Legenda Long Chu

Legenda Long Chu
Kembali ke Hutan





"Ak


"Aku akan pergi besok!" Kata Long Chu, dia kini duduk di bawah cahaya rembulan di taman. Ada seorang wanita yang cukup cantik menemaninya menatap rembulan.


"Mengapa begitu cepat, tidak bisakah kita untuk bersama dalam waktu yang lama?" Kini Subing mengalihkan tatapannya ke samping, dimana lelaki tampan masih memandang satu rembulan yang indah. "Aku menyukaimu!" Ucapnya, walau berat mengatakannya, tapi lebih berat lagi jika dipendam, setelah itu mungkin akan lebih baikan pikirnya.


Long Chu mendengar namun dia masih bergeming, tidak berkata untuk waktu yang lama. Kemudian memejamkan mata, dua tarikan nafas berlalu dia menjawab.


"Aku tidak tau kemana arah kakiku akan melangkah, dan juga ada musuh kuat yang harus aku hadapi, suatu saat pasti akan bertemu dengan musuh itu, aku harus secepatnya menjadi kuat agar bisa melindungi semua orang terdekatku, saat itulah mungkin aku akan memikirkan urusan cinta, aku hanya tidak ingin orang baik berakhir mati ditangan musuh hanya karena aku tidak mampu menjaga mereka, jadi untuk saat ini aku harus terus berlatih dan mencari kekuatan. Aku harap kau mengerti Subing!"


"Aku akan menunggu hari itu tiba Kak Chu! Dan aku juga akan berlatih hingga menjadi sangat kuat dan bisa bertarung disisimu, meskipun saat ini aku masih lemah, namun tidak menutup kemungkinan suatu hari aku akan mendapatkan keberuntungan yang bagus!" Shen Subing menghilangkan kesedihannya dan menguatkan hati untuk tidak terlena. Ini adalah motivasi yang akan selalu dipegang olehnya.


"Terima kasih atas pengertianmu!" Kata Long Chu, kali ini dia menatap Shen Subing dengan mata yang lapang. "Istirahatlah! Ini sudah terlalu larut malam!"


"Tidak bisakah aku bersamamu malam ini hingga matahari muncul?"


"Terserah saja!" Kata Long Chu yang tidak ingin berdebat, dia kini menengadah kembali melihat rembulan. Lalu mendelikkan matanya ketika Shen Subing menyandarkan kepala di bahunya. Namun tidak ada kata yang keluar setelah itu hingga Shen Subing tertidur disana.


Mentari selalu setia memberi cahaya untuk semua makhluk yang hidup di dunia. Tidak ada yang tidak ingin mendapat cahaya matahari, karena itu menyehatkan ketika sinar kuning itu memasuki tubuh..


Long Chu yang tidak tidur semalaman karena menjaga Shen Subing agar tidak jatuh ke tanah, membuka mata pula dari meditasinya. Dia menatap wanita yang lebih tua darinya beberapa tahun itu, sekarang Shen Subing tidak sadar bahwa dia dipandang dengan lekat. Keberadaan kepalanya yang sekarang di paha Long Chu memudahkan itu. Ketika dia tersadar pun dia tetap pura-pura, dia masih ingin berlama-lama bersama walau sudah tahu akhirnya akan berpisah jua.


Setelah cukup lama dalam keadaan itu, Shen Subing bangun lalu memberikan kecupan "kau harus berjanji untuk tidak pergi lama!"


"Mana bisa begitu, doakan saja aku mendapat keberuntungan surga hingga mencapai ranah pendekar puncak dunia" ucapnya sedikit tertawa. "Aku akan pamit kepada ibu lebih dulu!" Tambah Long Chu sambil melambaikan tangan.


'Sepertinya takdir akan membawaku dikelilingi oleh banyak wanita, jika aku melakukan hal yang dikatakan oleh naga mesum itu, pasti akan cepat naik ranah. Tapi hal seperti itu kurasa tidak menjadi etik dalam kultivasi' gumam Long Chu.


Langkah kaki anak muda itu kini memasuki desa pertama dari ibukota yang mengarah ke jalan Kota Xiao, dimana Klan Ling berada, mengapa dia memilih jalan sana, karena itu adalah akses jalan menuju hutan ketika dia dilahirkan dan dibesarkan.


Desa pertama itu adalah desa Louping, itu satu-satunya jalan yang akan terbagi menjadi dua jalan jika bertemu persimpangan menurut denah, salah satunya menuju Kota Xiao dan jalan satunya menuju arah kerajaan Lei. Dan yang harus diambil Long Chu tentunya arah menuju kota Xiao, jalan itu juga yang nantinya terhubung menuju Sekte Fajar Senja.


Long Chu memasuki desa yang cukup ramai itu, karena terbilang masih dekat dengan ibukota. Jadi banyak orang yang berlalu lalang.


Dia mampir di sebuah Resto hanya untuk mengganjal perut dan mendengarkan informasi gratis yang akan selalu ada.


Duduk sendirian, Long Chu memesan ayam bakar madu dengan minuman yang segar lagi menyegarkan es teh manis.


Menanti makanan tiba, dia menajamkan pendengarannya. Namun cukup lama mendengarkan hanya ada informasi tidak terlalu penting buatnya, misalnya permasalahan keluarga, tentang cerita dirinya yang masih muda tapi sudah sangat kuat dan berbagai hal yang sebenarnya tidak begitu penting.


Kebetulan makanan tiba, Long Chu menyantap makanan yang begitu harum dan wangi. Segera dia mematahkan paha ayam tersebut, Long Chu memang suka pada paha ayam, menurutnya itu adalah bagian ternikmat dari ayam, tapi dada juga tidak masalah. Karena disana lebih banyak daging dan teksturnya juga lebih lembut.


Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memakan hidangan itu, Long Chu membayar dengan sejumlah koin perak dan pergi dari tempat itu.


_


Long Chu memasuki hutan pada malam hari, hutan itu sudah biasa dilewatinya dan sangat akrab dahulu. Hanya saja sewaktu hidup dengan nenek Zhou dia tidak pernah pergi keluar dari Hutan. Itu memang larangan yang diberikan kepadanya, sekalipun bisa keluar dari hutan itu sendirian, Long Chu kecil tidak pernah melanggar aturan yang diberikan kepadanya.


Terus masuk lebih dalam, dia mengingat dimana dia pertama kali melawan harimau yang besar, waktu itu umurnya masih tujuh tahun. Ada banyak luka di sekujur tubuhnya, jika bukan nenek Zhou datang tepat waktu, mungkin dia akan mati di mangsa oleh harimau tersebut.


Dan setelahnya dia terus berani melawan binatang yang jelas lebih lincah serta lebih kuat dan besar dari tubuhnya, hal itu dianggapnya sebagai latihan, ada yang berhasil di bunuh, ada pula dimana dia harus lari dan meminta bantuan lagi kepada Nenek Zhou.


Nenek Zhou ini, tidak juga begitu kuat dalam bertarung, namun dia menguasai keahlian racun yang cukup kuat. Maka dari itu dia bisa meracuni binatang lewat udara sehingga mengurangi daya gerak dan mudah dilumpuhkan. Tapi sayangnya Long Chu tidak mendalami tentang itu. Namun dia lebih mendalami hal pengobatan.


Long Chu menatap dimana ada gundukan tanah dan batu yang terukir dengan nama Zhou. Dia menurunkan lututnya dan bersujud.


"Nek! Tenanglah di surga, aku sudah hidup cukup nyaman sekarang!" Long Chu terus bercerita di atas kuburan Nenek Zhou, mengatakan banyak hal tentang kehidupannya sekarang yang cukup terjamin…