My Annoying Lecturer

My Annoying Lecturer
Truth (1)


Biarlah waktu yang menjaga hatiku.


Ketika hati ini sudah lelah, maka aku dengan sendirinya akan berhenti untuk mencintai kamu. Namun, bila hati ini masih tetap memilih untuk bertahan,


maka tolong perlakukan hati ini dengan baik.


- Elvia Avaretta



💞💞💞



"Elvia, kamu ada dress di rumah?" Tanya Pak Arfa seraya kedua tangannya memegang stir mobil.



"Ngapain?"



Pak Arfa menolehkan kepalanya ke arahku, "Kamu lupa?"



Iya. Salah satu kelemahanku itu aku sangat pelupa. Aku berusaha membedah ingatanku perihal hari ini.



"Ingat?" Tanya Pak Arfa saat melihat reaksiku.



"Oh, emang harus dress Pak?" Aku baru ingat tentang acara pertunangan kami malam ini.



Menyebut kata kami diantara aku dan Pak Arfa saja sudah berhasil membuat bulu kudukku berdiri, apalagi menyandingkan kata kami dan tunangan.



Blush



Alhasil pipiku pun merona karena memikirkan dua kata itu. Kami dan Tunangan.



"Pipi kamu kenapa merah lagi?"



Lantas aku langsung menangkup kedua pipiku menggunakan telapak tanganku.



"Gak merah,"



Kebetulan sekarang sedang lampu merah, entah ada angin apa sepertinya Pak Arfa akan memanfaatkan peluang lampu merah itu untuk menggodaku.



Pak Arfa dengan mudahnya mendekatkan wajahnya ke wajahku. Ia memandang lekat wajahku dengan tatapan tajamnya. Tidak lama, hanya beberapa detik. Namun berhasil membuat degup jantungku berdetak tidak karuan.



Alamak..


Cecan belum siap, Pak.


Mana manik mata Pak Arfa itu sungguh menggoda iman.



"Merah tuh." Ujar Pak Arfa dengan enteng lalu kembali ke posisi semulanya.



"Panas." Jawabku asal.



"Apanya?"



"Ya panas, makanya pipi merah."



"Serah kamu, Elvia."



Aku pun memutuskan untuk mengecek beberapa akun sosial media yang sempat aku terlantarkan beberapa hari.



"Bapak follow saya?" Ujarku sedikit terkejut melihat nama akun Instagram Pak Arfa meminta untuk mengikutiku.



"Iya. Memang saya gak boleh follow tunangan saya?"



Aneh aja sih. IG-nya Pak Arfa tuh udah ada centangnya. Kabar buruknya adalah Pak Arfa selama ini following-nya 0. Jadi kalau aku accept, otomatis aku bakal masuk berita selama satu minggu.



Eh, bentar.


Tadi Pak Arfa ngomong apa?


Tunangan?



Astaga, pipi ini pasti memerah lagi.



"Pak, udah. Jangan gombal."



"Loh? Kenyataan kan?"



Serah deh, Pak.



"Elvia.."



Aku mengalihkan fokusku yang awalnya dari layar handphone ke wajah Pak Arfa.



"Kenapa, Pak?"



"Saya mau cerita. Kamu cukup dengerin aja."



"Kamu ingat dulu kamu panggil saya apa?"



Aku berusaha menutup wajahku. Malu sekali. Kenapa dulu aku panggil dosen menyebalkan ini dengan sebutan kakak malaikat?!



"Saat itu, saya pindah ke Australia. Saya lulus dengan cepat. Alhasil, di umur yang sekarang saya sudah mendapat gelar S3."



Apaan nih Pak Arfa mau menyombongkan diri?


Iya sih, Pak Arfa itu emang keterlaluan pintarnya. Di umur dia yang sudah menginjak angka 26, dia sudah menamatkan studinya hingga S3.


Sungguh luar biasa, emejing.



"Saya bertemu Delia di Australia."



Pak Arfa nampak menghentikan ucapannya sebentar, sepertinya memeriksa reaksiku.



"Lanjut, Pak. Jangan setengah-setengah." Balasku memberi izin.




"Saat itu, karena dalam keadaan mengantuk. Mobil yang saya kendarai mengalami kecelakaan yang cukup parah."



"Saya harus melakukan perawatan di rumah sakit selama kurang lebih enam bulan."



"Wanita yang menolong saya saat kecelakaan adalah Delia. Dia juga yang membantu merawat saya, saat orangtua saya begitu sibuk dengan bisnis mereka. Maka dari itu, Mama bersikap sangat baik pada Delia."



"Saya bukannya tidak bisa move on dari perasaan saya ke Delia, hanya saja saya tidak bisa meninggalkan rasa hutang budi yang begitu besar. Maaf, selama ini saya membuat kamu salah paham."



"Tepatnya setelah pertemuan kemarin, Delia kembali mendekati saya. Intinya dia sedang membutuhkan saya. Saya belum bisa cerita apa dan kenapa. Tapi, saya harap kamu bakal tetap jaga hati kamu."



"Pak.." Ujarku yang entah mau membalas dengan perkataan apa.



"Maafkan saya. Saya memang terlalu egois untuk meminta kamu menjaga hati kamu untuk saya." Pak Arfa berbicara sembari menatap jalanan yang cukup padat.



"Pak, saya akan berusaha untuk menjaga hati saya untuk bapak. Asalkan bapak gak jahil dengan saya."



Pak Arfa menepuk pelan puncak rambutku.



"Tapi saya suka jahilin kamu."



"Serah bapak deh."



Pak Arfa tertawa pelan, "Kamu gak mau saya jahilin?"



"Gak mau. Bapak nyebelin sih."



"Nyebelin tapi ngangenin kan."



"Gak ada, mana ada gitu. Nyebelin ya nyebelin, Pak."



"Manggil Mas dong."



"Gak mau. Bapak gak cocok dipanggil Mas."



"Jadi? Cocoknya dipanggil apa?"



"Abang." Jawabku sembari menahan senyum mengingat pertemuan pertama kami sebagai mahasiswi-dosen yang cukup tidak wajar.



"Oh, jadi sekarang kamu sudah mulai berani?"



"Iyalah, Pak."



Mobil Pak Arfa pun sudah terparkir di sebuah rumah yang entah rumah siapa. Soalnya gede banget. Halamannya aja luas banget.



Pak Arfa mendekatkan tubuhnya ke wajahku lalu mencubit hidungku dengan pelan.



"Kamu gemesin sih."



Aduh, sabar aja aku mah.


Ini dicubit aja nih? Gak mau peluk atau yang lebih gitu? Hehe. Maksudnya digandeng gitu loh. Jangan mikir yang aneh-aneh ya.



"Saya tahu saya lucu."



"Kamu dengan kata lucu itu gak cocok sama sekali."



"Bapak kok nyebelin?!"



"Karena saya nyebelin kan makanya kamu kepikiran saya terus."



Aku pun memutar bola mataku dengan jengah.



Iya sih. Pak Arfa itu cukup unik. Dia memang seperti dosen pada umumnya. Galak, kejam, pelit nilai. Tapi yang membedakan Pak Arfa dengan dosen-dosen yang lainnya itu, selain galak, Pak Arfa juga nyebelin parah.



Buktinya kalau ketemu sama aku, pasti gak ada satu hari pun kami gak ribut mulut. Tapi, kadang yang buat kangen tuh itu.



Mulut Pak Arfa juga kadang lebih pedes dari samyang. Tapi, entah gimana itu mampu buat aku termotivasi. Jadi kadang omelan Pak Arfa itu ngangenin.



Pak Arfa itu juga kadang tipe cowok yang hobi ngelawak. Walaupun lawakan dia garing banget.



Pernah ya, Pak Arfa malem-malem ngechat cuman ngomong gini,



Pak Galak


Elvia


Kenapa kentut busuk?



Elvia Avaretta


Kenapa ya Pak?



Pak Galak


Krna km yg kentut


Hahaha.


Aduh ngakak banget saya.



Ini yakin yang sedang chat dengan saya itu Pak Arfa? Pewaris Davies Group? Dosen muda yang udah lulus S3?



Emang lawakan Pak Arfa itu receh banget.



Gimana? Annoying banget kan Pak Arfa?



Annoying tapi ngangenin sih. Hehe.