
Wush! Wush! Beberapa pisau kecil meluncur dan menancap di bekas pijakan ketua Bandit. Untungnya ketua Bandit itu cukup sigap dan cepat bergerak. Jika tidak! Entah apa yang akan terjadi?
'Sial, rupanya dia memang ahli yang berada jauh di atasku, ini tidak seperti bocah yang bisa menyembunyikan tingkat ranahnya itu. Namun memang asli karna aku tak bisa melihat sebab berada di bawah tingkatannya' seraya menghindari pisau energi yang terus menyerangnya ketua Bandit itu membatin.
Dia melompat menjauh. Tak mungkin dia berani menyerang lawan yang lebih kuat darinya. Dirinya menjadi bandit karena ingin mencari uang. Jika tak bisa mendapatkan uang, setidaknya menyelamatkan nyawa adalah hal utama.
Namu ada sebuah senyum yang tersirat dalam langkahnya. Dia sudah melihat ada salah satu dari anak buahnya yang berada di tingkat raja akan menculik bocah ajaib itu.
Swing! Tuk tuk tuk!
Tiga pisau energi tertancap di pohon sehingga menimbulkan ledakan yang menghamburkan pohon itu. Efeknya mengenai ketua Bandit yang hendak melompat kesana. Membuatnya berhenti dari lompatan sebab termundur dua langkah dan terpaksa harus menghadapi lawan secara langsung. Karena kini Wen Hao berada di depannya dengan sebuah senyuman mengembang dibalik kumis yang menutupi mulutnya.
"Seekor tikus pun akan menggigit jika terjepit" ucap ketua Bandit hutan belantara yang tak bisa lari lagi. "Aku yakin tenaga dalam sudah berkurang banyak, jadi jangan Sok hebat lagi!" Kata ketua Bandit itu dia menyerang Wen Hao dengan jarak dekat. Satu yang dia tahu. Kebiasaan orang yang sering menggunakan serangan jarak jauh adalah tidak terlalu ahli dalam serangan jarak dekat dan dia yakin akan hal itu, bahwa lawan kali ini juga seperti itu
Dengan sebilah pedang yang tiba-tiba muncul ketika dia melambaikan tangannya ke bawah. Ketua Bandit menyerang Wen Hao. Dia menyabetkan pedangnya dengan aliran tenaga dalam yang terasa cukup kuat. Wen Hao menunduk dari pedang yang mengarah langsung ke lehernya. Sebatang pohon besar langsung terpotong dan roboh dari belakangnya ketika dia melepaskan serangan itu.
"Berbahaya sekali" ucapnya. Namun dia masih tersenyum.
Pedang kembali mengarah kepadanya dari atas menyamping ke sisi kiri mencoba untuk merobek bahu Wen Hao. Namun kali ini. Wen Hao tak diam lagi. Dia merentangkan pedangnya yang muncul di tangan kiri untuk menghadang pedang yang turun dengan cepat menuju bahunya. Lalu tangan kanannya dia kepal, kemudian dia mengirim tinjunya menuju perut ketua bandit itu.
Dentang! Bugh. Keduanya terjadi secara bersamaan setelah pedang beradu. Ketua bandit termundur akibat pukulan yang mengenai perutnya.
Ugh! Lenguhan keluar dari mulutnya dengan batuk yang mengiringi namun detik selanjutnya. Lehernya terasa dingin dan dia melihat bumi yang berputar dan tubuhnya duduk dengan sebelah kaki setengah berlutut. "Apa yang terjadi dengan tubuhku?" Ucap kepala yang terpisah itu sebelum disambut oleh Wen Hao dengan mata yang masih terbuka. Kemudian dia mengeluarkan kain untuk membungkus kepala itu lalu menyimpannya pada kantong penyimpanan miliknya.
Teringat akan nasib muridnya yang pingsan. Wen Hao segera bergerak kembali ke tempat semula. Dia mendapati beberapa orang yang sedang mengelilingi Long Chu yang masih telungkup tak bergerak. Entah sengaja atau tidak? Wen Hao tetap mengkhawatirkan.
Dia pun membuat lonjakan pada tubuhnya dengan kedua kaki yang dijajakan ke tanah. Tubuhnya melenting cukup tinggi. Pedang dimunculkannya kembali dan langsung bergumam
"Gerakan pertama, seni pedang pembunuh!"
Wush! Beberapa orang yang tertawa itu tidak menyadari bahwa dewa kematian telah datang menghunuskan pedangnya.
Set set sat! Tiga tebasan beruntun langsung dilepaskan oleh Wen Hao. Meskipun tubuhnya renta namun kekuatan pendekar raja bintang lima memang bukan hal yang bisa disandang oleh pendekar raja bintang satu.
Tiga teriakan langsung mengakhiri nafas. Dua sisanya mundur dengan kejutan di wajah mereka.
"Ampun tuan! Ampuni kami. Kami hanya mencari nafkah untuk makan!" Satu orang segera berlutut untuk keselamatan hidupnya.
Argh!! Pedang tepat menusuk punggung yang menembus jantung. Orang itu roboh dan mati.
Tinggal satu orang yang berwajah pucat.
"Dimana markas kalian?" Long Chu bertanya.
Wen Hao menatap curiga kepada Long Chu, "pasti bocah ini tadi hanya pura-pura pingsan, tak mungkin dia langsung sigap mengambil pedang jika tidak begitu' kata Wen Hao dalam hatinya.
"Tunjukan padaku, jika tidak! Kau akan menerima pukulan dewa ini!" Ucap Long Chu berlagak mendominasi.
"Ampun, asalkan kau berjanji membiarkan aku hidup. Aku akan mengatakannya!" Ucap orang itu.
Wen Hao tertawa melihat tingkah bocah itu. 'Bisa-bisanya dia menggertak pendekar raja, ckckck' seraya menggelengkan kepala.
"Aku berjanji tidak akan membunuhmu!" Kata Long Chu seraya menggunakan jempolnya untuk mencolek hidungnya sendiri
Orang itu langsung berdiri dan berkata "ikuti aku!" Ucapnya.
"Jika ketahuan berbohong, kau akan langsung ku sikat!!" Long Chu berkata cukup nyaring. Hampir saja Wen Hao tak kuasa menahan tawanya. Jika dia tidak sempat membekap mulutnya. Mungkin saja dia akan tertawa sangat lantang.
Tidak jauh dari tempat pertarungan sebelumnya. Wen Hao beserta Long Chu mengikuti pendekar itu masuk ke dalam sebuah goa. Goa itu cukup besar dan tersembunyi karena tertutupi tumbuhan merambat yang menghalangi pintu masuk. Jika tidak diperhatikan dengan seksama maka orang hanya akan menganggap tidak ada apapun yang tersimpan di baliknya.
Wen Hao saling memandang dengan Long Chu. Mungkin pemikiran mereka sama ketika melihat tumpukan harta.
Segera keduanya membuka kantong penyimpanan mereka masing-masing dan memasukan tumpukan koin yang ada. Bukan hanya koin. Tapi juga beberapa senjata serta sumberdaya yang belum terpakai.
Mantan bandit hutan belantara itu ingin menangis dan menjerit melihat jerih payah selama ini habis dikuras dan tak meninggalkan apapun untuknya. Namun dia tidak berani. Sungguh tidak! Jika berani mengapa harus bertahan dan tak lari.
Setelah semua dikuras mereka tertawa bersama dan berpaling menatap mantan bandit. Disebut mantan karna hanya dia yang tersisa dan tak mungkin melanjutkannya lagi.
"Sebaiknya paman menjadi orang baik! Aku tidak akan memberitahu identitas paman kepada dunia. Agar paman bisa berjalan dengan damai. Namun bila kedapatan paman melakukan hal yang kurang lebih sama seperti ini. Aku sendiri yang akan menyikat paman!" Ucap Long Chu sedikit arogan.
'Pandai sekali dia bersikap seperti itu. Dasar bocah gemblung. Mentang-mentang ada bekingan sikap sombongnya pun keluar!' Tak habis pikir Wen Hao mengenai muridnya itu. Kadang baik kadang tidak, bersikap semaunya saja..