My Annoying Lecturer

My Annoying Lecturer
Pengakuan Mas Alvin


Hari ini aku gak magang di hotelnya Pak Arfa. Soalnya aku magang cuman 3 hari kerja. Jadilah, hari ini aku kembali mengikuti rutinitas kuliah seperti biasa. Sebenarnya malas datang sih, tapi sialnya hari ini ada mata kuliahnya Pak Arfa.



Menyebalkan bukan?



"Mas Alvin?" Ujarku sedikit terkejut ketika melihat Mas Alvin sudah berdiri di halaman rumahku.



"Mau kuliah?" Tanya Mas Alvin sambil memperlihatkan senyumnya. Aduh, tolong jangan senyum Mas. Senyumanmu mampu mengalihkan duniaku.



Elvia, ingat Pak Arfa!



"Iya." Jawabku sedikit canggung.



"Mas sendiri ada perlu apa kesini?"



"Jemput kamu."



"Mas..."



"Saya tahu. Kamu gak perlu jelasin. Emang saya gak boleh anterin kamu sebagai teman?"



"Gak gitu juga sih, Mas."



"Yaudah, ayo. Keburu telat."



Aku pun mengiyakan ajakan Mas Alvin, lagipula aku gak dalam posisi untuk menolak kan?



"Mas? Ada yang mau diomongin ya?" Setelah diam melanda cukup lama, aku pun akhirnya menyuarakan kalimat.



Mas Alvin yang masih menyetir mobil pun menoleh ke arahku sebentar, "Iya."



"Kenapa Mas?"



"Maaf."



Aku sedikit bingung mendengar kata maaf yang dilontarkan oleh Mas Alvin,



Maaf ?


Bukannya harusnya aku yang minta maaf ?



"Saya yang balas surat Pak Arfa selama ini. Saya yang menerima suratnya."



"Kenapa Mas?"



Aku sudah menebak tentang hal ini. Jadi, aku berharap aku tidak terlalu terkejut. Namun, tetap saja aku sedikit terguncang mendengar pernyataan Mas Alvin.



"Saya gak mau kamu balikan sama Arfa."



"Mas..."



"Maafin saya, Elvia."



Aku memaksakan diriku untuk tersenyum, "Udah lewat juga kan Mas? Meskipun saya kecewa, tapi yasudah gapapa."



Kebiasaan!


Kenapa sih El, kamu selalu aja cepat maafin orang?



"Ada satu hal lagi."



Aku sedikit terkesiap mendengar ucapan Mas Alvin, "Ya?"



"Saya yang nyuruh Delia untuk bohongin kamu."



💥💥💥



Terik matahari tidak membuatku sadar dari lamunanku, justru aku malah tenggelam dalam lamunanku. Entahlah, perasaanku sekarang sedang kacau.



Apakah aku terlalu mudah bagi orang-orang? Dikecewakan kedua kalinya oleh orang yang aku percaya, mengapa rasanya sesakit ini?



"Lu kenapa?" Aldo yang melewati kursiku pun nampaknya tidak tahan melihat wajah murungku.



Udah gak cocok ngambek, gak cocok murung. Jadi aku cocoknya apa? Ngamen? Mulung?



"Gapapa." Ujarku tanpa melirik Aldo.



"Kesurupan?"



Aku hanya menganggukan kepalaku sebagai respon dari pertanyaan yang diajukan Aldo.



"Siang-siang gini?"



Aldo pun menarik kursiku agar menghadap ke arahnya, "Eta teh saha? Ayo keluar dari tubuh joroknya Elvia! Setan kok gak bisa milih badan yang bagus buat dirasukin sih?"



Aku pun segera menjitak kepala Aldo saking kesalnya, "Sekali lagi lu bacot, jangan harap besok lu bisa lihat cerahnya matahari pagi."



"Galak banget sih lu."



"Kenapa sih? Mentang kelasnya Pak Arfa udah kelar, lanjut bolos ya."



Iya. Soalnya Devi masih lanjut masuk kelas, sedangkan aku memilih untuk merenung di kursi kantin sambil ngemil kentang gorengnya Mang Tatang. Enak, Heheh.



"Semua cowok itu nyebelin ya."




"Lu mah apalagi, gak usah ditanya." Jawabku dengan nada datar



"Emang kenapa sih lu?"



"Mas Alvin, Do."



"Lu selingkuh ke Alvin? Eh, jangan panggil Mas dong. Gak kuat kuping gue denger lu manggil Mas."



Aku hanya memberikan tatapan tajam ke Aldo, "Bacot gak jelas sekali lagi, kelar hidup lu."



"Galaknya muncul lagi."



"Bodo. Lu buat gue tambah stress, tau gak?"



"Yaudah, cerita coba. Kenapa?"



"Gue terlalu mudah ya Do?"



"Mudah gimana?"



"Mudah dibohongin."



Dengan wajah tanpa dosa Aldo menganggukan kepalanya, "Betul sekali. Seratus untuk bu dosen!"



"Gue serius, Do."



"Pak Arfa secara gak langsung bohongin gue, Mas Alvin bohongin gue. Bang Kelvin juga sama aja. Lu juga diem-diem bohongin gue."



Raut muka Aldo pun sedikit berubah panik ketika mendengar kalimat terakhir yang aku lontarkan.



"Salahin Pak Arfa lah. Dia maksa gue."



"Bodo. Lu juga minta imbalan kan?"



"Pak Arfa cerita?"



"Enggak."



"Aldo bukan itu intinya!"



Aldo nyengir, "Iya sih. Lu terlalu mudah maafin orang Vi."



"Tuh kan."



"Tapi kalau udah deket doang sih. Kalau belum deket sama lu, lu kan galak."



"Curhat sama lu emang gak ada faedahnya."



"Mau kemana?"



Melihat aku yang sudah berdiri ingin beranjak pergi membuat Aldo sedikit heran.



"Ke ruangan dosen galak. Udah bawel daritadi." Ujarku sembari menunjukkan ponselku.



💥💥💥



"Kenapa Pak?"



Pak Arfa tersenyum melihat kehadiranku, "Tadi pergi sama siapa?"



"Mas Alvin."



"Saya kan sudah bilang, El. Saya gak suka kamu dekat sama Alvin."



"Sebagai teman, Pak."



"Kalau kamu terlalu baik, nanti dia terlalu sayang."



"Gapapa. Biar kalau bapak macem-macem. Saya bisa selingkuh."



"El!"



Aku tersenyum, "Pak. Hari ini saya lagi banyak pikiran. Gimana kalau kita ributnya ntar aja? Hari Minggu saya gak sibuk Pak. Kita ributnya ditunda sampai hari Minggu aja ya?"



"Siapa yang mau ribut?"



"Kita."



"Saya gak bilang mau ribut."



"Feeling saya berkata kita mau ribut."



"Yaudah. Kamu bantu saya rekap nilai aja."



"Lagi?!"



"Kenapa? Saya kan belum pecat kamu sebagai asisten dosen."



"Nyebelin!"