
Hari ini jadwal kuliahku lumayan padat. Ada 3 kelas yang harus aku ikuti.
Pertama, kelasnya Bu Ratih. Kalau kelas Bu Ratih sih santai aja. Soalnya Bu Ratih itu suka ngajar sambil cerita. Jadi gak ngantuk-ngantuk amat.
Lalu, kelasnya Pak Damar. Tapi kelasnya tiba-tiba dibatalkan, soalnya istri Pak Damar lagi sakit.
Yang terakhir, yang lagi aku tunggu tuh kelasnya Pak Arfa. Masih ada waktu sekitar satu jam-an lagi sih sebelum kelasnya Pak Arfa dimulai.
Alhasil, sekarang disinilah aku. Duduk cengo kayak orang bego nungguin kelas Pak Arfa. Devi dan Aldo mah gak usah ditanya, mereka pasti lagi sibuk pacaran. Emang dasar dua anak itu bucin banget. Padahal tiap hari ketemu di kampus, masih aja gak cukup waktu berduaannya.
"Elvia?"
Aku lantas langsung menolehkan kepalaku ke arah sumber suara yang memanggil namaku, "Loh? Mas Alvin?"
Mas Alvin tersenyum begitu melihatku kebingungan dengan kehadirannya yang tidak disangka-sangka, "Kaget ya?"
Aku mengangguk tanda mengiyakan ucapan Mas Alvin, "Kaget lah, Mas. Saya pikir saya gak bisa ketemu Mas lagi."
Mas Alvin mengerutkan keningnya, "Kenapa begitu?"
"Bukannya Mas pindah ke Bandung?"
Mas Alvin terkekeh pelan mendengar penuturanku, "Siapa yang bilang begitu?"
Kini, giliran aku yang dibuat bingung dengan pernyataan Mas Alvin. Apa aku salah menafsirkan?
"Waktu itu Mas Alvin bawa kopernya segede gaban gitu."
"Hobi saya itu foto-foto dan traveling Elvia, waktu itu saya dapat waktu luang sekitar seminggu. Jadinya saya mutusin buat jalan-jalan ke Bandung, sekalian ajak Mama saya. Tapi, ternyata Mama saya gak bisa. Makanya saya nawarin kamu daripada tiketnya hangus." Jelas Mas Alvin.
"Lalu, koper itu isinya peralatan saya." Lanjut Mas Alvin yang langsung membuatku menganggukan kepala tanda paham.
"Kok Mas Alvin bisa disini?" Tanyaku.
"Saya kuliah disini juga, Elvia." Jawab Mas Alvin.
Masa? Kok aku gak pernah lihat?
"Kamu saja jarang masuk kuliah, jangan sok iya ngomong gak pernah lihat saya." Seakan cenayang, Mas Alvin sepertinya mampu menjawab pertanyaan yang aku gaungkan di dalam benakku.
Aku pun merengut kesal, "Emang Mas Alvin kuliah jurusan apa?"
"Saya kuliah jurusan Hukum."
Aku membelalakan mataku kaget, "Hukum Mas?"
Mas Alvin menganggukan kepalanya, "Iya, hukum. Kenapa? Aneh ya?"
Entah kenapa, dengan spontan kepalaku naik-turun mengiyakan bahwa aku merasa aneh, "Kok bisa sih Mas?"
Mas Alvin tersenyum, "Bisa dong."
Sejujurnya, dulu aku sempat bercita-cita ingin menjadi pengacara. Tapi, setelah aku pikir-pikir lagi, sepertinya mentalku tidak cukup baja untuk menggeluti profesi tersebut.
"Saya serius, Mas. Kok bisa kuliah hukum?"
"Keluarga saya itu keluarga pengacara, El. Mau tidak mau, saya yang notabenenya sebagai anak tunggal ya harus mengikuti tradisi keluarga saya. Untungnya, orang tua saya tidak terlalu kaku. Jadi, mereka masih memperbolehkan saya untuk terjun ke dalam dunia fotografi." Jelas Mas Alvin.
"Oh, berarti Mas Alvin sebenarnya memang gak mau kuliah hukum?" Tanyaku.
Sepertinya lain kali aku harus lebih bisa mengontrol rasa ingin tahuku yang berlebihan.
"Awalnya memang seperti itu, namun makin kesini saya makin suka belajar tentang hukum."
Aku pun kembali teringat dengan Mas Alvin yang tiba-tiba bisa ada disini, "Jadi, Mas Alvin kok bisa nyasar di Gedung Ekonomi?"
Ya ampun, Mas.
Jangan senyum terus dong.
Hati adek gak kuat nih.
"Aneh aja gitu, Mas."
Mas Alvin mengusap puncak rambutku pelan, "Saya nyari kamu."
Inget, Elvia. Kamu itu udah punya tunangan!
Tapi kan tunangan sama Pak Arfa itu pura-pura doang.
Duh, sakit kalau keinget Pak Arfa.
"Loh? Kok nyari saya sih Mas? Ada apa?"
"Kangen."
Omimi
Jangan baper, Elvia.
"Saya juga kangen sama Mas. Kangen dijajani makanan, hehe."
Secara misterius, aku mulai merasa bulu kudukku secara perlahan berdiri. Entah karena ada kehadiran makhluk tak kasat mata atau hal lain, tapi aku merasa seperti sedaritadi ada yang memperhatikanku.
"Kangen?"
Sepertinya aku mengenal dengan jelas suara ini.
Tentu saja, ini bukan suara Mas Alvin yang adem dan sejuk.
Nada suara yang ini lebih rendah dan mencekam.
"Eh, Pak Arfa. Selamat siang Pak." Ujarku cengengesan.
Pak Arfa memandangku dengan wajah lempengnya, "Sudah? Kangen-kangenannya? Saya daritadi hubungi kamu, ternyata kamu malah asik pacaran."
Aku segera mengarahkan pandanganku ke arah handphone yang daritadi belum aku sentuh.
"Maaf, Pak." Ucapku setelah mengecek ada 4 panggilan tidak terjawab dari Pak Arfa.
"Kamu niat tidak sebenarnya jadi asisten saya? Saya tidak butuh asisten yang hanya bisa pacaran."
"Maaf, Pak. Saya daritadi charge handphone saya."
"Kamu selalu mencari alasan untuk membenarkan tindakan kamu."
"Bukankah kamu tidak memperhatikan handphone karena asik ngobrol? Gitu kan?" Lanjut Pak Arfa.
Entah kenapa, tapi Pak Arfa terlihat marah.
"Iya, Pak. Maafin saya. Kira-kira ada yang bisa saya bantu gak Pak?"
Pak Arfa membuat lengkukan senyum meremehkan di paras tampannya,"Saya sudah minta bantuan orang lain. Silahkan lanjutkan kegiatan pacaran yang sempat saya intrupsi."
Aku menatap Pak Arfa dengan banyak sekali pemikiran yang berkecamuk, "Maaf ya, Mas Alvin. Kayaknya Pak Arfa lagi peemes."
"Iya. Gapapa. Kamu gak ngejer Pak Arfa?" Tanya Mas Alvin.
Aku mengernyitkan dahiku, "Ngapain?"
Mas Alvin menyentil dahiku, "Minta maaflah. Kamu mau nilai kamu jelek?"
Aku pun segera tersadar dengan tindakanku tadi yang bisa saja mempengaruhi nilaiku, "Saya ngejar Pak Arfa dulu ya, Mas."