My Annoying Lecturer

My Annoying Lecturer
Adu Gombal


Menurut kalian hal yang paling dibenci ketika pagi hari tiba itu apa?


Kalau aku sih, bunyi alarm. Simple banget, karena aku gak suka bangun pagi.


Mataku pun melirik sejenak jam weker yang dari tadi bunyi. 


"Hm, baru jam tujuh kan ya." Gumamku sembari menguap. 


Saat mataku ingin tertutup kembali, kali ini suara nyebelin Bang Kelvin bergema sehingga membuatku mau tak mau terbangun. 


"Dek! Arfa udah di bawah, nungguin lu!" Teriak Bang Kelvin yang membuat kesadaranku tiba-tiba terkumpul karena mendengar satu kata, Arfa. 


"Hah?! Baru jam tujuh, Bang! Temenin Pak Arfa dulu! Aku siap-siap." Teriakku membalas ucapan Bang Kelvin. 


Setelah meregangkan ototku, aku bergegas mengambil handuk lalu menuju kamar mandi. Namun sebelum itu, aku menyempatkan diri untuk memeriksa aplikasi pesan di ponselku. Aku menyunggingkan senyumku ketika melihat beberapa pesan yang masuk. Namun, senyumku segera sirna tatkala melihat pesan dari Pak Arfa yang baru muncul. 


Pak Galak


Gk sah kbnyakan main hp.


Cpt mandi.


Saya mls berduaan sama abang km.


(Read)


Pak Arfa kayaknya emang beneran cenayang deh.


Tak butuh waktu lama, aku pun sudah segera mempercantik diri dalam kurun waktu lima belas menit. Gimana? Waktu yang cukup cepat untuk wanita kan? 


"Dek, lu mandi kagak sih?" 


Aku pun menjelitkan mataku mendengar pertanyaan Bang Kelvin, "Menurut Abang aja lah."


"Kok masih buluk gitu?" 


"Abang masih sayang nyawa kan?"


Bang Kelvin terkekeh, "Ampun Nyai." 


Sebenarnya gak terlalu buruk kok, rambutku ku kuncir satu dengan poni yang kubiarkan terurai, baju oversized, dan celana jeans, serta sneakers berwarna putih.


Gimana? Sungguh feminin kan diriku? 


"Pak, kita mau kemana sih?" 


"Jalan."


Aku menatap Pak Arfa lama, "Sepagi ini?"


"Iya." Jawab Pak Arfa mantap. 


"Jalan kemana sih Pak?" 


"Bandung."


"Bandung? Ngapain? Jauh banget sih, Pak." 


"Ketemu Ayah saya."


Aku membelalakan mataku, "Hah? Gak mau, Pak! Saya gak siap."


"Gak siap apa?" Dari nada suaranya sih, Pak Arfa kayaknya sedang menggoda aku. 


"Nikah kan?" Mulutku yang spontan berulah lagi. 


Bang Kelvin dan Pak Arfa pun tertawa bersama menanggapi reaksiku yang mungkin bagi mereka lucu tapi bagiku sedikit membingungkan, "Apaan sih? Kok ketawa?"


"Bukan buat nikah, El. Saya akan selalu nunggu kamu siap. Lagian saya kan janjinya mau ngelamar kamu setelah lulus." Ucap Pak Arfa dengan nada kalem.


"Jadi?"


"Sepupu saya menikah. Saya gak mungkin kan datang kesana gak bawa gandengan?" 


Aku pun tersipu malu, "Oh, gitu. Kirain Pak." 


"Malu kan lu dek." Ledek Bang Kelvin. 


"Mending Abang berangkat kerja, deh." Usirku.


"Bossnya kan Abang, suka-suka gue dong." Elak Bang Kelvin. 


"Serah deh, Bang. Pantes aja mantan Abang ogah balikan." 


Mendengar kata mantan, raut wajah Bang Kelvin langsung berubah muram, "Gak usah sebut mantan. Gue sensi." 


Pak Arfa yang tahu dengan situasi cinta mengenaskannya Bang Kelvin pun langsung menyudahi pembahasan mantan yang sempat aku singgung, "Siap-siap deh, El. Gak usah bawa banyak barang. Nanti beli aja. Cuman bentar doang kok, abis selesai acara kita balik lagi ke Jakarta."  


Aku pun menganggukan kepalaku, "Siap, Pak Boss!" 


Bang Kelvin pun pamit berangkat kerja, jadilah tinggal Pak Arfa dan aku yang lagi nyiapin beberapa snack. 


Baju mah gampang, snack tetap nomor satu. 


"El, kita gak lagi mau piknik." 


"Gapapa, Pak. Biar kalau Bapak laper, saya siap siaga. Calon istri yang baik kan?" 


"Bukannya kamu yang mudah laper?" 


Aku tersenyum, "Iya." 


"Calon istri yang baik itu masakin calon suami makanan sehat, bukannya kasih calon suami cemilan gak sehat." 


"Gak sehat tapi enak kan, Pak." 


"Iya, karena bertabur micin." 


"Asal senang aja lah, Pak. Kadang kita perlu break the rules." 


Pak Arfa pun mengusap puncak kepalaku, "Bisa aja kamu." 


"Bisa dong, apa sih yang gak bisa buat Pak Arfa." 


"Lulus cepet." 


"Katanya gak suka nepotisme?"


"Loh? Bapak lupa sama ucapan saya tadi?" 


"Break the rules?"


Aku pun menganggukan kepalaku, "Iya."


"Tapi saya masih mau menyiksa kamu sebagai mahasiswi. Gimana ya, saya bimbang mau kamu cepet lulus atau


enggak." 


"Gapapa Pak Bimbang, asal jangan Bambang." Ucapku ngelantur. 


Pak Arfa tertawa pelan mendengar lelucon recehku, "Gak usah bawa cemilan banyak-banyak. Secukupnya aja, kalau kurang nanti beli. Saya tunggu di mobil."


💥💥💥


"Pak..." 


Pak Arfa melirikku sekilas, "Kenapa?"


"Main yuk."


"Saya lagi nyetir, El." 


"Gamesnya gampang kok." 


"Apa?" 


"Gak jadi deh, Pak." 


"Kenapa?"


"Saya mau streaming EXO aja." 


"Kamu lebih pilih acuhin saya?" 


Aku pun menghela napas, "Pak, EXO tuh udah idola saya. Kalau Bapak itu masa depan saya. Nah, waktu saya lagi fangirlingan, Bapak tolong jangan cemburu." 


"Siapa yang cemburu?" 


"Bapak."


"Bisa gak El gak usah manggil bapak? Saya kelihatan tua banget."


"Jadi, mau apa? Om? Abang?" 


"Sayang." 


Aku sedikit tersentak mendengar penuturan Pak Arfa, memikirkan betapa anehnya mulutku melontarkan kata sayang saja aku tidak sanggup.


"Pak, tolong deh." 


"Panggil saya Yobo aja." 


"Chagi aja deh, Pak."


"Tuh! Panggil Pak lagi!" 


"Soalnya kata Bapak itu udah melekat banget, Pak."


"Saya gak setuju tapi." 


"Bapak tuh ada kepanjangannya sebenarnya, Pak. Cuman saya singkat aja."


"Apa?" 


"Bapak dari anak-anak saya." 


"Kamu gombal?" 


"Iya." 


"Segitiga itu punya tiga titik, dan segi empat punya empat titik ujung." 


Aku berpikir sejenak, "Terus?" 


"Tapi saya gak suka segitiga sama segi empat." 


"Jadi, bapak sukanya apa?" 


"Lingkaran."


"Kenapa?"


"Karena lingkaran tidak mempunyai titik akhir dan tidak punya ujung, seperti rasa sayang saya ke kamu yang gak


akan pernah habis.”


"Bisa aja, Hamish." 


"Kok Hamish?"


"Hamishyou, Pak." 


"Gak mempan."


"Tapi kok muka Bapak merah?" 


"Gak, muka kamu yang merah kayak tomat."


"Ngaku aja deh, Pak." 


"Terserah. Kalau ngantuk, kamu tidur aja." 


"Gak deh, saya rela ngantuk daripada biarin Bapak nyetir sendirian."


"Cukup, Elvia. Jangan ngegombal lagi." 


"Gombalan saya bikin ketagihan loh, Pak." 


Pak Arfa pun hanya bisa menghela napasnya, sepertinya mencoba memperbaiki detak jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat. Sementara aku hanya tertawa melihat wajah Pak Arfa yang memerah.