My Annoying Lecturer

My Annoying Lecturer
Sekelumit Rasa (2)


"Elvia, kamu ngambek?" Tanya Pak Arfa yang malas sekali aku tanggapi.



Iya. Setelah insiden kemarin aku cuman read, paginya Pak Arfa langsung datang.



Pakek bawa sogokan bubur ayam lagi. Kan ga kuat akunya. Makanya aku suruh masuk.



"Menurut bapak aja deh." Jawabku malas seraya menyuap sesendok besar penuh bubur ke dalam mulutku.



Semalam gak sempat makan, terus paginya makan hati. Makanya aku lampiaskan dengan bubur ayam ini. Bodo amat di cap gak elegan.



"Kamu gak cocok ngambek, El."



"Kalau bapak cuman mau menguji emosi saya. Mending bapak pulang deh."



"Ya ampun, manis banget kalau lagi ngambek."



"Saya tahu saya manis, Pak."



Pak Arfa diam sebentar. Sepertinya sedang merangkai kata dalam benak untuk segera diutarakan kepadaku.



"Elvia, saya mau bicara serius sekarang." Nada suara Pak Arfa pun ikut berubah seiring dengan mimik wajahnya yang tadi tampan sekarang pas mukanya serius jadi makin tampan.



Eh, gak boleh lemah Elvia!


Pak Arfa kan jahat kemarin!



"Apa?" Ucapku sambil mengunyah.



"Berhenti dulu makan buburnya, El."



"Iya iya. Apa?"



Aku pun menghentikan aktivitas menyuapkan bubur ke mulutku. Soalnya Pak Arfa lagi mode serius. Dari pada ntar aku diomelin. Hehe.



"Jadi, saya tuh kemarin dari jam 5 udah siap-siap mau jemput kamu. Niat saya mau nembak kamu kayak drama korea gitu." Ucapan Pak Arfa yang ini buat aku berbinar-binar.



Tapi kan gak jadi ya, gagal total! Khayalan adegan di drama korea bareng Pak Arfa gagal. Huhu. Dasar guguk nyebelin!



"Tiba-tiba Delia telepon saya. Katanya dia lagi sakit. Dan emang gak ada siapa-siapa dia yang tinggal di Jakarta."



Alesan doang itu mah.


Emang guguk gak ada temen?



"Saya mana bisa hiraukan cewek cantik yang butuh pertolongan saya, El."



Apa?


Cantik?!


Ini Pak Arfa kayaknya udah bosan hidup.



"Ulangi coba, Pak."



"Cantik?!" Sekarang aku yang menaikan nada suaraku.



"Bercanda Elvia."



"Awalnya saya hanya niat mau cek sebentar saja. Tapi ternyata dia emang beneran sakit. Jam 9 kemarin, saya bawa dia ke rumah sakit. Kayaknya ada masalah dengan pencernaan. Ini aja saya baru pulang dari rumah sakit."



"Oh. Gitu."



"Iya."



"Tapi bapak tahu gak saya itu udah dandan?"



"Bapak tahu gak cewek itu kalau dandan rempong?"



"Bapak tahu gak saya kemarin gak makan malam karena bapak bilang mau ngajak dinner?"



"Bapak tahu gak nunggu lama itu nyebelin?"



"Bapak tahu gak..."



Pak Arfa tanpa mengucapkan sepatah kata langsung memelukku. Begitu erat dan tiba-tiba.



Sehingga membuat otakku lambat mencerna dan aku hanya diam dalam sunyi merasakan kehangatan yang dibagi oleh Pak Arfa lewat sebuah pelukan.



"Iya. Saya tahu. Maaf, Elvia."



"Mau sampe kapan bapak minta maaf terus?" Lirihku.



Pak Arfa diam. Karena mungkin Pak Arfa tahu ini salah dia.



"Lain kali, ajak saya."



"Ajak apa?"




"Gapapa?"



"Gapapa. Dari pada saya berburuk sangka terus. Capek Pak saya ngambek."



"Makasih."



"Gak sama-sama."



"I love you, Elvia. And I really mean it." Ujar Pak Arfa tiba-tiba yang membuat degup jantungku berdetak dua kali lebih cepat dari pada biasanya.



"But i want to kill you." Jawabku sembari menyendokan kembali bubur ayam yang sempat tertunda.



Sebenarnya aku sedang menutupi rasa gugupku. Karena itu pernyataan cinta pertama kali yang keluar dari mulut Pak Arfa.



Dan lagi-lagi gak romantis!



"Do you hate me?"



Pakek nanya lagi Pak. Iya, kadang aku benci banget dengan tingkah Pak Arfa. Tapi rasa benci itu berhasil tertutupi dengan sempurna oleh rasa sayang yang entah sejak kapan singgah.



"Yes. I do."



"But I love you."



"I love me too."



Pak Arfa memegang kedua tanganku dan meletakkan sendok di tangan kananku dengan pelan, "Elvia. Do you love me?"



"Do you even need to ask? Of course. More than what you think." Jawabku.



"Thanks. I love you more."



"Iya. Emang gitu. Bapak emang harus lebih mencintai saya. Karena banyak yang mau sama saya."



"Serah kamu, El." Ucap Pak Arfa sembari mengacak rambutku pelan.



"Pak, saya belum cuci rambut. Belum mandi. Otomatis rambut saya bau, minyakan. Bapak dengan lugunya megang rambut saya."



"Gapapa. Asalkan itu rambut kamu."



"Bodo amat, Pak. Jadi, sogokan bapak kali ini cuma bubur ayam doang?"



"Kamu mau apa?"



"Mau cintanya bapak."



Ambyar dah.


Napa jadi gini sih aku.



"Saya sudah kasih."



"Saya gak mau ngomong doang, butuh bukti."



"Iyain aja."



"Jadi besok hari terakhir bapak ngajar nih?" Tanyaku.



Pak Arfa menganggukan kepalanya, "Iya."



"Nanti kalau saya kangen gimana?"



"Tiup lilin aja. Nanti saya langsung muncul di depan kamu."



"Bapak pikir bapak Gong Yoo?"



"Iya. Sebelas dua belas lah."



"Bapak kok bisa nonton drama goblin?"



"Habis saya penasaran kamu dulu tiap hari ngomongin drama itu terus."



"Seru kan?"



"Biasa aja."



"Bohong banget."



"Cepetan habisin makanannya." Pak Arfa pun segera mengalihkan topik.



💕