
"Pak! Katanya gak ngajar lagi!"
Pak Arfa tersenyum mendengar penuturanku.
Gak terasa waktu berlalu begitu cepat. Liburan pun juga terasa cepat sekali usai, padahal masih butuh waktu libur buat refreshing otak. Hehe. Emang dasar akunya aja yang malas kuliah.
"Emang saya gak boleh jadi dosen lagi?"
"Bukan gitu. Tapi kan bapak bilang gak ngajar lagi!"
"Yaudah, saya pulang nih?"
"Pulang aja. Kan enak gak ada kelas."
"Saya kan bilang berhenti ngajar di semester 4 yang mata kuliahnya Bu Ningsih. Tapi saya gak pernah bilang berhenti ngajar semester 5 dengan mata kuliah yang baru."
Terserah deh, Pak.
Iyain aja biar cepet.
"Serah. Padahal fans bapak udah nangis bombay waktu bapak bilang gak ngajar lagi."
"Kepergian sementara saya waktu itu memang pantas ditangiskan, Elvia."
Aku merengut kesal, "Bapak kok nyebelin?!"
"Kamu kok ngeselin?!" Ucap Pak Arfa meniru nada suaraku.
"Habis kamu kuliah mau jalan?"
"Malam ini? Emang bapak gak capek?"
"Capek sih. Tapi kan kita udah semingguan gak ketemu."
Iya. Setelah peristiwa jajan malem waktu itu, kami gak ketemuan lagi. Kata Pak Arfa dia mau ke luar negeri ada urusan bisnis.
"Istirahat aja deh, Pak. Ntar bapak sakit, saya yang susah."
"Kok kamu yang susah?"
"Iyalah. Nanti saya diomelin Tante Lina."
Pak Arfa mengusap pelan puncak rambutku, "Saya pikir kamu mau gombal."
Blush
Lagi-lagi pipiku macam tomat. Kadang, perilaku kecil dari Pak Arfa itu berhasil buat jantungku berdegup dua kali lebih kencang dari biasanya.
"Pak..."
"Apa?"
"Bapak jangan kelamaan duduk disitu. Deket saya aja."
Pak Arfa menaik-turunkan alisnya, "Kenapa? Kamu mau modus?"
Btw, ini kami masih di ruangan Pak Arfa. Iya, aku datang pagian. Semangat awal masuk kali ya. Eh, ngelihat Pak Arfa nangkring di ruangan aja jadi ngeselin. Kan dia bilang udah gak ngajar lagi! Jadi sia-sia dong perasaan sedih aku waktu itu?!
"Sembarang! Ngapain saya modusin bapak? Harusnya bapak dong yang modusin saya!"
"Kamu mau saya modusin?"
Aku mengangguk, "Iya."
"Bapak jawab dulu dong yang saya tanyakan tadi!"
"Saya kan sudah jawab."
Aku menepuk dahiku, "Iya ya?"
"Yaudah. Bapak jangan duduk disitu pokoknya."
"Kenapa?"
"Soalnya bapak terlalu manis. Takut dikerubungi semut disana."
"Kamu pagi-pagi udah ngegembel ya?"
"Gombal, Pak!"
"Kalau kamu lebih cocoknya gembel."
"Serah."
"Udah jam berapa nih?" Tanya Pak Arfa.
"Sekitar jam 11. Kenapa?"
"Kelas Bu Rita jam berapa?"
"Oh."
Wait!
Jam berapa tadi aku bilang?!
"Bapak kok baru ngomong sih!" Ujarku sembari berlari ngacir ke kelas.
Gila!
First impression aku di hari pertama masuk! Huhu, matilah aku kalau telat.
💞💞💞
"Dek"
Sebenarnya aku cukup terkejut. Tiba-tiba mas tamvan datang bawa martabak keju malam-malam.
"Iya, Mas?" Tanyaku.
Sebenarnya ini sudah cukup malam untuk bertamu. Jam delapan malam.
"Kamu suka?"
Aku melahap beberapa martabak keju dengan penuh semangat. Emang bener ya kalau malam itu bikin napsu makan ningkat, jadi laper mulu bawaannya.
"Banget, Mas. Perfect timing banget. Pas saya lagi laper."
"Bagus deh kalau gitu."
"Mas kok tumben datang kesini malam-malam? Kenapa Mas?"
"El, sebenarnya maksud kedatangan saya kesini mau ngomong sesuatu sama kamu."
"Kenapa Mas? Kayaknya urusan penting kalau dilihat dari wajah Mas yang lumayan tegang."
Untung Bang Kelvin hari ini gak pulang. Jadi, gak ada yang ngadu ke Pak Arfa kalau Mas Tamvan berkunjung malem-malem. Hehehe.
"Kamu tahu kenapa kemarin-kemarin Arfa kelihatan sibuk?"
Aku menggelengkan kepalaku bingung, "Gak tahu. Urusan kantor lagi ribet mungkin."
"Tapi, setahu saya sekitar lima hari yang lalu, Arfa ke luar negri."
Aku menganggukan kepalaku, "Iya. Pak Arfa juga udah bilang kok."
"Tepatnya ke Australia."
Aku sedikit memutar otakku. Kenapa kata Australia mampu menyetrum perasaanku. Kenapa kata itu bisa membuat jantungku berdebar kencang.
"Jadi?"
"Saya rasa kamu sudah tahu siapa sosok yang ditemui Arfa disana."
Aku menggelengkan kepalaku berusaha menampik semua pemikiran mengenai kemungkinan-kemungkinan terburuk.
"Gak mungkin."
Mas Alvin diam sebentar. "Saya ada bukti. Saat itu saya juga sedang dalam perjalanan ke Australia untuk pemotretan."
"Awalnya saya tidak mau ikut campur. Tapi, saya rasa kamu harus tahu."
"Saya sudah kirim semua bukti ke WA kamu."
Rentetan kalimat Mas Alvin membuat kepalaku sedikit pusing ditambah foto-foto yang dikirim Mas Alvin.
"Mas, saya rasa saya butuh waktu buat berpikir."
Mas Alvin yang mengerti dengan maksudku pun segera bergegas pergi, "Iya. Saya gak punya maksud apa-apa, El. Saya hanya gak ingin kamu tersakiti."
"Makasih ya, Mas. Maaf repotin."
"Jangan bilang makasih, El. Kita kan teman gak perlu saling sungkan."
Aku tersenyum singkat lalu mengantar Mas Alvin sampai depan pintu.
"Hati-hati di jalan ya, Mas."
"Makasih, El."
Setelah kepergian Mas Alvin, aku pun beberapa kali mengecek ulang bukti-bukti yang sudah dikirim oleh Mas Alvin.
"Kenapa harus Delia lagi?" Gumamku.
Bukannya guguk udah mau nikah?
Ngapain ganggu Meong kepunyaan aku sih?!