
Keluhan semua orang terdengar ditelinga Raja Elf yang Agung. Ketika dia datang, semua orang memberi hormat dengan berlutut, hingga dia melewati mereka dengan lambaian tangan, barulah mereka bangkit dan mengikuti dari belakang. Sebagian orang yang sudah membludak mengelilingi pohon kehidupan memberikan jalan kepada Raja Elf yang agung agar bisa mengakses pohon kehidupan dengan baik.
Tiga orang yang ada di belakangnya terus mengikuti, rakyat tau siapa mereka dan memberi jarak yang cukup agar tiga orang itu tidak merasa sesak.
Sampai pada pohon kehidupan, pohon itu sangat lebar dan normal seperti pohon biasa pada umumnya yang ditemui di hutan. Pohon ini jelas berukuran raksasa dengan diameter lingkar pohon mencapai tujuh meter dan ketinggian mencapai dua ratus meter yang diperkirakan sudah berumur jutaan tahun, tidak ada yang tau spesifik tahunnya namun yang pasti sudah ada dalam cerita dari generasi raja Elf yang agung pertama.
Angin berhembus kencang dari dalam tanah yang terkadang sangat tajam kadang pula lembut.
Ada sebuah pintu yang dibuat agar bisa memasuki bagian bawah pohon itu, dan sekarang raja Elf yang agung tengah membuka segelnya menggunakan gerakan tertentu yang diajarkan turun temurun. Kemudian di mendorong pintu perlahan dan terbuka lalu memasukinya diikuti oleh tiga orang yang selalu ada mengikuti dari tadi.
Empat orang itu menuruni tangga setelah menutup akses pintu masuk. Dapat dirasakan hembusan angin yang menerpa mereka.
Mereka menuju ruang yang cukup luas dan terus berjalan hingga mencapai altar. Pada altar itu, ada dua benda yang melayang terikat oleh rantai,
Salah satunya sebuah kitab dengan motif garis-garis serta aksara kuno yang bertuliskan kitab cahaya, Itu adalah kitab yang sering dipelajari oleh petinggi-petinggi dari bangsa Elf dan benda satunya adalah bola transparan yang didalamnya angin beliung terus berputar. Sekarang bola itu bergetar dan mendengung seolah ingin lepas dari segel yang mengganggunya.
"Mengapa bola ini begitu gelisah hari ini? ini adalah pertama kalinya terjadi" kristal angin yang terbiasa tenang menjadi seperti itu, menjadikan keempatnya bingung.
Raja Elf yang agung menyentuh bola kristal itu namun tertolak dan harus terlempar tubuhnya, padahal dia berada pada ranah kaisar bintang satu. Ada suatu hal yang bisa melemparnya, artinya sesuatu itu memiliki kekuatan yang luar biasa hebatnya.
"Aneh, tidak biasanya bola kristal ini menolakku, dan sebenarnya apa yang bisa membuat Aura spiritual di pohon kehidupan ini menipis?" Gumam Raja Elf sambil berdiri mengusap dadanya, dia mengeluarkan lingkaran cahaya pada telapak tangannya sebagai penyembuhan.
Adelfo maju dan berkata, "apa kita tidak memeriksa pemuda yang dibawa sebelumnya, bisa saja dia penyebab dari fenomena ini! Dan kemungkinan lainnya bisa juga dia ingin mengambil dua benda pusaka kerajaan ini" Adelfo tersenyum mengatakannya sambil melirik Putri Airell pertanda menyatakan ketidaksukaan terhadap pemuda itu.
"Kau sepertinya benar, aku akan menggunakan persepsi Roh Cahaya untuk mencari jejaknya!"
Selesai bicara Raja Elf yang agung langsung menggunakan persepsinya untuk mencari arah kemana aura spiritual ini pergi, sebelumnya dia lupa untuk mencari tahu menggunakan persepsinya.
Semakin meluas hingga mencakup seribu meter pencariannya. Segera saja dia menemukan arah aura spiritual itu pergi.
"Aku sudah menemukannya" katanya menatap Airell "kumpulkan semua petinggi istana, kita akan mengadakan sidang!" Ucap Raja Elf menatap penatua Aelfar.
"Baik Raja!" Jawab Aelfar.
Semuanya pergi meninggalkan tempat itu setelah Raja Elf memberikan segel pada bola transparan itu agar tenang kembali.
Long Chu yang tidak mengerti tentu saja bingung, karena dia di ajak ke tempat ini hanya untuk singgah dan berkunjung, tau-taunya malah seperti ini. 'Apa aku akan ditangkap tanpa tahu kesalahan?' Batinnya, Long Chu menghela nafas, rasa penyesalan muncul di pikirannya karena mengikuti suku telinga runcing itu.
"Kau jangan melawan" kata prajurit itu dalam bahasa mereka. Tentu Long Chu tidak mengerti apa yang dikatakan oleh prajurit itu, tapi dia memberikan anggukan kepala. Dia berjalan namun tangannya dipelintir ke belakang, jelas dia tidak mau jika diperlakukan kasar.
Dia pun menendang prajurit itu hingga tersungkur ke tanah, karena Long Chu langsung menendang kantong ajaib milik prajurit itu.
Aarg!
Melihat kawannya di ciderai, prajurit yang lain langsung bertindak. Sembilan lainnya bergerak cepat mengepung Long Chu dalam kediaman penatua Aelfar. Kamar sempit itu langsung sesak namun hanya berselang beberapa tarikan nafas saja, suara teriakan kesakitan patah tangan serta kaki terdengar dari dalam kamar.
Long Chu tidak membunuh mereka, hanya mematahkan tangan serta kaki saja, jika dia ingin berperilaku kejam. Maka, dapat dipastikan sepuluh orang itu mati dengan cepat.
Selang detik selanjutnya, banyak orang datang ke tempat itu karena mendapatkan sinyal, rupanya sebelum menyerang salah satu dari sembilan orang itu memberikan sinyal bahwa orang yang akan ditangkap melawan.
Raja Elf memimpin beberapa orang petinggi dari istana kerajaan untuk melihat pemuda yang berani sekali mengganggu ketenangan kotanya. Dia menatap rendah pemuda yang kini berjalan sendirian di tanah lapang halaman kediaman Penatua Aelfar.
Long Chu menengadah, dia memang tidak bisa terbang, mengharuskannya mendongakkan kepala untuk melihat beberapa orang yang menatapnya seolah semut kecil.
"Biarkan aku yang mengajarkan sopan santun ketika berada di tempat orang lain!"
Orang itu langsung turun ke tanah dan menyerang Long Chu dengan kekuatan Raja bintang bintang empat, dia sangat yakin bahwa mudah baginya untuk mengalahkan pemuda lemah yang bahkan tidak bisa terbang. Dan diapun melihat bahwa ranah pemuda itu hanya pada pendekar Raja bintang dua,
Long Chu memang memanipulasi kembali ranahnya, tidak rendah dan juga tidak menunjukan aslinya.
Wush! Kibasan tangannya mengeluarkan cahaya yang menyilaukan mata Long Chu, membuat dia merasakan ancaman yang nyata terhadap matanya, teknik itu cukup efektif untuk mengganggu pandangan lawan.
Akan tetapi, kesalahan petinggi istana itu ialah meremehkan Long Chu. Long Chu memejamkan matanya dan mengeluarkan api pada telapak tangan untuk mengurangi, ketika matanya terbuka. Petinggi kerajaan itu sudah tidak ada lagi di hadapannya.
Petinggi itu mundur karena merasakan hawa panas yang menyengat tubuhnya, jika dia tidak mengantisipasi, mungkin saja tubuhnya akan melepuh dan yang lebih parah akan terbakar oleh api yang keluar dari anak muda itu.
"Tunggu panglima! Jangan menyerang lagi. Dia tidak memancarkan aura buruk seperti Para Orc dan iblis. Sepertinya dia berasal dari bangsa manusia, konon katanya bangsa manusia itu sangat baik. Mohon izinkan aku bertanya. Aku sudah lama mempelajari bahasa manusia namun tidak ada lawan bicara!" Kata penasehat kerajaan.
"Apa kau yakin penasehat? Dari Mana pula kau belajar bahasa manusia?" Ucap Panglima kerajaan itu....