
Sore hari yang masih cerah. Seorang lelaki tua berkutat dengan buku catatan yang ada di hadapannya. Banyak tumpukan buku yang harus diperiksanya dan ditandatanganinya. Setiap hari hanya itu yang dilakukannya selama beberapa tahun semenjak kematian orang terkasihnya. Putrinya dan juga istrinya. Dia sudah cukup tua. Bahkan wajahnya lebih tua dari umur seharusnya.
Jika dia tidak mengerjakan hal itu. Maka pikirannya akan kacau, hatinya akan sedih dan sering dia menangis seorang diri.
Ketika hati mengenang cinta. Dan hanya ada cinta yang tertinggal bersama kenangan. Itu pasti akan menyebabkan sedih yang dalam. Bagi siapapun itu. Bila hati terpaut rindu. Akan ada air mata yang menggenang di pelupuk matamu..
Seorang penjaga berlari dengan cepat menuju kediaman Patriark Ling Suan. Sampai di pintu dengan cepat, segera dia mengayunkan tangannya memberi ketukan dua kali pada pintu itu dan berkata "Patriark! Ada orang yang mencarimu" kata penjaga gerbang itu.
Mata yang sembab melirik ke pintu. Ling Suan menaruh pena dan merapikan buku-buka miliknya lalu berjalan ke depan. Menarik pintu dan melihat penjaga yang membungkuk.
"Apa kau tau siapa?" Tanya Ling Suan.
"Tidak tahu patriark, tapi dia memakai kuda yang mewah. Kemungkinan orang besar yang berkunjung!" Sahut penjaga apa adanya.
"Sudah lama aku tidak mendapatkan tamu, aku akan menemuinya di aula. Katakan padanya untuk masuk dan antarkan ke aula!" Perintah Ling Suan.
Penjaga itu kembali berlari ke depan gerbang.
Ling Suan kembali kedalam dan membersihkan dirinya kemudian berganti pakaian dengan cepat.
Setelah itu, Ling Suan berjalan menuju Aula pertemuan. Matanya melihat ada empat wanita dengan memakai cadar, satu orang duduk dan tiga lagi berdiri disamping sedang menunggu dirinya.
"Salam patriark Ling!" tiga orang menyapa dan hanya satu orang yang menatap Ling Suan tanpa bersuara. Ada tatapan rindu dimatanya. Ling Suan sendiri dapat merasakan hal itu dan mengenali mata yang dia rindukan selama belasan tahun.
Tapi tak mungkin dia mengira bahwa itu adalah anaknya. Meskipun kebenarannya memang Putri Hua adalah Ling Hua.
"Salam" Ling Suan membalas salam mereka dan berjalan ke tempat duduk miliknya.
Selepas patriark Ling duduk. Putri Hua melambaikan tangannya meminta rekannya keluar dari ruangan itu dan berjaga di pintu.
"Ada keperluan apa yang bisa kubantu?" Tanya Ling Suan seraya tersenyum melihat wanita bercadar itu.
Ling Hua segera melepaskan tali cadar yang terikat di belakang kepalanya dan menurunkannya perlahan. Ada sebuah senyuman yang terbingkai disana dengan indah.
Mata Ling Suan melotot dan hampir keluar dari tempatnya. Tidak akan pernah dia menduga ada yang begitu mirip dengan wajah anaknya. Bahkan dia hampir melompat dan memeluk. Jika bukan karena sadar bahwa anaknya sudah tiada belasan tahun silam.
"Aku dikenal dengan nama dewi obat! Namaku putri Hua, adapun kedatanganku kesini ingin membicarakan bisnis denganmu tentang bahan obat. Sebab semua orang tahu bagaimana reputasi dari Klan Ling dikota Xiao ini yang begitu ahli dalam ramuan dan obat-obatan" kata Putri Hua.
"Mengapa engkau terdiam Patriak?" Tanya Putri Hua
"Ah.. aku teringat sesuatu" Ling Suan menyeka bulir air matanya yang hendak menetes. "Wajahmu begitu mirip dengan anakku yang sudah tiada dan itu menimbulkan kerinduan yang dalam dihatiku. Maaf tidak seharusnya aku begini" ucap Ling Suan
"Apakah aku begitu mirip dengan putrimu atau aku memang putrimu?" Kalimat pertanyaan itu lagi-lagi membuat Ling Suan terpaku.
Ling Hua langsung menghamburkan tubuhnya memeluk ayahnya yang terdiam. Dia sudah menahan perasaan itu dengan berpura-pura menjadi orang lain. Meskipun kerinduannya sudah tak terbendung lagi.
"Kau benar anakku?" Tanya Ling Suan dengan ketidakpercayaan.
"Mm, benar ayah! Aku Ling Hua, Putrimu!"
"Oh anakku! Aku sangat merindukanmu" tertepis sudah keraguan kesedihan pada awalnya ketika melihat wajah mirip anaknya. Tergantikan dengan kebahagiaan. "Kemana saja kau selama ini, sudah belasan tahun berlalu kau baru kembali. Sampai-samapai ibumu→" Ling Suan tidak sampai hati mengatakan bahwa kematian istrinya sebab memikirkan berkepanjangan tentang anak semata wayangnya.
"Maafkan aku ayah! Kala itu aku terjatuh dari jurang ke jurang ketika dalam pengejaran dan harus menderita patah tulang pada bagian belakang karna terhantam pohon!" Matanya terlihat berapi-api ketika mengingat kejadian itu. "Maaf jika karna aku ibu meninggal, ayah! Bukan maksudku tidak ingin datang. Tapi saat itu aku benar-benar tidak bisa" mereka berdua bicara sambil terisak.
"Biarkanlah yang sudah berlalu. Ceritakan sebenarnya, siapa yang mengejarmu sehingga terjatuh ke jurang dan siapa yang menyelamatkanmu" pinta Ling Suan.
"Berawal dari kabar tentangmu ayah! Ling Sun datang kepadaku mengatakan bahwa kamu sakit dan segera ingin bertemu denganku. Aku yang panik langsung berangkat tanpa persiapan yang matang. Bahkan aku tidak menyampaikan tentang kabar ayah kepada suamiku, raja Chu Yuan. Karna dia sedang menemani permaisuri yang akan melahirkan. Meskipun aku juga akan melahirkan waktu itu. Aku tetap memaksa untuk pulang dengan dikawal hanya beberapa orang dalam satu kereta.
Melewati hutan larangan. Kereta kami disergap oleh beberapa orang. Dan rupanya hal itu sudah direncanakan seseorang yang bekerjasama dengan Ling Sun penghianat itu.
Kami melawan sebisa mungkin. Namun kami kalah jumlah yang mengakibatkan semua pengawalku tewas ditempat. Aku yang saat itu sedang mengandung dan akan melahirkan harus lari sebelum mereka menyadari kepergianku.
Hingga aku menemukan sebuah ceruk yang cukup dalam. Aku pun memasukinya dan melahirkan disana yang dimana anak itu ku beri Nama Long Chu.
Setelah itu aku menyembunyikannya dan harus lari kembali meskipun tubuhku sangat sakit sehabis melahirkan. Namun demi menjauhkan mereka dari bayiku. Aku terpaksa melakukannya. Hingga di ujung jurang kematian aku terkepung dan harus terjun ke jurang. Agar tubuhku tidak di apakan oleh mereka. Dalang semua ini adalah Chu Lei. Ayah!"
"Bangsat Chu Lei itu. Rupanya ini kelakuannya, pantas dia juga menekan penjualan ramuan dan obat-obatan milik Klan Ling yang harus membuatku memutar otak dan terpaksa menjual ke kerajaan Lei. Meskipun secara diam-diam" Ling Sun menghentakan tangannya ke meja. Meja itu langsung hancur. Dia sangat marah dengan hal itu "Apakah mungkin cucuku selamat? Seperti dirimu yang bisa kembali ke pelukan ayah!?" Ucap Ling Suan sedikit tidak yakin.
"Dia selamat ayah! Ada orang baik yang menyelamatkannya dan menjadikannya cucu sekaligus murid hingga sekarang dia tumbuh besar" kata Ling Hua bersemangat menceritakan kisah heroik anaknya.
"Apa kau yakin dia anakmu?" Ling Suan masin sedikit ragu.
"Sangat yakin ayah. Dia memakai kalung giok berwarna biru yang telah turun temurun diwariskan untuk generasi selanjutnya. Dan aku melihatnya dengan jelas itu melekat di lehernya. Bahkan namapun sama. Tapi aku belum mengatakan kepadanya. Bahwa aku adalah ibunya" terang Ling Hua