
"El, kamu ngapain?"
Pak Arfa terlihat kebingungan melihatku yang sejak dari tadi pagi memasang muka masam. Hari ini sudah terhitung lima belas hari aku dan Pak Arfa tidak keluar rumah. Bang Kelvin tidak usah diharapkan, dia malah dengan sengaja menitipkan aku kepada Pak Arfa. Katanya ia tidak sanggup kalau harus berdiam diri di rumah bersamaku. Sungguh Abang yang sangat pengertian, ia tahu sekali kalau aku lebih suka bersama dengan Pak Arfa dibandingkan dengan dirinya.
"Saya kesal, Pak!"
"Kayaknya enggak ada hari kamu tidak kesal, El."
"Perasaan kesal saya reda kok Pak dengan melihat wajah Bapak."
Pak Arfa menyentil dahiku, "Kenapa kesal El?"
"Besok mau wisuda online."
"Lalu?" Tanya Pak Arfa.
"Itu letak permasalahannya Pak."
"Permasalahannya ada dimana El?"
"Di situ! Masalahnya besok itu jadwalnya saya ikut fan meet online Pak."
"Kamu mau saya sleding El?"
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan cepat, "Ampun Pak Boss."
"Saya lebih tampan dari pada idola kamu asal kamu tahu."
"Tapi Bapak enggak bisa nyanyi sama dance sebagus mereka."
"Kamu aja yang enggak tahu saya bisa gitu."
"Emang bisa?"
Sepertinya Pak Arfa merasa tertantang mendengar ucapanku.
"Saya enggak mau aja nunjukin ke kamu."
"Pak, nanti pura-pura jadi Papa saya ya."
Pak Arfa menunjuk mukanya, "Saya?"
"Iya, masa sama angin yang berhembus? Saya ngomong dengan siapa lagi kalau bukan sama Bapak?"
"Enggak mau."
"Harus didampingi keluarga atau wali Pak. Bapak kan belum jadi suami."
"Minta abang kamu aja dateng."
"Bapak mau berlutut aja Bang Kelvin enggak mungkin mau dateng."
"El, saya enggak mau ya pokoknya."
"Kalau Bapak enggak mau, saya enggak wisuda, berarti enggak lulus. Kesimpulan akhir kita enggak jadi nikah."
"Mana bisa gitu. Saya sudah cukup gila nungguin kamu kelarin skripsi."
"Makanya pura-pura jadi Papa saya."
"Kenapa harus jadi Papa?"
"Mukanya cocok soalnya. Nanti tinggal saya tambahin kumis pasti enggak ada yang sadar."
"Kamu ngatain saya tua?"
"Enggak kok, saya bilang Bapak itu dewasa."
"El, kesehatan mental saya perlu dipertanyakan kalau sama kamu."
"Mental Bapak justru sangat terlatih kalau dekat saya, dari pada Bapak sibuk sama benda mati."
"Harus banget saya?"
"Harus!"
"Kalau saya enggak mau?"
"Enggak boleh enggak mau. Bapak enggak boleh durhaka sama calon istri. Dulu Bapak sudah buat saya sakit hati sampai saya nangis-nangis bombay. Sekarang, Bapak mau buat saya nangis lagi gara-gara gagal wisuda?"
Pak Arfa yang sepertinya sudah menyerah hanya bisa menganggukan kepalanya dengan pasrah, "Terserah kamu El."
"Ayey!"
"Kamu senang?"
"Senang."
"Kenapa senang?"
"Senang aja."
Pak Arfa berkacak pinggang, "Kamu senang karena berhasil ngerjain saya?"
"Enggak kok, saya janji tidak akan ada dokumentasi dalam bentuk apapun yang menampilkan wajah Bapak."
"Saya jadi tambah curiga karena kamu ngomong begitu."
"Tidak baik loh Pak mencurigai seseorang."
"Tidak baik juga loh El mengerjai orang tua."
"Memang Bapak orang tua?"
"Okay siap, orang tua!"
"Bagus, anak muda."
"Bapak enggak kerja?"
"Sebentar lagi. Saya mau mastiin kamu dulu masih dalam keadaan hidup atau enggak."
"Astaga dragon Pak."
"Habis kalau kamu sudah mabok drama, susah buat sadar."
"Karena saya baik, Bapak, mau makan apa? Anggur atau apel?"
"Saya suka dua-duanya. Ikutin kemauan kamu aja mau makan apa."
"Saya mau makan apel."
"Ya udah, makan apel."
"Tanyain dong Pak kenapa milih apel."
Pak Arfa dengan sabar meladeni aku, "Kenapa Elvia milih makan apel?"
"Karena saya lebih suka apelin Bapak dari pada anggurin Bapak."
"El, otak kamu tuh isinya gombalan semua ya?"
"Enggak kok."
"Jadi otak kamu isinya apa?"
"Isinya ada Sehun, Chanyeol, D.O, Suho, Kai, Xiumin, Baekhyun, Lay, Tao, Luhan, Kris, terus Chen. Eh kalau Chen itu di otak saya bukan sebagai selingkuhan soalnya sudah punya istri. Saya enggak mau jadi pelakor."
"Di otak kamu enggak ada saya?"
"Bapak enggak ada di otak saya."
"Jadi ada dimana?"
"Ada di hati dan pikiran saya."
"Oh gitu."
"Kalau saya ada dimana Pak?"
"Ada di hadapan saya."
"Gombal dong Pak."
"Saya mau belajar nanti, kamu mau ikut?"
"Belajar apa?"
"Belajar bagaimana agar saya tetap waras."
"Bapak mau ikut saya belajar enggak?"
"Kamu? Mau belajar? Luar biasa."
"Belajar masak."
"Dengan cara apa?" Tanya Pak Arfa.
"Dengan cara bermain game Cooking Mama!" Jawabku.
"Terserah."
"Ya udah, inget ya Pak besok harus kosongin jadwal temenin saya wisuda online."
"Ya."
"Saya buatin teh anget sama potong apel ya. Nanti malam saya masakin nasi goreng kesukaan Bapak. Okay? Selamat mencari uang, Bapak."
"Saya capek-capek cari uang, kamu malah habisin uang saya buat cowok lain."
"Pak, meskipun Bapak nomor satu di hati saya, tetapi idola saya punya tempat tersendiri Pak di hati saya."
"Ya udah, asal kamu bahagia, saya ikhlas. Jangan ganggu saya waktu lagi kerja ya. Nanti saya akan mengadakan rapat secara online, kamu jangan ngadi-ngadi."
"Siap, laksanakan Boss!"
"Good girl."
"Oh ya Pak."
"Kenapa lagi El?"
"Semangat kerjanya!" Ucapku sembari membentuk hati dengan kedua tanganku.
Pak Arfa tersenyum kecil mendengar ucapanku, "I love you."
"Apa?"
"Dasar congek."
"Ulangin!"
"Enggak mau."