
"Ibu….!" Teriakan yang menyayat hati.
Semua orang dapat merasakan lirihan kesedihan yang terdengar ketika meneriakan nama ibu. Dan semua orang berdiri ketika cadar dari Ling Hua terlepas. Mereka sudah lama tidak melihat wajah itu. Wajah yang bersahaja dan selalu tersenyum serta menyapa ketika berjumpa..
Tidak mungkin ada yang lupa, sebab semua masyarakat tahu bagaimana sikap dan sifat yang dimiliki oleh wanita itu.
"Selir Ling masih hidup!" Seru salah satu dari barisan penonton, membangunkan kesadaran semua orang dari lamunan masa lalu.
Segera semua suara bercampur aduk tidak lagi jelas terdengar.
Chu Lei menatap dengan mata lebar, dia tidak menyadari bahwa yang bertarung dengannya adalah Selir Ling Hua yang terjatuh ke jurang "Bagaimana mungkin kau masih hidup?" Chu Lei menunjuk Ling Hua.
"Ibu apa kau baik-baik saja?" Long Chu bertanya sambil memeluk Ling Hua, beruntung dia sempat menyambut, lalu menjatuhkan tubuhnya agar sang ibu tidak terlalu terhempas.
Puah! Ling Hua menyemburkan darah dari mulutnya. "Ibu baik-baik saja nak! Tenanglah!" Ling Hua mengusap kepala Long Chu lalu perlahan duduk. "Apa kau terkejut Lei? Dewa masih mengizinkan aku hidup untuk mengungkap kebusukan mu. Kau yang mencelakaiku dan membuatku jatuh dari jurang setelah melahirkan putraku ini, kau juga yang membunuh suamiku raja Yuan dan membuat skema bahwa dia mati depresi" Ling Hua terus bicara walau darah tak kunjung berhenti mengalir. "Dengarlah wahai rakyat kerajaan Chu, Chu Lei bersama dengan ratu Bai An telah merencanakan ini, dan ketahuilah kenyataan bahwa Chu Yang bukan anak raja Chu Yuan. Tapi anaknya Chu Lei"
Geram! Tentu rakyat yang tersisa disana geram mendengarnya.
"Raja sialan!"
Umpatan demi umpatan terdengar dan semua orang mengumpat Chu Lei dengan umpatan yang buruk.
"Ayo gulingkan dia, lengserkan raja yang kejam!"
"Patriark Tang, bantu aku! Aku akan memberikanmu jabatan yang tinggi di kerajaan!" Ucap Chu Lei dengan bibir yang bergetar, meski dia berada di ranah raja bintang empat, tapi kini dia sedang sekarat, setelah menerima banyak serangan dari Ling Hua. Sekarang ada masyarakat yang membludak ingin menghukum, jelas dia tidak akan mampu untuk menahan ribuan pukulan yang datang.
"Itu adalah resiko atas keserakahanmu, aku tidak memerlukan tahta di kerajaan kecilmu ini, aku hanya ingin mengambil apa yang sudah lama aku cari" kata-kata Tang Rui begitu kejam, bagai jarum baja yang menusuk jantung Chu Lei.
"Kau!" Tunjuk Chu Lei. Namun Tang Rui tak peduli, dia kini menatap pemuda yang ada di bawah arena. Berdiri bersama ibunya.
"Salam selir Ling, aku sangat senang bisa mendapat kabar bahwa hari ini adalah hari untuk menggulingkan raja Chu Lei itu!" Seorang lelaki paruh baya dengan tombak serta perisai di tangannya menyapa, ada begitu banyak orang berdiri di belakangnya, dengan bendera yang terus berkibar ditiup angin. lalu dia menatap pemuda yang berdiri di samping selir Ling. "Aku tidak menyangka bahwa kau adalah seorang pangeran, aku akan menjadi pelindungmu" lelaki itu menepuk bahu Long Chu.
"Salam Tetua Zhi! Senang bisa bertarung bersama orang yang setia dengan Ayah!" Ucap Long Chu.
Dia sudah tahu bahwa dia adalah anak dari Ling Hua atau dewi obat, tapi dia tidak tahu bahwa dia adalah anak seorang raja. Karena Ling Hua tidak pernah menyinggung hal itu, hanya merencanakan balas dendam saja tapi tidak menyebut kepada siapa.
Sebuah serangan datang tanpa aba-aba. Shen Zhi Ran menahan dengan perisainya walau tetap terdorong kebelakang.
"Ibu! Apakah bisa menolong guruku?" Tanya Long Chu, sambil berdiri membelakangi Ling Hua.
"Baiklah, ibu akan membantunya sebisa ibu!" Sahut Ling Hua. Setelah selesai menyerap khasiat Pil yang sebelumnya dia telan tanpa sepengetahuan orang.
Ling Hua segera bergeser meninggalkan posisinya semula mendatangi Wen Hao dan membiarkan Long Chu dan juga Shen Zhi Ran bertarung bersama.
"Aku juga datang!" Sebuah suara hadir bersama serangan yang merepotkan walau tidak bisa membuat Tang Rui tertekan.
Dia adalah Patriark Ling Suan, setelah membuat Tang Rui mundur, dia melompat ke belakang lalu berkata "cucuku sudah besar!" Ucapnya langsung memeluk Long Chu.
Para prajurit kerajaan segera mengisi tempat itu, tempat yang pada awalnya menjadi ajang bergengsi untuk generasi muda, kini menjadi tempat pertarungan. Antara pihak Ling Hua dan pihak yang membantu Chu Lei mempertahankan kerajaan.
Sedangkan Chu Lei kini terpontang panting berlari dikejar rakyat….
Kilas balik, Hari dimana Long Chu berpisah dengan Tetua Wang..
Tetua Wang berjalan sendirian, di mendapat misi untuk mengawasi pertandingan dari Shen Zhi Ran dan keadaan ibukota sekarang. Serta mencari informasi tentang dewi obat.
"Mengapa kalian menghadangku?" Tanya tetua Wang dengan bersiaga. Dia dihentikan oleh dua wanita.
"Kami hanya penyampai pesan!" Salah satu berkata dari dua wanita matang yang berdiri di hadapan Tetua Wang.
"Pesan apa?" Tanya tetua Wang penasaran.
Salah satu dari dua wanita itu mengeluarkan gulungan dan melemparkannya kepada tetua Wang. "Sampaikan pesan ini kepada Shen Zhi Ran, dewi obat menanti kedatangannya!" kedua wanita itu langsung menghilang dari pandangan tetua Wang, setelah selesai berkata.
Tetua Wang tidak berani membuka, tapi dia segera pergi dari tempat itu dan pulang memacu kuda dengan kecepatan penuh, dia tidak lagi takut dengan hutan gelap. Sebab dia merasa sudah aman setelah pertarungan monster di hutan malam itu.
Hanya memerlukan setengah hari saja, tetua Wang sampai pada desa yang disembunyikan dari tempat umum itu.
Dia berlari menerobos pintu, hingga pintu hancur. Membuat yang di dalam terkejut.
Tetua Wang langsung memanggil Shen Zhi Ran, "tetua Zhi!" Panggilnya.
"Mengapa kau menghancurkan pintu rumah? Mengapa kau sudah pulang, bukankah baru satu hari kau pergi?" Shen Zhi Ran menatap dengan penuh tanya, kebetulan saat itu dia berada di ruang tamu dan sedang menyeduh kopi manis hitam.
"Ini ada pesan dari dewi Obat! Aku segera pulang setelah mendapatkannya" tetua Wang menyerahkan gulungan yang tak pernah disimpan di kantong penyimpanannya.
Tetua Zhi menyambut dengan perasaan yang berdebar. Segera dia menarik pita yang melilit gulungan itu dan membukanya lebar. Dia membaca sebuah rencana yang cukup matang. "Segera siapkan pasukan, kita akan berperang!" Ucap Shen Zhi Ran.
Tetua Wang langsung terkejut dengan ucapan dari Shen Zhi Ran.
"Cepat!" Shen Zhi Ran berkata lagi ketika melihat tetua Wang masih belum terkoneksi.
"Baik tetua!"
"Ini adalah awal kebangkitan raja baru" gumam Shen Zhi Ran sambil tersenyum...