My Annoying Lecturer

My Annoying Lecturer
Elvia Cinta Meong?


Pak Arfa itu apa ya?


Sejenis manusia ga berperasaan mungkin.



Kadang, tutur kata Pak Arfa itu berhasil membuat semburat merah muncul di kedua pipiku.


Namun, tak jarang pula ia berhasil membuat hatiku perih karena kalimat yang ia lontarkan.



Tingkah lakunya juga tidak jelas. Hari ini dia mampu membuat aku merasa spesial. Tapi, di hari berikutnya ia malah bersikap seakan-akan aku itu tidak penting.



Menyebalkan? Sangat!


Sudah berapa kali pikiran liarku mengusikku untuk membuang sosoknya dalam benakku.


Tapi, entahlah. Bukankah ada yang bilang jika kamu siap jatuh cinta, maka kamu juga harus siap sakit? Karena tidak ada jatuh yang menyenangkan.


Bukankah seperti itu?



Sejujurnya aku juga tidak mengerti. Apakah aku menyukai Pak Arfa atau hanya sekedar kagum padanya?



Tapi, aku pernah membaca jika dia berhasil membuatmu bahagia, maka kamu menyukai dia. Namun, jika dia berhasil menorehkan luka, maka kamu mencintai dia.



Maapkeun aku, aku kalau lagi galau emang kayak gini. Rasanya mau dengerin lagu mellow sambil nangis bombai.



"Neng, ada temen cowok nyari neng. Namanya Alvin neng." Teriak Mbak Ica dari lantai bawah.



Aku pun mengusap air mataku kasar.


Alamak, udah jam 8 aja. Belum mandi. Belum siap-siap. Pakaian aja masih daster.



Satu kata, mampus.



"Iya, Mbak! Bilangin ya tunggu sekitar 15 menit! Kasih makan, minum, atau apa kek Mbak biar ga marah." Teriakku yang pasti sudah didengar juga oleh Mas Alvin.



Aku mandi ga lama kok. Paling 10 menit doang. Itupun kata Bang Kelvin udah lama. Entahlah, Bang Kelvin tuh sebenarnya mandi atau enggak juga aku ga ngerti.



Ngomong-ngomong soal Bang Kelvin, tadi aku sudah sempat kabari kok kalau aku nyusul, dan Bang Kelvin juga sudah okay buat jemput aku.



Entahlah, tapi sepertinya memang ada masalah disana.



Bang Kelvin sama aku tuh bener-bener ga mirip. Bahkan, kalau aku jalan sama Bang Kelvin pasti dikiranya pacaran. Lelah hati adek kalau jalam berdua sama Bang Kelvin mah. Tatapan wanita-wanita yang tertarik dengan Bang Kelvin tuh nyeramin.



Sebenarnya aku itu termasuk ke dalam kategori cewek tomboy. Makanya, seumur hidupku aku cuman berpacaran sekali. Itu pun ga bisa dibilang pacaran juga, karena nembaknya lewat bbm, putusnya lewat line. Itupun cuman bertahan tiga hari 2 malam. Emejing kan?



"Maaf, Mas. Lama akunya." Ucapku sembari menggaruk tengkuk yang sebenarnya tidak gatal.



"Gapapa, kelupaan ya?" Pengertian kali sih Mas Tamvan.



"Iya, ga tahu kalau udah jam 8 aja. Cepet banget ya Mas waktu berlalu."


Salahin Pak Arfa yang buat aku galau semalaman. Ini aja masih kesel. Pak Arfa ga ada niat gitu buat vcall, telepon, atau sekedar chat minta maaf? Emang pria nyebelin dia tuh. Tapi bodohnya, aku cinta sama dia.



"Kebanyakan nonton drakor kamu sampe matanya sembab gitu." Ucap Mas Alvin.



Alamak, pasti gara-gara nangis bombai tadi. Untung Mas Alvin tidak berburuk sangka. Bisa jatuh reputasi aku kalau Mas Alvin tahu aku nangisin cowok. Dimana Elvia yang marahin Devi waktu dia nangis karena hampir putus sama Aldo? Memang, cinta membuat manusia lemah.



"Iya, sedih banget tadi dramanya. Mas udah siap?"



Mas Alvin mengangkat ranselnya, "Sudah."



"Mbak, aku pergi dulu ya." Mbak Ica yang sebelumnya lagi cuci piring menghentikan aktivitasnya sejenak.



"Hati-hati neng." Ujar Mbak Ica.




"Iya, Mbak. Mbak juga ya hati-hati sendiri disini. Kalau Mbak mau ajak anak Mbak main kesini gapapa kok." Iya. Aku udah percaya banget sama Mbak Ica.



Kesian kan kalau Mbak Ica ngejomblo selama berhari-hari karena aku tinggal pergi.



"Siap, Neng! Neng sama Masnya juga hati-hati ya."



Setelah pamit, kami pun segera melanjutkan perjalanan. Pakek kata kami, sudah kayak apa aja. Gapapalah, biarlah jomblo ini berimajinasi sesuka hati.



"Pak Arfa?" Ujarku sedikit tersentak. Karena dengan muka datar khasnya, Pak Arfa berdiri di depan pintu rumahku.



Seram cuy, kayak mau nagih hutang.



"Kamu jadi pergi?" Ucap Pak Arfa tanpa melirikku. Iya. Daritadi dia cuman menatap tajam Mas Tamvan.



Kasihan Mas Tamvanku harus berjuang melawan tatapan maut Meong.



"Iya." Ucapku singkat.


Masih kesal lah, ga boleh kedengaran antusias.


Kamu kuat Elvia! Jangan lemah!



"Maaf, dia ikut saya." Tanpa babibubebo, Pak Arfa menarik pelan pergelangan tanganku agar aku lebih mendekat ke sisinya daripada Mas Alvin.



"Elvia?" Tanya Mas Alvin yang tidak mengerti dengan situasi macam apa saat ini. Sama sih, aku juga gak ngerti.



Yang aku tahu, sekarang Pak Arfa lagi megang tangan aku. Hehe.



"Hah?" Respon lemotku muncul.



"Saya sudah bilang ke abangnya. Saya antar dia pakai mobil. Maaf merepotkan Anda sebelumnya." Jelas Pak Arfa.



Hah? Bang Kelvin kagak ada bilang begitu.



Mas Alvin tersenyum menanggapi Pak Arfa, "Tidak repot. Saya senang membantu Elvia."



"Elvia, saya duluan." Lanjut Mas Alvin.



Jangan senyum Bang, meleleh hati adek.



"Iya, Mas. Hati-hati ya. Maaf."



"Gapapa." Ucap Mas Alvin lalu bergegas menuju bandara.



Aku pun kemudian menatap Pak Arfa menuntut penjelasan, "Maksudnya apa ini Pak?"



Pak Arfa hanya menolehkan kepalanya ke kanan. Seakan-akan enggan menjawab.



"Kamu mau cepat sampai atau tidak?" Ujar Pak Arfa sembari berjalan ke arah mobilnya



Iya. Mungkin Pak Arfa cukup gemas melihat aku yang daritadi hanya berdiri mematung.



Jarak dari Jakarta ke Bandung sih memang tidak jauh. Kalau ditempuh menggunakan mobil, paling-paling butuh waktu sekitar 3 jam lebih.



Tapi, ngapain Pak Arfa repot-repot anterin aku ke Bandung?