak Arfa daripada aku?"



"Iya."



"Bodo amat, Dev."



"Ngambek?"



"Sama Aldo sana."



Devi melirik arlojinya, "Bukannya jam 7 ntar mau jalan bareng Pak Arfa?"



Ya ampun.


Iya ya aku lupa!



"Kok baru bilang sih Dev?!" Pekikku saat ekor mataku menangkap visual jam yang sedang menunjuk angka pukul 18.00.



"Kamu yang pergi, masa aku yang harus inget."



Secepat kilat aku langsung masuk ke kamar mandi untuk bersiap-siap.



Pak Arfa kan benci banget dengan namanya kata telat.



💥💥💥



"Mana Pak Arfa?" Tanya Devi.



Iya. Aku udah nungguin Pak Arfa setengah jam di ruang tamu. Sebentar sih setengah jam, tapi ini kayak bukan Pak Arfa sampai telat setengah jam.



"Gak tahu, ditelepon gak angkat. Chat juga gak bales. Kayak Bang Toyib." Jawabku dengan nada kesal.



"Siapa tahu baterai lowbat."



"Siapa tahu macet."




"Yaa, gak gitu juga Vi."



"Bentar bentar, Aldo telepon."



Tuh kan, Bucin!



Lama sih, udah mau jam delapan malam. Berarti udah nunggu sekitar satu jam. Pak Arfa masih gak ada kabar. Dan dari lima belas menit yang lalu Devi asik teleponan sama Aldo gak kelar-kelar sampe sekarang.



"Vi," Panggil Devi.



"Apa?"



"Kayaknya Aldo nemu sesuatu deh." Ujar Devi sambil nyerahin satu foto dari layar handphone dia.



" Ujar Devi sambil nyerahin satu foto dari layar handphone dia


"Kenapa? Ganteng?"



Gilaaa


Pak Arfa foto dari belakang aja ganteng.



"Bukan itu poinnya Vi."



"Terus?" Tanyaku gak sabar.



"Aldo fotonya pas gak sengaja lihat Pak Arfa ke rumah cewek. Tapi gak sempet kefoto ceweknya siapa."



"Kenalan mungkin."



"Iyain aja lah kamu tuh."



"Hehe. Terus kenapa? Mungkin sepupu Pak Arfa kali."



"Kamu tuh bego atau apa sih, Vi? Yang tinggal di Indonesia kan cuman Pak Arfa dan Mamanya. Keluarganya mah kan tinggal di luar negeri semua."



Eh, iya yah.



"Terus?"



"Mikir aja sendiri."



"Aku serius, Dev."



"Kamu kan tunangan Pak Arfa. Kamu ada hak dong buat nanya."



"Tapi ntar aku dikira cewek posesif lagi. Dikit-dikit curiga."



Devi menepuk kepalanya gemas saking kesalnya melihat tingkah lemotku hari ini, "Gini ya sayangku..."



"Kamu itu kan udah ada janji dengan Pak Arfa. Sampe sekarang masih gak ada kabar. Betul?"



Aku menganggukan kepalaku, "Iya. Terus kolerasinya apa?"



"Tadi Aldo kasih tau katanya dia ngambil foto itu sekitar mau jam 6."



"Terus?"



Devi beneran kesel deh kayaknya.


Entahlah mungkin karena banyak asupan drama korea, hari ini aku jadi lambat mikir.



"Mungkin aja Pak Arfa mu itu selingkuh. Makanya sampe sekarang gak ada kabar. Lupa kali sama kamu." Jawaban frontal Devi berhasil membuatku tertegun.



"Pak Arfa gak kayak gitu kok."



"Itu kan cuma praduga aku doang."



"Tuh, daritadi hape kamu bunyi. Kayaknya ada pesan masuk. Coba cek siapa tahu Pak Arfa."



Aku pun memperhatikan ponsel pintar yang sedari tadi tergeletak di meja.



Pak Galak


Elvia



Elvia Avaretta


Iya?



Pak Galak


Udh nunggu lama?



Elvia Avaretta


Bgt



Pak Galak


Maaf.


Hr ini cancel ya.



Elvia Avaretta


Knp?



Pak Galak


Delia sakit.


Td saya ke rumahnya.


(Read)



Iya.


Delia lebih penting dari aku.


Gitu aja terus.


Aku aja terus yang ngalah.



Tapi setidaknya Pak Arfa jujur sih.



Gak! Sadar Elvia! Mana ada pasangan yang jujur kalau mau selingkuh. Paling guguk sama meong jalan-jalan alesannya meong jaga guguk. Basi!



Jadi intinya Pak Arfa lebih prioritasin Delia daripada aku?