Legenda Long Chu

Legenda Long Chu
Beristirahat dihutan gelap


Di bawah terik matahari yang melabuhkan panas menyengat ke bumi. Dua orang terus memacu kuda dengan cepat. Mengambil jalan pintas namun sedikit terjal. Tapi cukup cepat karena bisa memangkas perjalan yang seharusnya tiga hari akan menjadi satu hari saja. Namun ada halangan yang akan dilewati dan itu tidak mudah. Sebuah hutan yang cukup angker bagi semua orang. Hutan yang jarang disusupi oleh matahari dan selalu dalam keadaan gelap. Tidak ada yang bisa memecah misteri yang terkandung didalamnya. Akan tetapi ada sebagian orang yang berani menyusurinya. Itupun hanya melewati pinggiran dari hutan itu saja.


Sejak terjadinya pembentukan dunia. Hutan itu tidak pernah terjamah dan tidak ada yang berani lagi untuk menjelajahinya. Jika ada yang berani maka orang itu tidak akan kembali.


Ada misteri yang tersembunyi disana dan dua kerajaan yang berdekatan tidak berani mengklaim wilayah itu. Jadi itu adalah wilayah bebas..


"Kita harus turun dari kuda dan berjalan kaki saja. Sebab hutan yang akan kita lewati ini tidak menginginkan suara berisik dan kita harus menghindari hal yang tidak diinginkan terjadi!" Tetua Wang memperingati.


Long Chu tidak membantah apa yang dikatakan oleh tetua Wang. Meski dia tidak pernah mendengar tentang hutan itu sebelumnya. Tapi dia menurut saja.


"Sebenarnya hutan apa ini? Sama seperti hutan biasa saja!" Tidak ada yang istimewa ataupun angker menurut Long Chu. Bahkan hutan siluman lebih terasa kental. Dia mencoba untuk merasakan aura siluman. Tapi tidak ada merasakan satupun siluman.


Kemampuan ini dia dapatkan ketika sudah bersetubuh dengan ratu Bai Lin. Dia dapat merasakan aura siluman bila dekat dengannya.


"Karena kita sudah mendekati malam, jadi tidak ada bedanya hutan ini dengan hutan biasa. Terlihat tetap sama, gelap dan sunyi. Tapi kalau siang itu perbedaannya sangat jelas. Tidak ada matahari yang menembus rimbunnya hutan ini. Jadi jika kau berada didalamnya. Kau tidak akan pernah mengetahui bahwa itu siang atau malam. Bahkan tentang waktu, kau tidak akan bisa menentukan" tetua Wang menerangkan.


"Emm. Kalau kita tetap berada pada pinggiran hutan ini. Tidak ada bahaya yang mengancam bukan?" Long Chu kembali bertanya.


"Dikatakan begitu bisa juga! Tapi di dunia kependekaran sebenarnya tidak ada tempat aman, selain kita menciptakan keamanan itu sendiri. Sebab akan selalu ada saja hambatan maupun ancaman yang datang kepada seorang pendekar" tetua Wang menghela nafas perlahan. "Sebaiknya kita mencari tempat untuk istirahat. Karena ketika matahari bersinar terang besok, kita harus sudah bisa melewati hutan ini" katanya lagi.


Long Chu menyapukan pandangannya ke sekeliling dan melihat ada ceruk kecil yang cukup untuk berteduh dikala hujan tiba-tiba turun. "Disana saja tetua Wang aku rasa akan aman!" Long Chu menunjuk ceruk itu.


"Sudah diputuskan, ayo kita mendekatinya!"


Keduanya berjalan santai sambil menarik kuda, dengan perlahan mereka sampai menuju tujuan yang diinginkan.


Ceruk itu tidak dangkal juga tidak terlalu dalam tetapi cukup untuk beristirahat disana.


"Tetua Wang! Sudah berapa kali tetua pernah melewati jalan ini?" Tanya Long Chu.


Tetua Wang menatap kearah Long Chu sambil tangannya menyusun kayu untuk dibakar dan dijadikan api unggun. "Kurang lebih lima kali. Tapi itu selalu ku lakukan setiap waktu yang seperti ini. Beristirahat tidak jauh dari sini dan keesokan paginya ketika matahari terbit akan langsung bergerak, tapi baru kali ini membawa kuda. Semoga saja tidak menjadi suatu masalah!"


"Semoga saja tetua!" Long Chu duduk bersila dan memasuki cincin dunia menggunakan jiwanya saja dan bertemu dengan naga merah yang sudah lebih dulu masuk ke dalam cincin itu.


"Long!" Meskipun antara naga merah dan juga Long Chu terikat kontrak darah, tapi naga merah tidak pernah memanggil tuan.


Long Chu segera mengambil kertas dan memberikannya.


"Lempar" ucap Naga merah.


Setelah Long Chu melempar kertas itu, naga merah melakukan aksinya. Sebuah tulisan yang melayang di udara sebelumnya menempel di kertas "jika sudah terjadi kegaduhan itu. Kau lemparkan kertas ini ke udara. Maka akan muncul sebuah formasi yang bisa menjaga kalian " selesai berkata, Naga merah langsung sirna tanpa dapat dicegah kepergiannya. Bahkan Long Chu tidak sempat untuk menjawab.


Long Chu keluar dari cincin dunia dengan memegang kertas itu di tangannya. Sebelum diketahui oleh tetua Wang, dia menyelipkan kertas atau jimat pertahanan di antara kakinya.


Long Chu membuka matanya dan mendapati tetua Wang juga sedang bermeditasi. Tak ingin mengganggu, Long Chu mengeluarkan daging siluman ular yang pernah disimpannya. Dengan satu tusukan kayu kecil yang dipatahkan. Long Chu memberikan bumbu sebagai penyedap rasa. 


Dia tidak lagi mempunyai kekhawatiran ketika Naga merah sudah mengatakan aman untuk dirinya dan tetua Wang. Setidaknya dia paham bahwa tidak harus pergi atau keluar dari formasi jika ada kegaduhan yang terjadi.


Tetua Wang yang mencium bau daging terbakar yang menggelitik hidung segera membuka mata. Dan terbelalak menyaksikan pemuda itu tengah membakar daging. "Hey apa yang kau lakukan?"


"Membakar daging tetua. Ini adalah daging siluman. Bisa menambah lingkaran tenaga dalam!" Ucap Long Chu.


"Maksudku mengapa kau membakar daging di hutan ini. Gawat ini sangat gawat!" Wajah tetua Wang sangat panik.


"Mengapa kau terlihat begitu panik tetua, apakah salah?" Long Chu bertanya dengan santai. Dia mengerti tentang kepanikan itu namun berpura-pura tidak paham.


"Kau, dasar anak kecil! Di Hutan ini ada pantangannya. Tidak ada yang boleh membakar makanan. Jika ada maka akan terjadi kegaduhan dan kematian, mengapa kau menyeretku dalam keadaan seperti ini?" Tetua Wang marah. Namun dia meredamnya. Karena untuk apa juga dia meluapkan jika memang kematian akan segera menjemput keduanya.


Long Chu hanya tersenyum menanggapi tetua Wang. "Maafkan aku tetua! Daripada mengeluh lebih baik kita nikmati daging bakar ini"


Dengan berat hati dan rasa tidak berdaya tetua Wang menyambut dan mengunyah daging itu. Dengan sekali gigitan. Dia dapat merasakan adanya energi yang masuk, meski kecil.


Dia menambah lagi gigitannya hingga tanpa sadar menghabiskan daging yang ada di tangannya lalu minta lagi. "Masakanmu sangat nikmat, sebagai hari kematian. Maka tidak masalah untuk makan banyak!"


"Tidak ada yang akan mati dari kita berdua. Mengapa kau begitu ingin mati?" Tanya Long Chu.


"Hais! Dulunya ada pendekar yang tidak tau sama seperti dirimu ini. Dia membakar makanan karena lapar dan berakhir menghilang dari sini. Setelah ada yang lewat dan mengetahui bahwa hanya ada sisa makanan daging bakar. Maka sejak itu dinyatakan ada larangan membakar daging di hutan ini. Meskipun kita hanya berada di pinggirannya saja. Tapi aku juga takut mati. Sebelum misiku tuntas"